Cintai Indonesia dengan Melihatnya Sendiri

Melihat berita saat ini seolah membutakan hati, membakar amarah yang sudah dipendam setengah mati. Menyaksikan media sosial yang sebenarnya hanya kumpulan dari beberapa status pribadi, juga tidak terlalu bedanya. Bahkan lebih dari itu, efeknya jauh lebih berbahaya dari hanya sekadar berita di media konvensional. Mengapa? Karena di sana ada perang kata-kata yang jauh lebih berbahaya dari perang senjata. Luar biasa kondisi Indonesia saat ini. Seolah semua masyarakat berjibaku dan merasa paling benar, sementara yang diperdebatkan bisa jadi tidak terlalu peduli. Sosok itu jadi mengurut dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri.

Ingatannya kemudian terlempar ke beberapa tahun ke belakang, saat dirinya masih ber-KTP Jakarta. Kehidupan yang begitu keras, khususnya di jalanan. Tidak saling percaya, selalu suuzon terhadap orang yang menempel saat berada di angkutan umum. Belum beberapa preman berkulit hitam yang sering dilihatnya di terminal, stasiun, pasar, atau bahkan di jalan-jalan. Anggapan orang-orang yang berkulit gelap atau memiliki ciri khas orang Timur begitu menempel di kepalanya sebagai preman. Sebagai orang yang siap mempertaruhkan nyawa demi beberapa rupiah yang bukan haknya. Miris.

Continue reading “Cintai Indonesia dengan Melihatnya Sendiri”

Advertisements

Generasi Pesona Indonesia atau GenPI

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) adalah sebuah komunitas yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia. GenPI merupakan pengejawantahan dari program promosi wisata “go digital” yang tengah gencar dilakukan oleh Kemenpar sebagai salah satu strategi pemasaran pariwisata Indonesia. Anggota GenPi terdiri atas anak-anak (berjiwa) muda yang selama ini aktif melakukan promosi pariwisata melalui media sosial seperti blog, facebook, twitter, instagram, path, dan lain lain. Karena fokus promosi dalam dunia digital maka anggota GenPi sering dijuluki “Laskar Digital Merah Putih”. Sosok itu sendiri menjelaskan arti lain GeNPI sebagai Gerakan Nusantara (untuk) Pariwisata Indonesia.

Continue reading “Generasi Pesona Indonesia atau GenPI”

Mahakarya Indonesia dengan Mengingat Sejarah

Mahakarya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga adalah karya megah atau karya gemilang. Ia bukanlah sebuah karya yang biasa-biasa saja, tetapi jauh lebih dari itu adalah sebuah karya yang mendekati sempurna. Sebuah karya yang selalu dikenang kemegahannya hingga bertahun-tahun, berpuluh tahun, atau bahkan beratus-ratus tahun. Dan berbicara soal karya, tidak melulu dalam bentuk benda tetapi juga bisa merupakan budaya yang terus terjaga dengan baik. Berbicara tentang Indonesia tentu tidak boleh melewatkan budayanya yang kaya. Kaya dalam ragam dan kaya dalam maknanya. Semua itu bercampur dan bersatu padu dalam khazanah Mahakarya Indonesia. Salah satunya adalah sebuah ilustrasi seperti di bawah ini.

Continue reading “Mahakarya Indonesia dengan Mengingat Sejarah”

Sepeda: Saksi Bisu Sejarah

Membicarakan sejarah sepeda di Indonesia berarti kembali membuka lembaran kelam bangsa ini, penderitaan yang seakan tidak pernah berakhir bagi penduduk di masa kolonial bangsa asing di Indonesia. Sepeda dibawa masuk ke Indonesia oleh kolonial Belanda. Sebagai teknologi baru, sepeda segera saja menjadi primadona bagi priyayi pribumi, kolonial Belanda, serta kaum elite pedagang.

“Hal ini dibuktikan dengan tumbuh suburnya toko-toko sepeda di Hindia Belanda taklama sejak ditemukannya model transportasi ini. Dokumen berupa iklan di media cetak pada 1950 tentang Toko Sepeda NV Handel-Maatschappij ‘Lim Tjoei Keng’ menyebutkan bahwa toko tersebut sudah berdiri sejak 100 tahun sebelumnya, atau berarti tahun 1851. Iklan ini juga menerangkan toko tersebut memiliki cabang di ‘antero Java’ seperti Batavia, Bandoeng, Cheribon, Pekalongan, Tegal, Solo, Djogja, Semarang, dan Soerabaia.” [Kompas.com]

Continue reading “Sepeda: Saksi Bisu Sejarah”

Bangsa yang Malas Membaca

Sosok itu merasa miris. Miris dengan kondisi masyarakat kita yang makin menjauh dari buku. Padahal buku adalah gudang ilmu takterbatas. Pemakaiannya pun sangat mudah karena bisa dibawa semau yang kita mau (portable). Sosok itu merindukan kondisi Jepang (misalnya) dimana setiap orang suka membaca saat menunggu kendaraan, di dalam kendaraan, atau bersantai-santi di taman kota. Sangat berbeda jauh dengan kondisi masyarakat kita yang selalu memegang dan membaca gadget terbaru, bahkan saat menyetir sekalipun. Miris.

Bagaimana tidak mengkhawatirkan jika hampir semua kota-kota besar di Indonesia tidak memiliki perpustakaan yang memadai. Padahal perpustakaan yang memadai adalah salah satu ciri kota modern. Belum lagi perpustakaan yang sudah ada pada sebagian kecil kota-kota besar ternyata jumlah kunjungan pembacanya sangat kecil. Lihat saja Jakarta, dimana jumlah penduduk yang sudah 10 juta orang tetapi hanya 200 orang per hari yang berkunjung ke perpustakaannya. Dari jumlah itu, yang meminjam buku berkurang lagi menjadi 20% saja. Dan dari 250.000 sekolah di Indonesia, ternyata hanya 5% yang memiliki perpustakaan.

Berdasarkan data dari Litbang Kompas, ada 4,6 juta orang yang berkunjung ke perpustakaan pada 2005 dan 2006. Pada 2007 terjadi penurunan hingga mencapai 4,1 juta orang saja yang berkunjung ke perpustakaan.

Continue reading “Bangsa yang Malas Membaca”

Redenominasi: Kisah Sukses dan (juga) Kegagalan

KOMPAS.com — Bayangkan jika Anda memiliki uang Rp 1.000.000. Anggap uang sebesar itu bisa membeli satu telepon seluler baru. Kemudian, pemerintah melakukan redenominasi rupiah dari sebelumnya Rp 1.000.000 menjadi Rp 1.000. Setelah redenominasi, uang baru senilai Rp 1.000 bisa dipakai membeli satu telepon seluler serupa. Secara teoretis hanya itulah yang akan terjadi setelah redenominasi, yang artinya penggunaan mata uang baru dengan tujuan menggantikan mata uang lama. Bedanya, angka nominal yang tertera pada mata uang baru akan menjadi lebih kecil, biasanya dengan mengurangi jumlah angka nol. Berdasarkan bukti empiris, jika syarat-syarat dipenuhi, maka redenominasi tidak akan mengurangi nilai penghasilan riil. Redenominasi juga tidak akan mengurangi kemampuan daya beli mata uang lama, yang akan digantikan dengan uang baru.

Salah satu negara yang tergolong relatif sukses melakukan redenominasi adalah Turki, seperti tertulis dalam makalah ”The National Currency Re-Denomination Experience in Several Countries—a Comparative Analysis” oleh Duca Ioana, dosen dari Titu Maiorescu University Bucharest, Romania. Romania juga tergolong sukses melakukan redenominasi sehubungan dengan niatnya bergabung dengan zona euro. Steve Hanke adalah ekonom AS yang pernah mencoba menerapkan redenominasi pada akhir Orde Baru di Indonesia, tetapi batal. Namun, dia mengajari Bulgaria melakukan redenominasi yang tergolong berhasil. Juga dalam rangka persiapan memasuki keanggotaan Uni Eropa, walau agak berat, Turki memutuskan redenominasi pada tahun 1998.

Continue reading “Redenominasi: Kisah Sukses dan (juga) Kegagalan”

Sejarah B2W Indonesia [Part 3 of 4]

Pada Jum’at sore di bulan November 2005, sebuah pemandangan istimewa (bahkan bisa dikatakan luar biasa) terjadi di Jl. Cikapayang, tepatnya di bawah jembatan layang Pasupati. Ratusan orang beragam usia dan juga sepeda dari berbagai jenis dan merek berkumpul bersama dalam rangka mengkampanyekan sepeda sebagai sarana transportasi yang ramah lingkungan. Adalah Akhmad Riqqi, staf pengajar di Jurusan Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, yang mencetuskan ide itu bersama beberapa kawan dan juga mendirikan Bike Commuter Bandung (BCB), sebuah kelompok sepeda yang anggotanya juga merupakan anggota dari beberapa kelompok sepeda yang sudah ada.

“Sejak BBM naik, memang banyak yang pindah ke motor. Tapi motor juga kan masih bergantung pada BBM. Kita ingin memperlihatkan sepeda bisa menjadi alternatif transportasi supaya Kota Bandung bersih,” ujar Akhmad Riqqi mengenai alasan mengapa kegiatan itu digaungkan. Apalagi, lanjutnya, ada dua faktor penting yang sangat berkaitan, yaitu akibat kenaikan harga BBM dan juga kesadaran untuk hidup sehat dengan menggunakan alat transportasi yang ramah lingkungan (karena tanpa BBM). Sepeda sebagai moda transportasi pun bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk bersekolah, kuliah, dan aktivitas-aktivitas lainnya yang berkaitan. Makanya kegiatan ini memakai slogan “Bike to Work, Bike to Campus, Shared the Road”.

Continue reading “Sejarah B2W Indonesia [Part 3 of 4]”

Akhirnya, Batik Indonesia Diakui Dunia

Sudah seharusnya kita bersyukur bahwa pada akhirnya dunia telah mengakui bahwa batik adalah karya sejati bangsa Indonesia dengan ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Indonesia (the world cultural heritage of humanity from Indonesia) oleh UNESCO pada 02 Oktober 2009. Saya sendiri alhamdulillah pada hari itu bisa meramaikan kampanye batik dengan menggunakan sepeda bersama istri, kawan-kawan B2W Bandung, Paguyuban Sapeda Baheula (PSB), dan Ibu Sendi Yusuf (istri Wagub Jabar) berkeliling Kota Bandung pada Jumat pagi.

Kata batik berasal dari kata ambatik (Jawa) yang secara teknis berarti menuliskan atau menorehkan titik-titik ke selembar kain mori dengan menggunakan canting yang berisi lilin panas. Dalam bahasa Jawa, kata batik diartikan sebagai anulis atau anyerat yang berarti menulis, sedangkan arti yang lebih luas lagi disebut menggambar.

Continue reading “Akhirnya, Batik Indonesia Diakui Dunia”