Bos Badir Meradang (2)

Sambungan dari Bos Badir Meradang (1)

Negara Paman Sam boleh berang terhadap Osama. Namun keberangan itu haruslah disesuaikan dengan bukti-bukti yang ada. Janganlah menjadikan keberangan itu menimbulkan kerugian yang akan menambah masalah baru bagi insan-insan yang tidak berdosa. Insan-insan yang hanya mengetahui perjuangan hidup untuk dapat makan sehari-hari dan penghidupan yang layak. Ya, hidup yang layak seperti aku. Tidak menjadi masalah bila kepolisian menuduhku sebagai otak di belakang kasus pengeboman BEJ dan Atrium Senen. Tetapi sekali lagi, apakah layak jika tuduhan itu berlebihan dan memporak-porandakan kehidupanku? Tidak!

“Bagaimana dengan penyelidikan yang kamu lakukan selama ini, Paijo?” tanyaku sambil menuangkan scotch ke dalam sloki.
“Hampir berhasil, Bos.”
“Hampir berhasil bagaimana!?” hardikku.

Continue reading “Bos Badir Meradang (2)”

Advertisements

Bos Badir Meradang (1)

Kehidupan baru saja lahir
: hanya begitu saja
Telur dahulu
atau anak ayam dahulu?

Awalnya aku adalah orang yang miskin. Lahir dari sebuah keluarga yang tergolong elit (baca: ekonomi sulit) dan tinggal di kawasan yang terbilang kumuh, tepatnya di bagian utara Jakarta. Karena berawal dari keadaan di bawah roda kehidupan, akhirnya kepribadianku terbentuk secara alami untuk mengatasi hal-hal yang selalu terjadi pada rakyat kecil. Aku jadi tidak gampangan cengeng, menyukai kekerasan, dan berusaha mendapatkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara. Namun itu semua sudah kurasakan seiring terkurasnya keringat dan darahku. Episode masa lalu yang tidak perlu diingat-ingat, apalagi melihat keadaanku yang sudah berubah drastis saat ini. Tetapi perlu diingat, bahwa walaupun aku sudah tergolong eksekutif, kepribadianku masih tetap seperti yang dulu. Dingin dan kejam.

Continue reading “Bos Badir Meradang (1)”

Kata Sifat dan Kata Keterangan

Salam, mari kita bahas kalimat pertama cerpen Anda, “Jeritan di Tengah Malam”.

Sinar bulan keperakan menerobos naungan hijau tebal yang terbentuk dari ranting pepohonan jati tua dan dengan lembut menotoli monumen marmer yang seabad umurnya itu, yang berdiri dengan sedih dan terbuang di sudut terpencil pekuburan sunyi.

Anda menulis kalimat tersebut karena Anda ingin menata adegan dan menciptakan suasana bagi cerpen yang akan Anda kisahkan. Anda berusaha melakukan apa yang dilakukan musik pada bagian pembuka sebuah film. Akan tetapi, kalimat Anda kekurangan vitalitas; ada yang menahan ia meraih kehidupan. Nyawa seluruh kisah sebenarnya terancam oleh kata sifat (keperakan, tebal, hijau, tua, seabad umurnya, sedih, terbuang, terpencil, sunyi). Kisah ini sudah berisiko sejak awal karena kata-kata sifat (adjektiva) itu mengambil alih kendali tulisan, mengaburkan pandangan Anda dari apa yang ingin Anda uraikan.

Continue reading “Kata Sifat dan Kata Keterangan”

Cerita Cinta

Kata-kata lembut yang kita katakan kepada pasangan kita tersimpan
di suatu tempat rahasia di surga: Pada suatu hari,
mereka akan berjatuhan bagaikan hujan, lalu tersebar,
dan misteri cinta kita akan tumbuh bersemi di segala penjuru dunia.
(Jalaludin Rumi)

Sepatu yang sedikit basah kuletakkan di atas rak. Tepat saat aku menutup pintu, hujan kembali mengguyur bumi. Aku bersyukur karena tubuhku tidak basah olehnya. Tuhan memang telah mengatur semuanya. Kutatap ruangan yang terasa lengang ini. Kuhirup nafas dalam-dalam. Ruangan cintaku. Aku semakin tenang, apalagi cintaku masih menungguku di dalam kamar itu. Ya, istriku adalah cintaku.

Continue reading “Cerita Cinta”

Cinta Sepasang Angin

Mungkin kita hanya bisa bilang bahwa rumah megah dengan segala artistiknya itu adalah saksi. Alam pun bisa dijadikan sebagai saksi. Tapi siapa yang mau peduli? Dan begitulah kisahnya. Sang Maha telah menggariskan sesuatu tanpa seorang manusia pun tahu kalau hal itu sudah digariskan. Alam sebagai salah satu makhluk-Nya pun hadir hanya sebagai penambah artistik kehidupan manusia, sang khalifah bumi. Dan sekali lagi, inilah hidup.

Sebuah pasar, tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Selalu menawarkan keramaian yang mewarnai kehidupan manusia, bergerak, bergelombang, dan bersaing. Sangat ketat. Nilai-nilai bisa menjadi pajangan, tetapi bisa juga mendapatkan tempat yang amat mulia.

Continue reading “Cinta Sepasang Angin”

Sang Wajah Pelangi

Prolog: Cerita ini terdiri dari tiga bagian terpisah. Bagian pertama telah ditulis oleh Husfani A. Putri dan kemudian dilanjutkan oleh Marsita Ariani. Dan cerita di bawah ini adalah penyempurna dari dua cerita sebelumnya. Selamat menikmati….

Rembulan pernah berbisik pada angin
Mengabarkan pada takterhingga gemintang
Menyapa matahari dengan wajah kelam
Tentang pelangi yang kehilangan warna
Dan akulah sang pelangi itu ….

Sunyi. Hanya kesunyian pada akhirnya. Dan di sudut malam itu aku menangis. Menangis yang sebenarnya. Lalu, ingin kukabarkan semua penyesalan pada jagad takbertepi ini. Bersama kemarahan tersembunyi. Hanya aku. Ya, hanya aku seorang. Benar-benar sunyi.

Continue reading “Sang Wajah Pelangi”

Pelarian yang Entah

Aku terus berlari. Tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang. Mereka tidak tahu apa yang terjadi padaku. Dan aku yakin kalau mereka juga tidak peduli. Biarlah dunia ini menjadi milikku dan mereka. Tetapi duniaku terpisah dari dunia mereka.

Aku menjerit. Dialog batinku berakhir pada kata ‘Mama’. Mama tidak boleh tahu. Tidak boleh! Aku menangkupkan diri pada badan jalan. Menangis dan meratap. Orang-orang berhenti. Bertambah ramai. Dan berkerumun. “Apa!” teriakku pada mereka. Aku berdiri dan berlari lagi. Menyeruak dan memukul, agar bisa diberi jalan. Terus berlari. Sejauh-jauhnya.

Continue reading “Pelarian yang Entah”

Akhirnya, Buku ke-45!

Bagi seorang penulis, mencatat buku-buku  yang sudah ditulis adalah hukumnya wajib. Dengan begitu, sejarah kepenulisan kita akan tercatat dengan rapi dan bahkan bisa masuk dalam sejarah kepenulisan seperti Mas Ali yang sudah membukukan karyanya sebanyak 300 buku anak sehingga tercatat di MURI sebagai penulis buku anak terbanyak. Begitu pula dengan Kang Arul yang sedang menuju buku ke 200. Sedangkan saya? Ternyata masih jauh di bawah mereka.

Dengan serius tapi santai, saya pun mulai mencari data-data tentang buku saya sehingga akhirnya didapatkanlah angka 45. Ya, saya baru menulis 45 buku yang terdiri dari 7 antologi cerpen, 3 kumpulan cerpen, 1 komik, 1 novel, 4 cerita anak, 4 antologi non fiksi, dan 25 non fiksi. Tolong dicatat bahwa ini adalah jumlah buku yang sudah diterbitkan sehingga bisa dicari keberadaannya di toko-toko buku. Apabila sobat baraya melihat adanya antologi cerpen dan kumpulan cerpen, ini hanyalah untuk membedakan bahwa antologi adalah buku yang ditulis tidak hanya oleh saya tetapi juga bersama teman-teman yang terlibat. Begitu pula dengan antologi non fiksi, dimana saya pernah menulis bareng Ust. Fauzil Adhim, Shahnaz Haque, Okky Asokawati, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, bahkan Habiburahman El-Shirazy. Di luar itu, masih ada beberapa nama yang cukup dikenal terutama dari kalangan FLP (Forum Lingkar Pena) atau bahkan kalangan sastrawan seperti Teguh Winarsho, Irwan Kelana, dan Isbedy Stiawan.

Continue reading “Akhirnya, Buku ke-45!”