K A L I P T R A

—-Perempuan muda itu menatap ke arah lain.
—-Danau yang terbentuk di sudut matanya sudah tak terbendung lagi, menciptakan aliran sungai yang melukis wajah pasinya, lalu jatuh menetes setelah sebelumnya menggantung pada pahatan dagunya.
—-Nafasnya seperti menahan beban yang amat berat. Urat-urat di kedua bola putihnya pun sudah mulai berisi sel-sel darah sehingga menciptakan rona merah pada kedua matanya. Sakit!
—-Aku memahami apa yang sedang dialami olehnya. Rasa sakit yang sama.
Tak ada angin di ruangan itu. Tak ada suara hingga ukuran mikrodesibel sekali pun. Dua manusia, namun seolah-olah mati. Mati oleh perasaannya sendiri. Terkalahkan oleh kematian yang membuat segalanya berubah. Kematian yang membuat ruangan itu laksana kubur. Gelap dan terasing. Benar-benar senyap. Sampai-sampai aku bisa mendengar tidak hanya kembang-kempisnya jantungku sendiri, tetapi juga derasnya aliran darah di dalam pembuluh darahku dan kejutan-kejutan listrik di seluruh saraf otakku.
—-Ada seonggok daging di keranjang itu … dengan darah yang menggenang!
—-Sementara di luar sana, aku tahu hampir semua orang tengah bergembira. Berkumpul bersama keluarga dan kerabat dengan hidangan khas ketupat yang memiliki nilai magis tidak dua.

Continue reading “K A L I P T R A”

Advertisements