Memarahi untuk Mendidik

Suara tangis keras terdengar dari kamar atas. Itu suara Ade, putri kedua saya yang bernama lengkap Anindya Rahmakhansa (3 tahun 4 bulan). Saya tahu kalau Ade dimarahi umminya karena melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Sebelumnya Ade menumpahkan satu botol pembersih mulut yang masih disegel: semuanya. Setelah diperingati bahwa perbuatan itu tidak baik, ia pun mengangguk dan mengerti. Akan tetapi, tak lama kemudian Ade kembali mengulangi hal yang sama pada botol lainnya. Ade memang terlalu kreatif.

Continue reading “Memarahi untuk Mendidik”

Advertisements