Kebebasan ala New Freedom agar Ramadan Makin Kuat

“Waktu saya ABG, usaha untuk menjadi artis itu gak gampang. Harus melakukan casting berpuluh kali di beberapa tempat yang berbeda. Banyak ditolak, tetapi bersyukur kalau ada yang lolos ke babak selanjutnya. Kalau gak ada dukungan dari keluarga, mungkin saya sudah menyerah. Hingga kemudian berhasil jadi Duta IM3 saat usia masih belasan tahun.”

“Setelah jadi artis, mungkin ya, tidak lantas bisa leyeh-leyeh. Saya harus berusaha keras lagi melakukan syuting ini dan itu. Jujur ya, menjadi bintang iklan itu bayarannya jauh lebih besar daripada jadi aktris di sinetron atau film. Jatuh bangun meniti karir, hingga kemudian memutuskan menikah pada usia muda. Beres ngartis, berusaha lagi dengan membangun beberapa usaha. Capek.”

Continue reading “Kebebasan ala New Freedom agar Ramadan Makin Kuat”

Advertisements

Desa Berdaya ala Rumah Zakat + Indosat

Rumah adalah sebuah kata benda yang bermakna sebagai bangunan untuk tempat tinggal atau bangunan pada umumnya. Kata ‘daya’ menurut KBBI bermakna kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak, sedangkan ‘berdaya’ artinya berkekuatan, berkemampuan, atau bertenaga. Ia juga bermakna mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu. Dengan demikian ‘Rumah Berdaya’ berarti tempat tinggal yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat menginap saja tetapi juga mampu sebagai tempat berkumpulnya manusia yang berguna untuk mengatasi sesuatu. Desa Berdaya cakupannya jelas lebih luas lagi dari sekadar ‘rumah’ karena di sana ada lebih banyak lagi manusia dan lahan yang juga lebih lebar.

Desa Berdaya dengan tema “Dari Desa Membangun Negeri” merupakan salah satu bentuk kepedulian Rumah Zakat terhadap pembangunan di pedesaan dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat pemberdayaan masyarakat yang tinggal dan menetap di desa. Menurut CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, ini adalah program intervensi Rumah Zakat kepada masyarakat di sebuah wilayah melalui program-program pemberdayaan di bidang ekonomi (senyum ekonomi), pendidikan (senyum juara), kesehatan (senyum sehat), dan lingkungan (senyum lestari) sesuai dengan potensinya masing-masing. Semua bidang itu biasa disebut dengan empat rumpun senyum. Tujuan dibentuknya Desa Berdaya adalah untuk menciptakan perbaikan secara terukur di desa yang dimaksud.

Continue reading “Desa Berdaya ala Rumah Zakat + Indosat”

Nelpon ke Semua Operator Hanya Rp1/Detik, Mau?

Kang Aep merasa berdiri di persimpangan yang membingungkan. Sebelah kanan ada sungai yang begitu lebar, namun ada perahu tambang yang siap menyeberangkannya. Sedangkan di sebelah kiri adalah jalan beraspal yang menembus ke hutan. Kedua jalan itu sama-sama menuju Desa Ooredoo namun dengan waktu tempuh yang berbeda. Dua jam perjalanan lebih cepat menggunakan perahu tambang. Bahkan jalan yang melewati hutan terbilang belum aman. Satu sisi dia merasa yakin harus mengambil jalan yang ke kanan, tetapi tidak memiliki uang untuk membayar ongkos perahu tambang. Dilema.

Dia tidak tahu persis posisi calon penumpangnya saat ini. Kang Aep sudah berada di lokasi yang ditunjukkan calon penumpangnya tetapi dia tidak tahu yang mana. Ada banyak orang di sana. Sekali lagi dia mengecek saldo pulsanya, masih tetap Rp60, jelas tidak bisa menelepon atau mengirimkan pesan. Satu-satunya harapan adalah calon penumpang ojek online-nya itu menelepon, tetapi kemungkinan itu begitu tipis. Amat jarang sekali. Kang Aep hanya menghela nafas panjang, sambil kepalanya berputar ke segala arah, memastikan bahwa calon penumpangnya memberikan tanda keberadaannya. Ya Allah, bisiknya.

Continue reading “Nelpon ke Semua Operator Hanya Rp1/Detik, Mau?”

Ukuran Kaos Pun Merambah ke Dunia Provider

Ukuran kaos pun merambah ke dunia provider. Ini memang terjadi. Sosok itu geleng-geleng kepala. Dunia memang sudah berubah. Makin berkembang dan makin maju teknologinya. Persaingan pun terjadi di beberapa sektor. Sebagai konsumen, tentu saja sosok itu senang-senang saja. Jika dulu harga telepon genggam begitu mahal dan masih terbilang khusus kalangan menengah ke atas, kini zamannya telepon genggam bak kacang goreng. Satu orang seperti tidak cukup memiliki dua telepon genggam. Jika dulu harga nomor dan paketnya begitu mahal dan cenderung ’empot-empotan’ buat bayar per bulannya, kini siapa pun bisa mengganti-ganti nomornya sesuka hati. Paketnya makin bersaing dan makin murah. Bonus pun bertebaran di mana-mana.

Hari ini anak-anak muda sudah tidak mengenal lagi dengan istilah ‘pager‘. Mereka jauh lebih paham tentang game online terbaru dan juga paket internet yang gila-gilaan. Telepon genggam sudah beralih fungsi tidak lagi melulu sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai alat pencari data/berita plus nge-game. Mereka mencari spek bagus untuk bisa bermain game dengan nyaman, atau memilih fasilitas kameranya yang juara agar tampang narsis mereka bisa dibanggakan di media sosial. Fungsi telepon dan sms pun tergantikan oleh whatsapp, telegram, dan media sosial. Untuk itu, paket media sosial menjadi patokan utama untuk memilih provider yang tepat (baca: murah dan cepat). Saat ini, ukuran kaos bisa dijadikan paket oleh para provider itu.

Continue reading “Ukuran Kaos Pun Merambah ke Dunia Provider”

Merangkul Komunitas dengan Nama Baru

Ooredoo-03Siang itu, agak terkejut juga saat dirinya selalu disebut oleh Pak Hari Sukmono dan MC. Bukan apa-apa, sosok itu tetiba merasa jadi orang penting di acara yang biasanya hanya duduk anteng sambil menikmati makanan di atas meja. Jadi begini, dirinya mendapat undangan dari sang provider kuning pada hari Senin (30/11) di Kafe Soda. Biasa lah, namanya juga liputan. Tapi kalau kemudian dia diminta untuk maju ke depan dan menerima sebuah benda semacam penghargaan, tentu akan beda maknanya. Dan ini amat berkesan di dalam hatinya. Luar biasa. Hatur nuhun, Indosat.

Eh, tapi kali ini namanya sudah berubah. Sudah ada embel-embelnya di belakang dengan gaya berbahasa Arab. Yup, provider kuning yang telah mendampingi dirinya selama bertahun-tahun itu telah memiliki nama baru, yaitu Indosat Ooredoo [baca: Uridu]. Bersama dengan itu, mereka juga meluncurkan layanan internet 4G-LTE berkecepatan tinggi bernama 4Gplus, serentak secara nasional. Katanya, internet berkecepatan tinggi ini didukung oleh jaringan data terkuat yang telah hadir di 35 kota untuk 40 juta orang tanpa biaya tambahan. Ehm. Sosok itu sendiri mengakui bahwa dirinya tetap menggunakan si kuning sebagai nomor utama karena murah dan aman. Soal kecepatan mungkin hampir mirip dengan provider pesaing lainnya bergantung lokasi dan waktunya. Jadi, ini masalah selera saja.

Continue reading “Merangkul Komunitas dengan Nama Baru”