Semua Demi Jakarta Marathon

Subuh. Waktu seakan-akan bergerak begitu lambat. Tetiba semua yang ada di sekitarnya lenyap. Menghilang tanpa bekas. Sorak-sorai menguap begitu saja. Hanya ada suara nafas dirinya. Dia berusaha mengaturnya agar tidak putus di tengah jalan. Oksigen yang dihirup harus sesuai hitungannya dengan karbondioksida yang dikeluarkannya. Bergerak teratur. Langkah kakinya dijaga agar tetap stabil. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Bergerak mengikuti irama yang telah dilatihnya beberapa kali. Udara diusahakan menyatu dengan dirinya. Menjadi energi yang menstimulasi kerja otot tubuhnya. Angin tersenyum. Dedaunan menstimulasi kebahagiaan. Bangunan tua mengedip. Ini hari istimewa baginya.

Meski pernah mengikuti acara lari dengan jarak yang lebih jauh (baru pertama kali dan terbilang nekat plus banyak jalannya), namun baginya ajang lari kali ini begitu berbeda. Gaungnya mendunia. Apalagi melewati jalan utama metropolitan yang sehari-harinya padat dengan kendaraan bermotor. Polusi di mana-mana. Berjubel di dalam bus bercap Transjakarta kalau harus pergi ke suatu tempat yang melewati Harmoni. Namun hari itu istimewa. Kota seolah-olah ingin memberinya semangat dengan memberi ruang lebih bagi dirinya untuk berlari dengan nyaman. Sosok itu bahagia. Jakarta Marathon telah memberinya secuil kebahagiaan pada pagi itu. Takpeduli dengan catatan waktunya nanti. Takpeduli dengan orang lain yang berlari lebih cepat sehingga kerap mendahului. Baginya sudah cukup. Ada keluarga tercinta yang mendukung. Ada kawan-kawan yang turut bersemangat di hari yang sama.

Continue reading “Semua Demi Jakarta Marathon”

Advertisements

Berlarilah dengan Jujur

Hanya suara napas
Dan suara sepatu menapak aspal

Kejujuran memang tidak bisa dipaksakan. Ia lahir dari dalam diri dan hati. Ia muncul dari keterbiasaan. Ia terbentuk saat kata ‘iman’ tertanam dengan baik dan tumbuh subur. Meski lingkungan bermakar curang terus mengintai, di mana saja. Itulah yang tampak terjadi pada event lari internasional di Jakarta pada hari Minggu (26/10/2014). Pada saat sosok itu terengah-engah memantapkan diri untuk tidak berjalan, ada saja pelari lain yang tiba-tiba mengambil jalan pintas. Panitia memang ada, tetapi kan manusiawi lengah. Tidak hanya satu-dua. Setelah KM5, makin bertambah lagi jumlahnya yang memotong kompas. Itu baru yang kategori 10K. Bagaimana dengan yang 5K, HM, atau FM? Mungkin lebih dari yang dilihat sosok itu.

Continue reading “Berlarilah dengan Jujur”