Memaknai Hutang

Tak ada yang lebih menyedihkan dan menyakitkan selain mempunyai hutang. Saat ini, rasanya sulit mencari sosok yang tidak mempunyai hutang. Hampir semuanya berhutang. Begitupun dengan sosok itu. Dan ia hanya bisa menghela nafas.

Sosok itu mencoba mengingat. Ia telah berani berhutang sejak mahasiswa. Sejak ia merasa nyaman dengan kiriman dari orang tua. Lalu berlanjut menjelang pernikahan. Mas kawin pun harus lewat jalan hutang. Dan hutang terbesarnya adalah saat ia berani mengambil sebuah rumah. Ini pun masih dianggapnya sebagai keberkahan.

Apabila disikapi dengan bijak, hutang bisa bermanfaat. Sebaliknya, bisa jadi bencana. Mempelajari perencanaan-perencanaan hutang sama pentingnya dengan usaha untuk menutupinya. Istilah gali-tutup lobang dalam berhutang, harus dienyahkan. Meskipun sulit. Camkan: bahwa sesulit-sulitnya soal ujian, selalu ada jawaban pasti.

Sosok itu menyadari untuk tak berpikir tentang banyaknya hutang. Ia telah menanamkan pada dirinya sendiri, untuk terus berusaha. Berusaha mendapatkan penghasilan. Bukan usaha mendapatkan hutangan. Hutang dijadikannya pemicu untuk bekerja lebih baik lagi. Kebutuhan selalu naik, sosok itu tak bisa membatasinya. Untuk itulah ia harus meningkatkan penghasilan, bukan membatasi kebutuhan.

Inilah komitmen untuk berhasil. Komitmen untuk terbebas dari hutang-hutang. Dan komitmen untuk membebaskan banyak orang dari kenyamanan berhutang. Jika berhutang saja sudah begitu mendilemakan, bagaimana dengan sosok yang berhutang pada rentenir? Nau’dzubillah.[]

Advertisements