Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler

BANDUNG – Siang itu begitu terik, tangan-tangan terangkat ke atas, menutupi sebagian wajah. Beberapa orang lebih memilih mencari bayang-bayang terdekat. Pepohonan, bangunan, atau bahkan bus Bandros yang terparkir tepat di depan Hotel Grand Preanger. Meski begitu, mayoritas peserta Asian Africa Carnival 2017 tetap menunjukkan sikap semangat dan murah senyum saat beberapa kamera mengarah pada mereka. Termasuk bocah kecil berusia tujuh tahun dengan pakaian khas tradisional Jawa dengan simbol Pakualaman di dadanya, tetap semangat dan murah senyum menyapa siapa pun yang ditemuinya. Termasuk tidak sungkan diajak foto bersama di bawah matahari yang sinarnya begitu panas menyengat kulit.

Continue reading “Asian Africa Carnival 2017 yang Spektakuler”

Advertisements

Generasi Pesona Indonesia atau GenPI

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) adalah sebuah komunitas yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia. GenPI merupakan pengejawantahan dari program promosi wisata “go digital” yang tengah gencar dilakukan oleh Kemenpar sebagai salah satu strategi pemasaran pariwisata Indonesia. Anggota GenPi terdiri atas anak-anak (berjiwa) muda yang selama ini aktif melakukan promosi pariwisata melalui media sosial seperti blog, facebook, twitter, instagram, path, dan lain lain. Karena fokus promosi dalam dunia digital maka anggota GenPi sering dijuluki “Laskar Digital Merah Putih”. Sosok itu sendiri menjelaskan arti lain GeNPI sebagai Gerakan Nusantara (untuk) Pariwisata Indonesia.

Continue reading “Generasi Pesona Indonesia atau GenPI”

Yuk, Santai di Pantai Ambon (Tulisan 1)

Takpernah terlintas dalam pikiran bahwa sosok itu akan bisa menjejakkan kaki di Indonesia bagian timur. Mungkin belum sampai berdiri di ujung paling timur, tetapi paling tidak Pulau Ambon adalah titik pertama saya bisa menyesap udara di pulau yang pertama kali melihat matahari terbit, dua jam sebelum akhirnya bisa disaksikan oleh warga Jawa Barat.

Mengenal Ambon sudah pasti harus mengenal Maluku. Mengenal Maluku, tentu harus mengenal salah satu pahlawannya yang terpampang pada pecahan uang seribu rupiah. Di luar pro kontra agamanya apa, Kapiten Pattimura adalah pahlawan nasional yang berhasil mengusir penjajah dari Pulau Ambon, jauh sebelum pertempuran dahsyat di Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Menurut cerita seorang kawan di Ambon, Pattimura bahkan membuat penjajah tidak bisa merapatkan kapalnya di pantai. Hampir seluruh kapalnya karam dan meninggalkan warna laut yang berubah menjadi merah karena darah. Beliau hanya menyisakan anak-anak dan perempuan untuk tetap hidup.

Mengapa Maluku begitu membuat banyak penjelajah dunia terkesima sehingga bersusah payah untuk didatangi? Tidak hanya penjajah dari Eropa, para pedagang Gujarat pun sering mampir. Hal itu tidak lain karena rempah-rempahnya yang begitu melegenda. Sebut saja cengkeh, pala, dan lada hingga Maluku dikenal sebagai ‘spice of islands’. Rempah telah menjadi saksi perkembangan dan pasang surut peradaban bangsa Indonesia, khususnya Maluku. Kuliner, pengobatan, ritual, dan bahkan bahan pengawet menggunakan rempah-rempah. Bisa jadi, inilah yang menyebabkan Ambon tidak memiliki kuliner yang kaya rempah karena hasil buminya tidak boleh dikonsumsi secara pribadi dan langsung diambil oleh orang luar.

Meski begitu, Ambon tetap layak menjadi tujuan wisata. Papeda, ikan asap, maupun sukun goreng dengan sambal khasnya selalu dirindukan oleh para wisatawan. Kekayaan baharinya jangan ditanya. Sosok itu meski saat ini berdomisili di Bandung namun masa kecilnya dihabiskan di tepi pantai Jakarta. Dia sering bermain dengan anak-anak nelayan dan karena itulah kulitnya makin menghitam sehingga berbeda dengan mayoritas saudara-saudara kandungnya. Jadi kalau ke Ambon, jangan lewatkan wisata baharinya. Namun kalau waktunya sekejap dan dananya terbatas, buang jauh-jauh rencana wisata ke Pantai Ora, Sawai, atau Banda Neira yang letaknya memang jauh dari Bandara Pattimura plus berbiaya mahal. Cukuplah berkeliling di Pulau Ambon dan sila menikmati keindahan pantai yang sudah jarang ditemukan di Pulau Jawa dengan harga yang masih bersahabat dan tidak terlalu jauh dari bandara.

GENERASI PESONA INDONESIA

Berbicara soal Ambon, sudah pasti akan bersinggungan dengan beberapa artis penyanyi yang memiliki darah sana. Jumlahnya pun tidak bisa dibilang sedikit. Harvey Malaiholo, Ruth Sahanaya, Glenn Fredly, dan lain-lain hingga amat wajar kalau kota Ambon pun memiliki julukan sebagai City of Music. Tulisan raksasa itulah yang menyambut sosok itu di Negeri Hatiwe Besar setelah keluar dari bandara, lalu menyisir Teluk Ambon melewati Jl. Dr. J. Leimena dan Jl. Ir. M Putuhena hingga akhirnya bertemu dengan Jembatan Merah Putih. Jembatan yang diresmikan pada April 2016 ini telah menjadi ikon kota Ambon dan mempersingkat perjalanannya dari Bandara Pattimura menuju pusat kota Ambon. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dia meminta izin pada sopir untuk berhenti sejenak dan berfoto sejenak di atas jembatan.

Julukan kota musik memang tepat karena sopir mobil yang dinaiki langsung memutarkan beberapa lagu khas Ambon dengan bangga. Di beberapa jalan kota juga sering ditemui karaoke dan restoran/kafe yang menyajikan pertunjukan musik. Kalau ditanya pada warga Ambon, pasti mayoritas akan menjawab, “Beta paling suka menyanyi.” Pantas saja. Oya, perlu diketahui bahwa Ambon adalah kota yang panas, dengan banyak jalan satu arah dan diisi oleh angkot, becak, dan tentu saja motor. Sosok itu menyempatkan diri untuk naik becak, paling tidak merasakan suasana kotanya. Tempat pertama yang dituju adalah sudah pasti penginapan yang telah di-booking jauh-jauh hari sebelumnya, minimal buat menyimpan barang berat, meluruskan badan, dan menyegarkan badan setelah penerbangan jauh plus melelahkan.

Beres dari Hotel Ammans alias Ambon Manise, sosok itu langsung bergegas ke Hotel Amaris karena di sanalah calon-calon kawan baru dari Maluku akan bersua. Siang hingga malam adalah acara teoretis tentang dunia pariwisata. Jujur, sejak berkenalan dengan orang-orang Kementerian Pariwisata dirinya makin cinta pada Indonesia. Ada banyak hal yang awalnya tidak tahu jadi lebih tahu bahwa pariwisata itu harus begini dan begitu. Paling tidak sekarang jadi lebih aware untuk memajukan pariwisata Indonesa dan mengajak sebanyak-banyaknya kawan untuk mencintai dunia traveling. Dia kemudian semakin dekat dengan Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) yang menurutnya bisa juga berarti Gerakan Nasional (untuk) Pariwisata Indonesia. Dan malam itu, terpilihlah secara voting Koordinator GenPI Maluku, yaiu Glenn Huibb Wattimury.

Keesokan harinya bertemulah (kembali) sosok itu dengan kawan-kawan baru dari Maluku di Lapangan Merdeka Ambon yang sedang berlangsung pameran sebagai bagian dari Hari Pers Nasional 2017. Ada banyak stand di sana dan berisi banyak informasi berharga tentang Ambon dan Maluku. Di sana pula dia bisa bertemu Mas Didik, blogger paling aktif dari Bojonegoro, termasuk berfoto bersama dengan kawan-kawan Kompasianer Amboina. Saat siang bergeraklah rombongan kawan-kawan baru menuju Kole-Kole, sebuah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari Lapangan Merdeka. Di sanalah dia bisa merasakan sukun goreng yang dicocol sambal setelah sebelumnya mencicipi pisang goreng dicocol sambal semalam. Unik. Menu lainnya yang dicoba adalah Mie Kuah Cakalang dan Sate Tuna. Semuanya serba ikan. Yummy!

Perut kenyang, sosok itu bersama lima orang kawan bersiap naik 3 motor. Dia bersama Frenda, Olnes bersama Makmur (GenPI Aceh), dan Rey bersama Mbak Jhe (GenPI Lombok Sumbawa). Yang disebutkan paling belakang adalah yang dibonceng. Tiga motor langsung meninggalkan Kole-Kole, melaju ke arah barat menembus jalan beraspal yang masih mulus. Pertama menyusuri Jl. Dr. GA Siwabessy dan Jl. Nona Saar Sopacua yang masih terbilang padat karena masih bagian dari kota Ambon, setelahnya memasuki Jl. Dr. Malaihollo yang mulai sepi. Petualangan pertama bersama kawan-kawan Ambon akan segera dimulai, dan tempat pertama yang dituju adalah Pintu Kota.

MENYESAP SUNYI DI PINTU KOTA

Bagi yang sudah tahu, tentu amat mengenal Museum Negeri Siwalima, sebuah museum yang tidak boleh dilewatkan kalau berkunjung ke Ambon. Selain peninggalan budaya, museum ini juga menampilkan rangka ikan paus berbagai ukuran. Nah, rombongan pun melewati museum tersebut di ujung Jl. Dr. Malaihollo, tepatnya di Taman Makmur, Negeri Amahusu, Kecamatan Nusaniwe, yang berjarak sekira 5 km dari pusat kota. Setelah itu barulah mereka menyisir pantai Teluk Ambon di Jl. Amanhuse, sampai kemudian bertemu dengan jalan berkelak-kelok, naik-turun, karena melewati perbukitan ke arah selatan. Pintu Kota terpampang di pantai selatan Pulau Ambon yang langsung berhadapan dengan Laut Banda, tepatnya di Negeri Airlouw, Kecamatan Nusaniwe.

Pintu Kota memiliki keunikan berupa karang besar yang memiliki lubang besar di tengahnya. Lubang itulah yang dianggap sebagai ‘pintu’ oleh warga sekitar. Pantainya sendiri juga memiliki banyak karang sehingga setiap pengunjung harus berjalan berhati-hati. Bagi yang belum menyadari, posisi tempat parkir motor berada tepat di atas pintu tersebut sehingga pengunjung harus bersusah payah menuruni tangga yang curam. Sudah dapat dibayangkan bagaimana melelahkan saat pulangnya nanti. Meski begitu, kondisi Pintu Kota yang sepi memberikan nuansa yang menenangkan. Para pecinta sunyi akan betah berlama-lama di sini, apalagi jika didukung oleh cuaca yang cerah. Dari tempat parkir saja, dia sudah disuguhi oleh pemandangan Laut Banda yang begitu luas. Sedangkan bagi yang suka menyelam, ada spot bagus dengan pemandangan terumbu karang yang luar biasa. Perjalanan normal selama satu jam dan biaya parkir sebesar Rp10.000 per motor seolah-olah tergantikan dengan lunas.

Hujan gerimis turun begitu saja, memaksa mereka yang sedang asyik berfoto di Pintu Kota langsung bergegas meninggalkan pantai dan berteduh di sebuah saung yang memang ada. Sambil menunggu, mereka memesan kelapa muda yang perbutirnya dihargai Rp12.000 sambil makan dodol Garut yang memang sengaja dibawa dari Bandung. Pastinya Olnes, Rey, dan Frenda merasa exciting bisa merasakan makanan khas Jawa Barat. Taklama Olnes turun ke laut dan menyelam, bukan snorkeling karena ombaknya tidak tenang. Penasaran dengan apa yang ada di bawah laut di Pintu Kota, sosok itu turut serta menyusul. Ada banyak karang tajam dan ombaknya besar. Ada rasa jerih di awal dan sempat ragu, namun rasa itu menghilang bak pasir ditiup angin hanya karena rasa penasaran yang begitu besar. Dia pun langsung berenang dan akhirnya setelah di tengah langsung menyelam. Indah. Luar biasa. Pengalaman yang takakan pernah dilupakan. Meski ombaknya besar, dia merasa puas dan sekaligus belajar bagaimana menyelam yang baik di lautan.[]

Baca juga tulisan keduanya ya…. ^_^

Blogger vs Pariwisata Halal Indonesia

: Ngeblog hanyalah sebuah alat, satu dari sekian banyak media, yang bisa digunakan untuk mengubah dunia atau hanya sekadar menunjukkan apa hobi dan makanan kesukaanmu. (Bang Aswi)

We Are Social (Januari 2016) merilis bahwa pengguna internet dunia saat ini sudah mencapai 3,419 miliar jiwa dan yang aktif di media sosial ada 2,307 miliar jiwa. Dari jumlah itu, platform teratas yang sering dipakai adalah Facebook dan WhatsApp. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dengan jumlah penduduk sebesar 259,1 juta jiwa, ternyata yang sudah melek internet baru 88,1 juta jiwa dan yang aktif bermedia sosial ada 79 juta jiwa. Dan … platform teratas yang sering dipakai di Indonesia adalah BBM. Setelahnya baru Facebook dan WhatsApp. Kalau fokus pada FB saja, pengguna terbanyak adalah pada rentang usia 20-29 tahun. Yang kedua pada rentang usia 13-19 tahun. Kalau dari jenis kelamin, mayoritas masih dipegang laki-laki. Tanya kenapa?

Itulah beberapa data yang sosok itu sampaikan di acara “Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial” pada hari Sabtu, 6 Agustus 2016, di The Green Forest Resort. Dia mewakili blogger yang alhamdulillah dipercaya oleh Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia sebagai mitra untuk memajukan pariwisata Indonesia, khususnya yang berlabel halal. Nah, kenapa juga dengan kehalalan wisata? Apakah berarti ada juga wisata haram? Ini sih kata salah seorang blogger yang langsung nyahut saat mendengar istilah ‘wisata halal’ hehehe…. Oya, data pada paragraf pertama itu penting dibeberkan untuk menunjukkan bahwa pengguna internet terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan tiada hari tanpa berinternet, baik menggunakan PC atau smartphone. 43% masyarakat Indonesia sudah menggunakan smartphone dengan rata-rata pemakaiannya adalah 3 jam 33 menit setiap harinya, lho.

Produk-30

PARIWISATA HALAL DI INDONESIA

Baik, sekarang kita fokus pada pariwisata Indonesia, khususnya wisata syariah atau wisata halal. Pariwisata Halal merupakan tujuan wisata baru di dunia saat ini. Utilizing the World Tourism Organization (UNWTO) menunjukkan bahwa wisatawan Muslim mancanegara berkontribusi 126 miliar dolar AS pada 2011. Jumlah itu mengalahkan wisatawan dari Jerman, Amerika Serikat dan Cina. Menurut data Global Muslim Traveler, wisatawan Muslim Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang paling banyak berwisata. Namun pada 2014, Indonesia tidak termasuk dalam 10 tempat destinasi kunjungan Muslim. Oke, kita lihat dua tahun kemudian.

Potensi wisata halal ini sangat terbuka, baik potensi Indonesia sebagai destinasi wisata halal maupun potensi wisatawan asing yang akan datang ke Indonesia. Jumlah umat Islam dunia saat ini mencapai 1,7 miliar jiwa dan mereka ternyata lebih nyaman jika berwisata ke daerah dengan predikat wisata halal. Mengapa menyasar wisatawan Muslim? Thomson Reuters dan Dinar Standar mengeluarkan data bahwa belanja Muslim dunia untuk wisata halal pada 2012 mencapai 137 miliar dolar AS. Angka itu pada 2018 diperkirakan akan naik menjadi 181 miliar dolar AS. Global Muslim Travel Index 2015 juga menyebutkan segmen wisata Muslim memiliki nilai 145 miliar dolar AS dengan jumlah 108 juta wisatawan Muslim. Angka tersebut diprediksi akan naik menjadi 150 juta jiwa pada 2020 dengan nilai pasar 200 miliar dolar AS.

Inilah yang digenjot Kemenpar untuk menaikkan pamor Indonesia yang sudah kadung dikenal sebagai negara mayoritas Muslim. Pada ajang The World Halal Travel Summit/Exhibition 2015 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yang diikuti 200 negara yang melombakan 14 kategori itu, Indonesia berhasil membawa pulang tiga kategori, yakni World’s Best Halal Tourism Destination (Pulau Lombok), World’s Best Halal Honeymoon Destination (Pulau Lombok), dan World’s Best Family Friendly Hotel (Hotel Sofyan Jakarta). Atas prestasi tersebut, Indeks Wisata Muslim Global MasterCard-CrescentRating (GMTI) 2016 memasukkan Indonesia sebagai negara keempat terpopuler yang dikunjungi wisatawan Muslim dunia. Indonesia berhasil naik dua peringkat dan menempati posisi keempat dunia setelah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Turki. Coba bandingkan dengan dua tahun lalu. Pulau Lombok pun kini sudah makin terkenal.

Tidak hanya Lombok, Bandung dan Jawa Barat pada umumnya juga harus diperkenalkan. Bu Katijah, Kepala Bidang Target Pasar yang mewakili Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, memaparkan bahwa Jawa Barat terpilih untuk dijadikan objek wisata halal karena memiliki banyak potensi destinasi wisata yang belum diperkenalkan kepada dunia. Beliau berharap sekali kepada para komunitas yang hadir untuk membantu melakukan promosi wisata halal melalui media sosialnya masing-masing. “Saya berharap kerja sama dengan komunitas-komunitas untuk mempercepat proses promosi wisata melalui medsos. Karena saya yakin semua anggota komunitas ini adalah pengguna media sosial yang aktif,” paparnya. Setuju, Bu. Dan sosok itu tampaknya harus banyak belajar dari Siti Chotijah, MA alias Mbak Jhe yang merupakan Team leader dari GenPI Wonderful Lombok Sumbawa.

Produk-31.jpg

PERAN BLOGGER MENGGAUNGKAN WISATA HALAL

Don Kardono, Staf khusus Bidang Publikasi Optimalisasi Peningkatan Wisata Halal Melalui Media Sosial menjelaskan bahwa pihak Kemenpar memiliki empat channel yang dipakai untuk memajukan pariwisata Indonesia. 1) Paid Media atau media berbayar; 2) Own Media atau media yang kita miliki sendiri; 3) Social Media atau media sosial; dan 4) Endorser Media atau menggunakan orang berpengaruh untuk mempromosikan destinasi. Blogger? Jelas masuk dalam poin ketiga, beberapa bahkan sudah masuk ke poin keempat. Dari data yang sudah dijelaskan pada bagian prolog, peran blogger jelas berpengaruh di media sosial. Meski mungkin jumlahnya belum mencapai seperempat dari total pengguna internet di Indonesia, tetapi pengaruhnya begitu besar. Sudah banyak bukti betapa pengaruh media sosial begitu berperan dalam beberapa kebijakan, termasuk hukum. Brand-brand besar terbukti sudah mulai melirik para blogger untuk memasarkan produk mereka.

Untuk itulah alangkah baiknya jika promo wisata halal ini harus melibatkan blogger. Kementerian Pariwisata harus jeli melihat peluang dan jangan lagi tertinggal. Sebagai contoh, apakah mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengetahui tentang pariwisata halal ini? Belum. Para blogger dan media kampus yang hadir kemarin saja belum mengetahui betul apa itu wisata halal. Padahal berita tentang wisata halal sudah ada di media massa, tetapi belum disebarkan oleh para pelaku media sosial, khususnya blogger. Sangat disayangkan. Padahal pada 2012, wisatawan yang mencari pariwisata halal mencapai nilai 137 juta dolar AS, bandingkan dengan pariwisata ke Cina dengan nilai 89 dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa potensi wisatawan Muslim lebih besar dari wisatawan Cina. Sementara, potensi wisatawan Muslim sudah mencapai angka 1,7 juta jiwa dimana 180 ribu jiwa per tahun berasal dari Timur Tengah.

Taufan Rahmadi, Creative Strategic Expert GenPI, menuturkan bahwa wisata halal itu adalah tempat wisata yang memberikan pelayanan dengan bersertifikasi halal. Ia mencontohkan dengan upaya pihak pengelola tempat wisata dalam menyajikan makanan halal, menyediakan musala, juga fasilitas dan layanan lain yang mengandung unsur halal. Menurutnya, wisata halal akan menciptakan wisata yang nyaman. Tips untuk berhasil menguasai bisnis di bidang wisata, salah satunya adalah dengan mempromosikan tempat wisata menggunakan media sosial. Alasannya, dengan kemajuan zaman saat ini, sebagian besar masyarakat sudah mulai beralih menggunakan media digital. “Dengan menguasai dunia maya, kita akan bisa menguasai dunia, karena dengan media sosial akan lebih cepat untuk memperkenalkan tempat wisata ke seluruh dunia,“ tutur Taufan. Dan tampaknya itulah yang menggerakkan seluruh peserta yang hadir untuk langsung meresmikan pembentukan Gen PI Jawa Barat dengan koordinator sosok itu sendiri.

Sertifikasi halal? Ya, perlu sekali. Sertifikasi ini menjadi tantangan utama dalam pengembangan wisata halal, khususnya bagi jasa pariwisata, hotel, restoran, dan produk-produk olahan lainnya. Asosiasi Hotel dan Restoran Syariah Indonesia (AHSIN) 2014 mencatat bahwa Indonesia baru mempunyai 25 hotel yang restorannya bersertifikat halal dan 310 restoran bersertifikat halal. Tapi lihat negara tetangga. Thailand telah memiliki 100 hotel dan restoran yang bersertifikat halal. Malaysia telah memiliki 366 hotel syariah dan lebih dari 2.000 restoran yang bersertifikat halal. Singapura bahkan memiliki 2.691 hotel dan restoran yang sudah bersertifikat halal. Halo, Indonesia….

Produk-32

USULAN

Wisata halal tentu harus dijelaskan pada masyarakat. Hotel-hotel mana saja yang sudah memiliki sertifikasi halal. Restoran dan café mana saja yang sudah punya. Adakah spa dan salon halal? Lalu bagaimana dengan pramuwisata atau guide yang paham sekali tentang nilai-nilai Islam sehingga bisa membawa kliennya menuju wisata halal? Ingat loh bahwa pramuwisata merupakan pemimpin dari para wisatawan. Bagian ini sering diremehkan, padahal perannya penting. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a dan Abu Sa’id r.a, “Jika tiga orang keluar untuk bepergian, hendaklah menjadikan salah seorang sebagai pemimpin.” Jangan sampai pengalaman sosok itu saat perjalanan Trans-Sulawesi setahun lalu terjadi, yaitu bagaimana pramuwisata hanya sekali tidak mengindahkan untuk istirahat shalat wajib. Nah lho?

Khusus sertifikasi halal untuk hotel, sosok itu mengusulkan sebaiknya juga mencakup mushala yang terbuka. Bukan tertutup atau di basement seperti kebanyakan. Ini memberikan ketenangan dalam beribadah. Begitu pula dengan penyediaan sajadah/sarung/mukenah di kamar hotel. Begitu pula dengan makanan halal di pesawat (khususnya pesawat asing) perlu disosialisasikan lebih gencar lagi karena ternyata masih banyak masyarakat yang belum tahu soal ini. Sosok itu sendiri kebetulan punya pengalaman saat pergi ke Jepang, makanan halal dipesan saat memesan tiket pesawat. Kalau yang paham tentang dunia aplikasi, alangkah baiknya jika ada yang membuat aplikasi Wisata Halal. Cakupannya adalah hotel, restoran, spa, salon, dan masjid-masjid yang bisa dikunjungi. Lebih dari itu, why not?

Sosok itu juga pernah mengajukan ide saat Asean Blogger di Solo, yaitu adanya proyek pertukaran blogger se-Indonesia. Sayang … ide ini hanya mengendap dan belum terealisasikan. Tujuan dari pertukaran blogger ini adalah untuk memajukan wisata halal di daerah masing-masing. Misal blogger Bandung ke Aceh dan blogger Aceh ke Bandung. Blogger Bandung akan mendapatkan masukan berharga tentang wisata halal di Aceh dan kemudian bisa diterapkan di Bandung. Blogger Bandung juga melihat bagaimana kekurangan wisata halal di Aceh sehingga menjadi masukan berharga bagi Pemerintah Aceh. Dananya? Ya dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau pihak swasta yang bisa membantu. Kalau tujuannya untuk kepentingan bersama, yaitu pariwisata, tentu bisa diwujudkan. Bismillah.[]