Menunggu Sunset di Puncak Darma

Foto oleh Kang Djeproet, kawan wartawan

Cahaya itu kembali menggoda
Waktu yang berbeda, situasa yang berbeda
Aku tidak lagi terengah-engah memburunya
Hanya menunggu … langit di atas langit

Menunggu Sunset di Puncak Darma — Bisa dibilang hari itu adalah hari yang hectic. Bahkan semuanya dimulai pada hari sebelumnya. Sosok itu takbisa menolak. “Ini tantangan,” bisiknya. Toh selama ini, dia selalu siap menghadapi segala macam tantangan yang makin membuatnya takpernah berpikir dua kali. Sebagai contoh, alat kebersihan dan kesehatan selalu siap dibawa pergi, meski kabar baru beberapa jam sebelumnya. Kesigapan dan kematangan mengambil keputusan memang kadang ditentukan hanya sekejap saja. Persiapan dimulai sejak pukul 23:00 di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat (Disparbud Jabar) pada malam sebelumnya, dan akhirnya berangkat menggunakan dua mobil kecil dan satu elf pada pukul 01:00 dini hari.

Ya, Disparbud Jabar pada hari Kamis itu (3/8/2017) kembali mengadakan Famtrip 2017 bersama para travel blogger, GenPI Jabar, dan kru media massa. Tujuannya adalah Ciletuh-Palabuhanratu Geopark yang rencananya akan dibagi menjadi tiga trip. Ini dikarenakan betapa luasnya area yang akan dikunjungi dan waktu yang kurang. Satu tempat saja, misalnya di Geoarea Ciletuh, terasa kurang jika hanya tiga hari. Seminggu juga sepertinya tidak cukup. Belum perjalanan jauh yang bakal ditempuh. Buktinya adalah rombongan Famtrip baru sampai di Palabuhanratu pada pukul 07:00 guna sarapan di pinggir jalan yang memang khas. Di sana ada lontong kari, nasi kuning, dan lauk-pauknya. Tinggal pilih.

BACA deh >>> Mengenal Geopark Ciletuh-Palabuhanratu

Continue reading “Menunggu Sunset di Puncak Darma”

Advertisements

Memburu Sunrise di Puncak Darma

Foto diambil oleh Timothy, menggunakan gadget sosok itu

Cahaya itu selalu menggoda
Dan aku pun terengah-engah mengejarnya
Kesegaran menegur bibir agar tersenyum
Langit di atas langit … subhanallah

Memburu Sunrise di Puncak Darma — Dengan langkah ringan, sosok itu berlari menapaki jalan tanah yang tidak rata. Ada beberapa batu besar dan legokan yang tidak aman untuk dipijak, sehingga memaksanya untuk menghindar. Jalan menanjak memaksanya untuk mengeluarkan energi lebih besar, dan paru-parunya juga dipaksa untuk menghirup lebih banyak lagi oksigen. Lelah pastinya. Pada satu titik, dia berhenti. Menjaga pernapasannya agar sedikit kembali normal. Saat berbalik, pemandangan Amfiteater Ciletuh memesonakannya. Pesawahan dan rumah-rumah di Desa Mekarsakti terlihat seperti mainan.

Jarak dari tempat parkir mobil dekat Curug Cimarinjung dengan Puncak Darma sebenarnya hanya 1,2 kilometer saja tetapi tanjakan dan turunannya memang aduhai. Pada hari Minggu itu (28/8/2016) bukan tanpa sebab sosok itu lebih memilih berlari, salah satu alasannya adalah rasa tidak nyaman kalau harus naik ojek. Ya, dia merasa jerih saja karena kondisi jalan yang tidak bagus. Okelah dia pernah melewati jalan tersebut dengan menggunakan landrover, dan rasanya memang mengasyikkan plus seru. Alasannya karena bersama kawan-kawan dalam satu dok dan mobil tersebut sudah terkenal tangguh. Beda dengan ojek yang jenis motor-motornya pun membuat ingin mengelus dada, belum penampilan tukang ojeknya yang ‘nakal’ seperti tanpa alas kaki. Wah lah!

Continue reading “Memburu Sunrise di Puncak Darma”

Menjalang di Kawah Putih dan Situ Patenggang

Menjalang di Kawah Putih dan Situ Patenggang. Ish! Sejak kapan sosok itu menggunakan kata-kata yang tidak senonoh seperti ini? Tidak juga. Tinggal bagaimana melihatnya dari berbagai perspektif. Manusialah yang membuat beberapa kata menjadi berkesan negatif atau positif. Lihat saja di halaman 453 Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Kalau merujuk pada hewan, maka jalang berarti liar karena tidak dipelihara manusia. Tetapi ia bisa juga berarti nakal karena melanggar susila. Pada akhirnya menjalang di sini bermakna menjadi liar atau menjadi buas. Itu kalau dibahas dari sisi adjektiva. Dari sisi kata kerja, menjalang itu mengandung makna berkunjung atau pergi ke. Jelas, menjalang di sini menjadi kata yang positif.

Jumat, 26 Agustus 2016, di V Hotel and Residence pada pukul 05:00. Sosok itu dan beberapa kawan blogger telah berkumpul di lobi, bercakap-cakap dan mempersiapkan diri untuk melakukan FamTrip bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Blogger yang dimaksud adalah Cumi Lebay, Harris, Timo, Hanif Insan Wisata, dan Gina-Daniel dari Sunrise Odyssey Singapura. Selain mereka juga hadir para pakar pendidikan yang menguasai ilmu geologi dan seni rupa, media pers, serta para perwakilan agen wisata. Tujuannya jelas, memaksimalkan potensi wisata yang ada di Jawa Barat. Semua saling berkolaborasi. Empat unsur di atas (pemerintah, akademis, pebisnis, media) harus bekerjasama dan merangkul unsur kelima, yaitu masyarakat setempat (komunitas) untuk mewujudkan daerah wisata yang berkelas nasional bahkan internasional. Wisata Jabar Kahiji.

Pukul 05:30 rombongan yang terdiri atas tiga mobil Hi Ace berangkat secara beriringan, diikuti oleh satu mobil Avanza. Menembus Bandung yang masih belum melek benar, mengejar matahari yang masih manja untuk menerikkan sinarnya. Duh, gaya tulisan sosok itu jadi ikut-ikutan Cumi Lebay. Setelah memakai kata ‘menjalang’ di judul eh masuk juga kata ‘manja’ di paragraf ketiga. Tuh anak memang membawa virus yang berbahaya bagi dunia kepariwisataan dan dunia literasi Indonesia. Oke lanjut … rombongan pun masuk ke gerbang tol Pasteur dan keluar di gerbang tol Kopo. Sosok itu dan beberapa peserta FamTrip melanjutkan tidurnya yang memang kurang. Menembus jalan yang belum ramai benar melewati Soreang dan akhirnya berhenti di RM Sindang Reret. Sarapan nasi kuning dan minuman teh hangat pun langsung membuka mata. Menyegarkan jiwa untuk memulai petualangan di keluarga baru.

Blogger-36

MENJALANG DI KAWAH PUTIH

Perjalanan ke Kawah Putih, Ciwidey, pada akhirnya terselesaikan pada pukul tujuh lebih sedikit. Aroma dan cuacanya agak berbeda dengan yang pernah sosok itu lihat/rasakan setahun lalu. Dinginnya masih sama, tetapi kabut masih tebal menyelimuti semua area. Bagi yang berkesempatan mampir ke Bandung, rasanya tidak afdol kalau belum ke Kawah Putih. Bandung boleh menyajikan beberapa atraksi wisata yang menggoda mata dan perut, tetapi semua itu buatan manusia. Jauh berbeda dengan Kawah Putih yang sudah polesan alami. Sampai istilah bahwa Tuhan menciptakan bumi Parahyangan itu sambil tersenyum menjadi slogan utama negeri ini. Udara segar dengan jumlah oksigen yang luar biasa banyaknya. Pepohonan rimbun dan terkadang … terdengar jeritan merdu dari beburung yang sudah sibuk mencari makanan. Cahaya matahari belum sanggup menembus kalibut yang tebal. Putihnya menciptakan serpihan air laksana gerimis. Efek spiritual yang hanya bisa dirasakan di puncak gunung. Damai dan kebahagiaan bisa ditemukan di tempat seperti ini.

Blogger-37

Pada akhirnya benar saja kalau manusia yang hadir langsung menjadi liar hatinya. Menjalang yang makin merasuk. Tergila-gila untuk mencari spot indah, lalu berfoto secara mandiri atau beramai-ramai. Ingin merekam semua keindahan dan selanjutnya ditunjukkan pada dunia yang lebih luas lagi. “Hellooo … lihatlah! Gue akhirnya bisa ada di Kawah Putih dengan pemandangan yang masih eksotis!” Nuansa spiritual pun makin masuk ke dalam hati. Sosok itu termenung. Berjalan di antara pepohonan khas puncak gunung, sesaat merenung apa artinya perjalanan hidup ini. Menembus kalibut yang berhawa mistis. Meresapi dinginnya cuaca dan percikan embun yang tanpa disadari menenangkan jiwa petualangannya. Apalah kita di antara keindahan alam raya yang taktertandingi ini? Manusia tiba-tiba saja menjadi kerdil, menjadi semut, menjadi kutu, menjadi hampa. Ya Rabb. Ya Rabb. Ya Rabb. Allahu Akbar. Subhanallah walhamdulillahi walaa Ilaaha illallah wallahu akbar.

Kebersamaan menjadi kekuatan. Alam menjadi saksi bahwa manusia itu tidak bisa sendiri. Ia adalah makhluk sosial yang harus saling bekerjasama. Saling berinteraksi. Saling mengisi agar jiwa-jiwa kosong itu tidak karatan atau bahkan menjadi rumah laba-laba. Menghangatkan satu sama lain. Menguatkan makna bahwa inilah Indonesia yang memiliki Biodiversity Superpower. Bahwa Jawa Barat hanyalah serpihan kecil dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang taktertandingi oleh negara mana pun di dunia. Hanya biodiversity saja? Tidak. Masih ada geodiversity dan culturediversity yang harus ditangani secara serius. Ditangani oleh kelima unsur yang telah dijelaskan di paragraf kedua. Maka … menjalanglah di Kawah Putih dengan kemampuan terbaikmu sebagai manusia Jawa Barat.

Blogger-38

MENJALANG DI SITU PATENGGANG

Setelah bermandikan uap belerang di Kawah Putih, sosok itu seolah-olah menjadi manusia baru. Jiwanya makin tenang. Meski sudah tiga kali ke sana, selalu saja ada petualangan baru yang dirasa. Alam memang tidak pernah memberikan satu rasa. Alam selalu memberikan rasa yang lain meski didatangi berkali-kali. Tidak ada rasa bosan untuk mengulang kembali. Matahari sudah tidak malu lagi. Ia bersinar dengan kekuatan yang belum penuh. Makin menghangatkan jiwa. Makin menguatkan pandangan betapa luasnya alam raya ini. Tiga Hi Ace berjalan kembali beriringan di jalan yang mulus dan berkelok. Pohon-pohon teh berbaris rapi di sisi kanan dan kiri. Melambaikan ranting sekadar untuk menyapa hangat. “Wilujeng sumping di tempat kami. Di kerajaan kami yang semoga saja bisa menciptakan ruang kebahagiaan di setiap hati Anda.”

Blogger-39

Sebuah batu besar tersenyum. Menghipnotis semua peserta FamTrip untuk berhenti. Bercanda sejenak di sana. Bercumbu dengannya di tengah-tengah Perkebunan Teh Rancabali yang luas, dan merupakan bagian dari PTP Nusantara VIII. Mencecap oksigen sepuasnya lalu membuang karbondioksida secara perlahan-lahan. Nikmati saja. Memanjakan mata dengan hamparan karpet hijau, lalu menenangkan pikiran yang negatif dengan sebanyak-banyaknya menangkap energi positif yang memang membanjiri lokasi ini. Hawa spiritual memang kuat. Jangan disia-siakan. Pererat dengan orang sekitar. Beri senyuman pada semuanya. Tidak hanya manusia, tetapi juga pada pepohonan, pada batu, pada burung, pada serangga, pada awan, pada langit, pada semesta. Biarkan tawa kebahagiaan membahana. Takperlu risau karena itu bukanlah polusi.

Masih kurang? Jalanlah sedikit ke bawah dan temukan danau yang tenang di sana. Situ Patenggang adalah tujuan berikutnya. Danau di atas gunung. Hati yang sudah tenang dibiarkan untuk menjalang sesuka hati. Menjalang untuk menemukan kebebasan dan kedamaian jiwa. Lalu sebarkan virus damai itu ke seantero dunia melalui media sosial. Gambar-gambar indah yang pada akhirnya membuat makin banyak orang yang ingin segera ke sana. Menyerap virus yang sama, lalu dibagikan lagi ke lebih banyak orang. Di Jawa Barat. Di Pulau Jawa. Di Indonesia. Di Asia. Di Dunia. Siapa pun berhak untuk merasakan aura yang sama. Sosok itu semakin tenang hatinya. Semakin bersemangat untuk membagi perasaan yang sama. Bersyukur bahwa dirinya lahir di bumi Indonesia yang istimewa. Yang kaya akan segalanya. Bersama kawan-kawan yang punya visi dan misi yang sama. Bahwa semakin mengenal alam Indonesia, semakin kerdil jiwa ini untuk menjadi angkuh dan sombong. Apalah kita?

Blogger-40

Maka … nikmatilah semua foto yang ada. Meski Kawah Putih dan Situ Patenggang bukan merupakan bagian dari Geopark Ciletuh yang saat ini sedang digalakkan untuk menjadi UNESCO Global Geopark, tetapi itulah kekayaan Jawa Barat yang sesungguhnya. Dan itu pun masih berupa serpihan, karena masih ada bongkahan yang lebih besar lagi untuk dikembangkan. Dan blogger harus turut serta di sana. Bismillah.[]

Mengenal Geopark Ciletuh Palabuhanratu

Mengenal Geopark Ciletuh Palabuhanratu — Sebentar, biarkan sosok itu menarik napas panjang sejenak. Wooo-sahhh! Ya, soalnya dia akan bercerita tentang sesuatu yang terbilang serius. Apa itu? Sejarah. Sejarah tentang tempat yang menurutnya kaya akan alam dan petualangan. Ada banyak kisah tentang tempat ini dan semuanya bagi dia jelas begitu menarik. Dan membuatnya selalu ingin dan selalu datang ke sana. Namun sebelum jauh menceritakan tentang Ciletuh dan Palabuhanratu, ada baiknya semua itu dimulai dari istilah “geopark”.

Menurut Tante Wiki yang asli berbahasa Inggris; a Geopark is a unified area that advances the protection and use of geological heritage in a sustainable way, and promotes the economic well-being of the people who live there. There are Global Geoparks and National Geoparks. Mudahnya, geopark itu adalah sebuah kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi. Unsur-unsur ini jelas harus dilindungi karena di sana ada nilai arkeologi, ekologi, dan budaya. Siapa yang melindungi, jelas masyarakat setempat. Namun semua itu juga harus ada dukungan dari pemerintah (baik lokal maupun pusat) dan masyarakat pendatang. Geopark sendiri adalah singkatan dari “Geological Park” atau Taman Bumi.

Continue reading “Mengenal Geopark Ciletuh Palabuhanratu”