(Masih) tentang Kabayan

Businessman

Kabayan baru saja memulai perusahaannya. Dia menyewa kantor yang apik dan mengisinya dengan perabotan kantor yang antik. Saat menikmati kantor barunya dengan memainkan kursi, Kabayan melihat ada orang yang akan masuk ke dalam kantornya. Dengan penuh gaya dan berharap akan dipandang hebat, Kabayan segera mengangkat telepon dan berpura-pura sedang mengerjakan proyek besar. Dia mengatakan kalau perusahaannya bisa dipercaya dan semua kliennya adalah perusahaan ternama, serta belum pernah gagal dalam mengerjakan proyek.Pada akhirnya, Kabayan meletakkan telepon dan bertanya pada orang yang datang itu, “Apa yang dapat saya bantu?”

Orang itu pun menjawab, “Ya, saya ingin mengaktifkan saluran telepon Anda.”

Continue reading “(Masih) tentang Kabayan”

Humor ala Kabayan

Kabayan adalah salah satu figur orang Sunda yang sangat kental dengan humor. Ia lugu, namun di balik keluguannya tersimpan kebijaksanaan yang dalam. Ia juga bisa licik, karena itu bisa menempuh cara apa pun untuk mewujudkan cita-citanya. Ya, Kabayan bisa menjelma siapa saja. Ia bisa berada pada pihak yang benar, tetapi ia pun bisa berada pada pihak yang salah. Ia bisa pada sisi yang terang, namun takjarang ia pun ada pada sisi yang gelap. Kabayan adalah representasi orang-orang yang ada di dunia ini, siapa pun orangnya.

Profil Kabayan selalu muncul pada ranah cerita di tatar Parahyangan dan karena itulah menjadi ikon yang takbisa dilepaskan dengan budaya Sunda. Pada umumnya, Kabayan selalu muncul sebagai orang kecil atau orang desa, bukan orang perkotaan. Mungkin kita mengenal sosok Nasrudin Hoja pada budaya Timur Tengah atau sosok Ali Baba pada kisah 1001 malam. Namun, Kabayan bisa menjelma siapapun, termasuk profesi kamu.

Continue reading “Humor ala Kabayan”

Kabayan Vs Kang Ibing (Sebuah Obituari)

Kabayan pulang ke rumah, disambut oleh kawannya.
“Haaarrr…, dari mana saja, Kabayan?”
“Dari mana saja…. Dari situ boleh, dari sana boleh.”
“Gara-gara kamu, Kabayan. Dari tadi saya menunggu, jadi saya kesiangan ke sawah.”
“Suruh siapa pake ke sawah segala? Waae … sawahnya saja suruh ke sini.”
“Ngaco! Yang bener kalau ngomong.”
“Tidak bener bagaimana? Ini juga bener ngomong mah, pake mulut. Kalau saya ngomong pake pantat, itu baru tidak bener. Mmm….”
“Bukan begitu, Kabayan. Kalau orang yang seperti kita tidak mau mengurus sawah lagi, kita akan kelaparan. Orang yang di kota juga.”
“Biar saja!”
“Naha?”
“Saya mah tidak pernah makan sawah. Makan nasi!”
“Sudah! Sudah! Pokoknya kita pergi ke sawah sekarang!”
“Heh-heh-heh-heh … iya, hayu. Sekarang kita atur bergantian. Sekarang kamu pergi ke sawah, saya nunggu di rumah. Tah, nanti … saya nunggu di rumah, kamu pergi ke sawah. Apan adil, tah.”
“Adil! Adil! Licik tau!”
“Hehehe… zaman sekarang mah kalau tidak licik, tidak kebagian, Penjol.”
“Penjol! Penjol! Kepala kamu yang penjol! Heh, Kabayan, Kabayan, sebagai seorang sahabat, saya hanya sekedar mengingatkan.”
“Sebagai seorang sahabat, saya hanya sekedar berterima kasih.”
“Jadi jangan terima enaknya saja.”
“Memang enak.”
“Apa yang enak?”
“Bulu ayam,” jawab Kabayan sambil mengilik kuping.
“Kabayan, tiap hari kerjamu ngilik kuping melulu, kapan mau pergi ke sawah?”
“Kamu juga sama, cuman ke sawah melulu. Kapan mau ngilik kuping?”
“Nih, cangkul. Ini bisa menolong mencari makan, tau!”
“Tau! Jadi ini harus dijual ke mana?”
“Bukan untuk dijual, Bodo! Buat menggarap sawah. Sana pergi!”
“Sekarang?”
“Nanti, sudah kiamat!”
“Haaah….”
“Kabayan! Saya denger, di rumahnya Pak Anom ada khitanan massal, nyunatin anak-anak yatim.”
“Oooh … jadi, saya harus ke sana, nyunatin anak-anak yatim dengan pacul ini.”
“Bukan begitu … saya denger nanti malam mau ada pesta. Kalau bener begitu, nanti malam kita ke sana. Kita nonton wayang, sambil kita mencari … awewe.”

Continue reading “Kabayan Vs Kang Ibing (Sebuah Obituari)”