Menulis Itu Mudah, Berlatihlah

Untuk menjadi seorang penulis sebenarnya mudah, asal ada kerja keras atau usaha. Intinya itu saja, niat dulu dikuatkan karena inilah semangat kita nantinya. Jika sudah ada kerja keras, modal awal untuk menulis adalah membaca. Kita sering melupakan hal ini, padahal ada rumusan taktertulis bahwa jika ingin menulis satu buku maka bacalah 10 buku. Bahkan ada yang mengatakan sampai 20 buku atau lebih.

Selanjutnya adalah siap berkompetisi. Berkompetisi di sini bisa berarti berani mengirimkan karya ke media massa, ke penerbit, atau bahkan dibaca oleh orang lain yang terdekat dengan kita. Bisa sahabat, pasangan, atau mungkin orang yang sangat dipercaya. Sedangkan untuk menulis dari mana, coba mulailah dari menulis tentang yang kita ketahui.

Continue reading “Menulis Itu Mudah, Berlatihlah”

Advertisements

Mencari Ide dengan Lemparan Ajaib

Menulis adalah profesi, dan hal itu sudah pernah saya bahas di sini. Apapun aktivitas kita, adalah profesi. Apabila aktivitas sobat baraya sehari-hari adalah mengajar, berarti profesi sobat baraya adalah menjadi seorang guru atau dosen. Begitu pula jika aktivitas sobat baraya sehari-hari adalah menulis. Dan profesi, pada titik tertentu akan mengalami kemandulan. Suatu saat, manusia akan mengalami kehidupan di bawah. Bagi seorang penulis, masa ini bisa jadi adalah kejumudan yang membuatnya tak dapat menemukan ide. Namun seperti sebuah roda, kehidupan akan terus bergulir. Dunia kepenulisan akan terus bergulir. Pada titik inilah seorang penulis harus beristirahat. Bertamasya. Mungkin menulis diari bisa menjadi pilihan tamasya yang menyegarkan. “Orang yang kembali ke buku harian adalah orang yang mencari dirinya, penyusuran jalan menuju pengembangan dan kesadaran, jalan menuju kreativitas,” kata Anais Nin.

Akan tetapi, bagaimana dengan orang yang aktivitas sehari-harinya adalah menulis diari? Carilah bentuk tamasya lainnya. Intinya adalah menyegarkan. Setelah bertamasya, otak dan fisik sobat baraya kembali menjadi segar dan siap untuk beraktivitas kembali.

Continue reading “Mencari Ide dengan Lemparan Ajaib”

Mencari Ide dengan Metode Bisosiasi

Sebelumnya saya sudah menjelaskan tentang bagaimana proses mencari ide dengan pemetaan atau pengemasan. Dari ide yang hanya berupa kata tunggal itu, sobat baraya ternyata bisa mengembangbiakkannya menjadi banyak kata, sehinggal lahirlah sebuah ide yang bernas untuk dijadikan bahan penulisan berikutnya.

Dalam diri setiap penulis, dalam diri setiap manusia, terdapat kekayaan ide dan inspirasi. Ide-ide baru senantiasa ditambahkan ke gudang ini, dan si penulis masuk ke dalamnya serta memutuskan mana yang dipilih. Akan tetapi, bagaimana cara memutuskannya? Sebagian ide berkeras agar digunakan. Namun, kadang penulis yang sudah profesional pun sukar memilih. Bahkan, tak jarang memunculkan polemik atau dilema saat ada dua atau lebih ide yang paling menonjol untuk dipilih.

Continue reading “Mencari Ide dengan Metode Bisosiasi”

Mengemas Ide

“Untuk jadi pengarang, Anda harus mulai menulis.” Begitulah kira-kira perkataan J.K. Applegate, sang penulis buku seri Animorpheus. Tidak ada jalan lain bagi seorang penulis selain menulis. Ya, menulis adalah harga mati bagi seorang penulis sehingga sangatlah aneh kalau ada penulis yang tidak menjadikan menulis sebagai kegiatan kesehariannya.

Menulis setiap hari? Ya, apakah ada hal yang aneh dengan pernyataan tersebut? Saya kira tidak. Jika sobat baraya bekerja sebagai seorang akuntan, tentu akan bekerja setiap hari tentang dunia akuntansi yang otomatis akan bergulat dengan masalah angka-angka. Begitu pula jika sobat baraya adalah seorang ahli komputer, tentu akan berkutat dengan istilah-istilah hi-tech dunia komputer dan teknologinya, setiap hari. Dan menulis setiap hari bagi seorang penulis, adalah bentuk kewajaran dari dunianya yang memang dituntut profesional.

Continue reading “Mengemas Ide”