Manfaat Membaca Al-Quran

Sosok itu mendapatkan hikmah luar biasa dari ceramah Jumatan kali ini. Masjid PDAM Jl. Atlas tempatnya, dan di sanalah sosok itu juga menikmati makan siangnya beralaskan tikar di bawah pohon sukun dan mangga bersama kawan-kawan kantor yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 20 orang. Wallahu’alam apakah ini adalah kisah nyata atau fiksi belaka. Cukuplah kita mengambil manfaat yang terkandung di dalamnya.

Alkisah, ada seorang ulama yang bermimpi bertemu dengan sahabatnya di alam kubur. Ya, sahabatnya itu sudah wafat. Dalam mimpinya itu, sang sahabat selalu mendapatkan kiriman berupa pakaian baru dan makanan yang berlimpah ruah. Sang ulama merasa heran, bagaimana bisa sahabatnya yang telah wafat mendapatkan kiriman berupa pakaian dan makanan ke alam kuburnya? Pada saat terjaga, sang ulama pun penasaran.

Continue reading “Manfaat Membaca Al-Quran”

Advertisements

Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja

Alhamdulillah. Rasa syukur ia ucapkan. Sosok itu seperti diberkahi ketika diterima bekerja di lingkungan islami. Lingkungan Al-Qur’an. Pada saat azan berkumandang, semua karyawan bersiap-siap shalat berjamaah di mushala. Tidak harus menunggu bel istirahat. Semua langsung bergerak.

Belum lagi lingkup kerjaan yang menata letak produk kitab suci umat Islam. Hampir setiap hari matanya tak lepas dari susunan khat, terjemahan, dan beberapa penguatnya. Sebut saja hadits, asbabunnuzul, atau referensi lainnya semacam Harun Yahya. Dan hari ini, sosok itu mendapatkan satu cakupan ilmu yang luar biasa. Bukti kebesaran Sang Maha.

Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman, 55: 19-23)

Continue reading “Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja”

Misteri Batu Bercahaya

Barry Tikus memiliki tampang bodoh. Telinganya terlalu kecil untuk dapat menangkap kata-kata bijak ayahnya. Meski begitu, hatinya seluas mangkuk susu. Perbandingan yang pantas jika dilihat dari tubuh kecilnya. Dan Barry Tikus adalah malaikat yang diturunkan Sang Maha kepada kedua orangtuanya. Ini pengakuan sang ibu.

Di sanalah langkah Barry Tikus terhenti. Seonggok batu bercahaya menghadang perjalanannya. Korek api yang dijadikan penerang di lorong gelap pun seolah tak bermakna. Barry Tikus segera mematikan api koreknya. Pada saat itulah mata Barry Tikus membelalak! Asap yang mengepul dari batang korek tersedot oleh batu bercahaya. Semuanya.

Suara. Terdengar suara bijak di kepala Barry Tikus. Seperti suara yang terdengar pada prolog atau epilog film futuristik kesukaan Pak Jimmy—sosok manusia yang rumahnya ditempati oleh keluarga Barry Tikus. Suara tanpa wujud. Barry Tikus pun berkata, “Aku ingin memiliki penciuman yang tajam.” Batu bercahaya makin bercahaya. Entah mengapa, Barry Tikus langsung dapat mengendus keju kesukaannya. Di dapur Pak Jimmy.

Greg Tikus Besar heran. Dialah tikus pelacak yang disegani. Bagaimana mungkin Barry Tikus bisa menemukan keju segar di dalam lemari dapur yang tersembunyi di balik toples tertutup rapat? Barry Tikus bercerita. Lorong gelap itulah rahasianya. Batu bercahaya kuncinya. Dan di sanalah Greg Tikus Besar tersenyum lebar. Dia pun mendengar suara bijak saat asap koreknya tersedot batu bercahaya.

Dengan kesenangan yang meledak-ledak Greg Tikus Besar pun berkata, “Aku ingin semua tikus cewek sangat-sangat menyukaiku, mencintaiku dengan sepenuh hati. Aku ingin mereka semua terbuai oleh senyum manisku.” Greg Tikus Besar kembali tersenyum lebar sambil mengucapkan “cheeeese” membayangkan dirinya sedang difoto oleh para fotografer.

Batu bercahaya makin bercahaya. Greg Tikus Besar tiba-tiba berasap dan menghilang. Pada saat asap menghilang, sebuah keju besar berlapis coklat magnum menggoda teronggok di sana. Barry Tikus pun datang mengendus dan langsung tersenyum lebar. Tahulah ia apa yang harus dilakukan pada makanan kesukaannya itu.[]

Hikmah:
1. Untuk memperoleh hasil, berusahalah. Tak ada istilah instan untuk keberhasilan.
2. Berhati-hatilah dengan apa yang diinginkan. Lidah tak bertulang.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp

Bersimbah Musibah

Dini hari ini Merapi kembali menggelegar. Zona bahaya pun diperluas menjadi 20 km. Tidak hanya sekadar gemuruh, petir pun menyambar lereng Merapi. Hujan kerikil dan debu menyerang seantero wilayah. Warga pun panik meraba jalur evakuasi yang gulita. Stadion Maguwoharjo pun padat laksana pasar. Miris.

Sosok itu beristighfar. Baru kemarin siang ia mendengarkan taujih pra-Dzuhur. Setiap musibah itu sudah tercatat pada Lauh Mahfuz. Sudah direkayasa Penguasa Semesta. Jangan sampai musibah memunculkan bentuk syirik baru. Syirik modern yang tak hanya menyembah berhala semacam Latta, Uzza, atau Manna. Syirik massal yang membuat negeri ini selalu bersimbah musibah.

Dini hari ini telah terhitung 20-an pengungsi yang terluka bakar. Getaran salah satu pasak bumi teraktif itu pun sudah terasa sampai Magelang. Di saat hampir semua manusia terlelap dengan indahnya, mayoritas warga Yogyakarta memilih untuk tidak tidur. Nikmat tidur tercerabut dengan begitu mudahnya.

Musibah. Hanya umat berakal saja yang selalu mengambil hikmah di sebalik musibah. Dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, Sang Penguasa Semesta menguji kita. Dan kabar gembira pun ditujukan hanya pada yang sabar. (QS Al-Baqarah, 2: 155)

Tangan kita telah kotor oleh musibah, dan ini sudah kepastian. Tak ada air yang mampu membersihkannya, kecuali dengan taubat. Sosok itu pun sesenggukan. Tampaknya waktu itu telah tiba, meski terlambat. Ia harus telanjang. Meski seharusnya, negeri ini pun sedari dulu sudah telanjang. Telanjang massal.[]