Kitab Berbohong #2

Malam telah turun. Bintang gemintang mulai bermunculan satu persatu mengerlipkan cahayanya, sementara bulan sudah maujud sejak sore tadi. Cahaya bulan telah penuh menyinari permukaan bumi, namun terasa kurang bagi manusia hingga menambahkan cahaya lampu di tiap-tiap rumah dan beberapa jalan.

Riki, anak lelaki berusia delapan tahun merasa cemas. Rumah orangtuanya yang berlokasi di Blok F dan bernomor 13 terasa lengang. Kedua orangtuanya sedang pergi. Riki cemas karena sebuah guci kesayangan ibunya telah pecah. Tanpa ia sadari, Riki telah menyenggol guci itu ketika asyik bermain kapal-kapalan yang terbuat dari kertas. Serpihan-serpihan keramik dari yang besar hingga yang kecil telah berserakan di berbagai tempat. Riki tersedu. Apalagi jika mengingat kemarahan ibunya yang sangat ringan mulut dan ringan tangan itu. Sakit sekali.

Continue reading “Kitab Berbohong #2”

Kitab Berbohong #1

Seekor burung melayang rendah melewati sebuah rumah di Blok C bernomor 17. Tanaman pagar berdiri kokoh melindungi halaman rumah itu dari serbuan debu jalanan, selebihnya tidak ada tanaman lain yang ditanam di tanah pekarangannya. Hanya lima buah pot tanaman anggrek yang tergantung rapi. Satu jemuran praktis yang sudah terlipat teronggok di samping rumah, dengan beberapa kain bekas. Pintu depannya terbuka penuh, memperlihatkan seorang anak lelaki berusia lima tahun yang sedang asyik bermain di tengah serakan mainannya yang berlainan jenis.

“Dede…, mandi yuk. Sebentar lagi bapak pulang,” terdengar suara sang ibu. Anak lelaki itu menoleh ke arah belakang. Matanya yang bening seolah mencoba memaknai ucapan ibunya barusan. Tak lama ia kembali me-ngeeeng-kan mobil ambulansnya menabraki mainan lainnya.

Continue reading “Kitab Berbohong #1”

Seorang Ibu yang Menangis

Kertas koran itu teronggok. Ia telah lusuh akibat campuran remasan dan airmata. Sedikit bergerak karena terpaan angin dari arah pintu yang terbuka lebar. Pada halaman yang terbuka, sedikit terbaca adanya berita tentang seorang oknum PNS yang tertangkap karena kasus korupsi. Lagi-lagi negara ini telah melahirkan generasi muka badak. Ingin badan besar tapi tak ingin sakit jika dicubit. Mencoba mematikan rasa sensitif di sekujur kulitnya, terutama di daerah wajah.

Sementara di teras, seorang ibu menangis. Airmatanya telah menganaksungai di wajahnya, hingga menetes tepat di bagian bawah dagunya. Tatapannya kosong, padahal pekarangan rumahnya adalah taman yang paling indah di kompleks perumahan itu. Dan jika kamu saat itu berada di dekatnya, jangan kaget kalau menyentuh kulitnya adalah seperti kamu membuka pintu lemari es dan membiarkan hawa di dalamnya menyebar ke kulitmu. Begitu dingin!

Koran yang lusuh itu adalah hasil perbuatannya. Tak lebih dari setengah jam yang lalu ia begitu bersemangat membaca koran, sama semangatnya setiap hari saat membuka lembaran demi lembaran koran langganannya. Itulah pekerjaan yang bisa dilakukannya untuk mengisi hari-harinya yang semakin senja. Dan koran itu pun lusuh, saat ia mengetahui kalau oknum PNS yang dimaksud adalah anaknya. Anak tersayangnya.

Seorang ibu menangis. Namun ia tidak menangisi kelakuan anaknya yang sudah pasti mencoreng-moreng keluarga besarnya. Biarlah itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Toh, ia bukan saja sudah baligh, tetapi juga sudah menjadi kepala keluarga di rumah tangganya sendiri. Sudah punya dosa yang harus ditanggung sendiri. Ia menangisi dirinya sendiri.

Ya, seorang ibu menangis karena dirinya sendiri. Ia seperti tersadar bahwa anaknya bisa seperti itu karena kelakuan dirinya sendiri. Ia sendiri yang telah membentuk anaknya menjadi seperti itu, melalui pendidikan sekolah yang tidak berkah. Seorang ibu menangis, saat ia melihat dirinya sendiri sedang mengantar anaknya masuk ke SD favorit. Ia menyuap pihak sekolah agar anaknya bisa masuk dengan selamat. Ia pun melakukannya lagi saat anaknya masuk ke SMP, SMU, dan perguruan tinggi favorit. Dan pada akhirnya, ia pun hanya bisa menangis.[]

Bang Aswi (28 Juni 2010)

Sebuah doa untuk anakku, Bintan, yang akan menapaki lingkungan baru di sebuah tempat bernama Sekolah Dasar. Semoga pendidikanmu berkah, Nak.

Tulisan Umiku

KETIKA ITU….

Seorang ibu merintih kesakitan di pojok kamar yang sunyi….

Anak : Sakitkah, Bu, sakitkah luka yang menganga dan sangat dalam ini?
Ibu : Iya, Nak. Sangat. (sambil meneteskan air mata)
Anak : Oh Ibu… andaikan saya merasakan apa yang Ibu rasa mungkin tidak akan sekuat Ibu.
Ibu : Jangan, Nak, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang orang pun enggan untuk memikirkannya sekalipun.
Anak : Kenapa Ibu bisa bertahan selama 5 tahun ini, menahan rasa sakit yang belum ditemukan obatnya?
Ibu : Kau, kalian anak-anakku yang membuat Ibu merasa mampu untuk bertahan dan berharap sembuh. Demi melihat kalian bahagia serta kalau boleh memohon kepada Allah, bolehkah rasa pasrahku ini menghapus dosa- dosaku yang lalu.
Anak : Apa yang Ibu harapkan dari kami?
Ibu : Bimbinglah Ibu. Ingatkan terus untuk memohon ampun kepada Allah, temani saat sakaratul maut akan menjemput. Bisikkan Allahu Akbar berkali-kali, jangan Laailaaha illallah. Ibu takut bila saatnya nanti tidak sempurna mengucapkannya dan mengubah artinya. Doakan agar Ibu sabar dan mampu menghadapi ini semua. Dan bila nanti Allah memanggilku kembali, kalian harus tegar dan jangan menangis. Kalian sudah besar, tangisan tidak akan menolongku. Doa anak-anak yang soleh dan solehah yang akan menolongku….[]

– 1,5 tahun yg lalu di kamar depan rumah kami

Continue reading “Tulisan Umiku”