Catatan Kakak di Pesantren (2)

Sabtu, 20/8/2016

Umi tau gak ih, selama di sini Kk minumnya sedikit terus. Sering minum 1 botol sehari. Kadang2 juga minumnya cuman setengah dari setengah botol. Jadi gimana ya? Oh gini….

Jadi minumnya itu setengah dari setengah botol.

Makannya juga kadang habis, kadang gak habis. Seringnya ga habis. Soalnya kaya gak laper gitu. Kaka seringnya minta minum ke Zahra, soalnya kalau minta ke yg lain pasti jawabannya sedikit lagi.

Continue reading “Catatan Kakak di Pesantren (2)”

Catatan Kakak di Pesantren (1)

Sabtu, 23/7/2016

Ade, Kakak kangen Ade. Maafin Kakak ya kalau salah.

Kamis, 4/8/2016

Abi, Umi, Kakak di sini meuni ga punya temen. Kemana2 teh sendiri, makan sendiri. Yg lain mah pada ngumpul, tapi pas Kakak nyamperin merekanya malah pergi. Ada juga yg ga pergi, tapi pas udah selesai makannya, langsung pergi gitu aja. Kalau Kakak abis duluan, suka disuruh tungguin. Terus ke sekolah teh sendiri, ngerjain PR sendiri. Kalau yang lain nanya ka Ka Bibin tentang PR teh suka Ka Bibin jawab. Tapi kalau Kakak tanya caranya/apalah itu suka gak dijawab. Bilangnya teh gak tahu, padahal Kk liat mah udah pada dijawab.

Continue reading “Catatan Kakak di Pesantren (1)”

Penyakit Cacar

Aku pernah kena cacar, rasanya gatal sekali. Cacarnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kalau digaruk rasanya perih sekali. Ummi menyalepiku setiap hari supaya aku sembuh. Keesokan harinya aku masih sakit. Sakitku 12 hari. Makin lama aku sembuh dan bersekolah. Aku senang bersekolah dan ketemu teman-teman lagi.

Ditulis oleh Bintan [25 Oktober 2011]

Continue reading “Penyakit Cacar”

Celengan Baru

Membiasakan anak untuk menabung memang mengasyikkan. Kelihatannya sulit, tetapi jika sudah diupayakan segalanya jadi terlihat mudah dan menyenangkan. Hal inilah yang coba dilakukan oleh sosok itu dan sang belahan jiwa. Lingkungan pergaulan Kakak Bintan dan Adek Anin memang unik dan membuat hati terus merasa was-was. Bagaimana tidak? Dalam radius 50 meter sudah ada 3 (tiga) warung dengan sajian menggoda bagi mata anak-anak. Setiap hari, berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk mereka jajan. Belum masalah kesehatan.

Atas dasar itulah sang belahan jiwa membelikan celengan untuk mereka berdua. Sosok itu sudah lupa, tetapi beberapa bulan yang lalu celengan dari tanah liat berbentuk ayam akhirnya menempati kamar tidur mereka. Setiap hari, tiap ada sisa uang, baik berupa kepingan koin ataupun uang kertas pasti dimasukkan ke dalam celengan ayam itu. Kadang, sosok itu maupun sang belahan jiwa juga memberikan uang lebih khusus untuk ditabungkan. Makin lama, celengan ayam itu pun bertambah berat. Kakak Bibin yang paling bahagia karena celengannya lebih berat daripada milik Adek Anin.

Continue reading “Celengan Baru”