Bahagia Itu di Keluarga

Alhamdulillah, usia pernikahan sosok itu telah menapaki angka 10 tahun dan menjelang 11 tahun. Takada kebahagiaan yang lebih dan menenangkan selain kebahagiaan di keluarga sendiri. Bisa memiliki anak, bercengkerama dengan mereka, dan didampingi istri yang cantik nan salihah. Sekali lagi, betapa pun hebatnya kita berada di lingkungan komunitas atau organisasi di luar sana (apa pun bentuk dan namanya), kebahagiaan bersama keluarga adalah muara akhirnya.

Kehebatan seorang suami tidak sebanding dengan kehebatan istri di belakang yang selalu mendukungnya menjadi orang hebat. Sosok itu mengakui bahwa keberhasilannya kini taklepas dari keberhasilan sang belahan jiwa mendukung dan mendorong semangatnya tanpa henti. Sosok itu sering menangis jika mengingat pengalaman keluarganya di awal-awal pernikahan. Dari yang tidak punya pekerjaan, tidak punya uang atau materi, hingga akhirnya dianggap berhasil oleh kawan-kawan saat ini. Apalagi yang hendak diucapkan selain ‘alhamdulillah’. Segala puji bagi Allah Swt.

Continue reading “Bahagia Itu di Keluarga”

Malabar Trip 2011

Keindahan apalagi?
Semuanya telah terangkum di sini
Pada buku catatan ini
Tentang kebersamaan yang ternilai

Minggu kemarin, bisa jadi adalah agenda terpadat dari sosok itu. Setelah malam minggunya membahas acara yang akan diselenggarakan minggu depan, paginya sosok itu pun langsung berangkat menuju kawasan Bandung Selatan bersama orang-orang terkasihnya. Demi keluarga tercinta, jadwal menemani Kang Ayi Vivananda (Wakil Walikota Bandung) menggowes ke Tenda Biru terpaksa dibatalkan.

Continue reading “Malabar Trip 2011”

Aku Belajar

Aku belajar hari ini
Kami belajar pada detik ini
Bahwa keluarga adalah proses
Bahwa keluarga bukanlah kelas
Bukanlah sekolah yang akan berakhir dengan kelulusan

Keluarga adalah berjalan
Adalah jalan takberkesudahan
Di sini kita belajar
Di sini kita memperbaiki kesalahan
Di sini kita berusaha memahami

Membangun keluarga bukanlah simsalabim
Bukanlah siapa pasangan kita
Bukanlah dia yang baik atau dia yang berpendidikan
Bukanlah dia yang bercahaya di mana-mana
Tapi keluarga adalah aku … bukan aku yang egois

Adalah aku yang ikhlas
Adalah aku yang sabar
Adalah aku yang terus menghitung kesalahan sendiri
Adalah aku yang takmenuntut pasangan
Aku yang terus berproses

Aku, kamu, dia, kami, kita, mereka

Pengingat Hidup Berkeluarga

Dan ketika sang kekasih meninggalkan sosok itu malam tadi ke Cilacap, ada desir yang merindu. Meski hanya 1-2 hari, kepergiannya membuat raga dan jiwa ini meluruh. Pada saat tengah mengerjakan tugas tanpa ditemani siapa pun kecuali suara lucu Cleopatra Stratan, sosok itu menemukan sebentuk notes milik sang kekasih. Sebuah catatan dari para sahabatnya menjelang kami menikah. Secarik catatan yang mengingatkan sosok itu kembali makna pernikahan yang sesungguhnya.

Bahagia, itulah kira-kira gambaran perasaan yang ada di hati kami ketika sahabat ukhti ini akan menyempurnakan separuh diennya.

Continue reading “Pengingat Hidup Berkeluarga”

Membangun Kebahagiaan Keluarga (2)

Lanjutan …

Ibrahim Kafi: “Ia adalah prototype istri yang mengerti kapan waktu yang tepat untuk berbincang dengan suaminya perihal permasalahan yang muncul di rumah. Ia tidak memaksa suaminya membelikan sesuatu untuk anaknya, hanya karena anak tetangga punya mainan atau sesuatu yang baru. Ia tidak menyuruh suaminya ‘berang’ hanya karena anaknya dilukai anak tetangga saat bermain. Ia tidak meminta dibelikan sesuatu di luar kemampuan suaminya. Ia tidak membebani suaminya dengan ‘tanggungan’ yang tidak sanggup dilakukan sang suami. Ia selalu menjaga diri, suami dan anak-anaknya agar tidak diterpa malapetaka dunia dan siksa ahirat. Ia selalu memompa semangat hati dan jiwa suaminya agar bisa berbuat yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia selalu mewadahi keresahan jiwa suaminya. Tidak membuat suaminya marah atau putus asa. Jika sang suami jatuh sakit, ia akan merawatnya sebaik mungkin. Jika penghasilan suami tidak cukup atau kehilangan sumber mata pencarian hidup, ia tidak menghardik maupun menistanya. Ia selalu menyemangati suaminya untuk mencari rezeki yang halal. Ia selalu setia mendampingi suaminya, baik dalam suka mapun duka.”

Presenter: “Lantas bagaimana dengan suami ideal?”

Continue reading “Membangun Kebahagiaan Keluarga (2)”

Membangun Kebahagiaan Keluarga (1)

Suatu hari, Ibrahim Kafi, seorang wartawan yang juga dikenal sebagai pakar ‘cinta’ dan pernah menulis buku “Kalam fi Al Hub wa Ash Shabr” yang mengupas habis tentang tema-tema cinta, pernah diundang dalam acara talkshow sebuah stasiun televisi swasta di Kairo. Terjadi dialog yang menarik antara presenter dengan sang pakar pada talkshow yang mengambil tema “Membangun Kebahagiaan Hidup Suami Istri” itu.

Presenter: “Menurut hemat Anda, seperti apakah sejatinya kebahagiaan hidup suami istri itu?”

Ibrahim Kafi: “Kebahagiaan hidup suami istri mewujud, apabila ada kesediaan saling memahami, menghargai, dan saling mengalah di antara masing-masing pasangan. Satu sama lain harus ‘bisa’ memahami dan menghargai pasangan hidupnya. Sang istri harus mengerti betul pekerjaan dan kesibukan suaminya. Ia harus mencurahkan segenap perhatiannya kepada suami, anak-anak dan segala hal yang terkait dengan ‘isi’ rumahnya.

Continue reading “Membangun Kebahagiaan Keluarga (1)”

Dan Dia Adalah Pilihan Hidupku

Membangun keluarga bukanlah sekadar tahu bahwa bata, pasir, semen, air, dan kerikil adalah unsur pembangun rumah. Membangun keluarga itu harus memahami ilmu hitung, ilmu tanah, rumus kekentalan campuran, dan segala hal yang mempengaruhi kuat-tidaknya pondasi sebuah rumah. Tidak hanya pondasi, tetapi juga keseluruhan unsur pembangun rumah tanpa kecuali, termasuk bagaimana proses perawatan yang baik agar usianya melewati beberapa generasi.

Sosok itu bukannya tidak tahu mengapa dia memilih pasangan jiwanya sebagai orang terkasih. Alasannya begitu suci. Begitu putih bahwa hatilah yang mampu menjawab itu semua. Bukan ucapan yang bercampur dengan ludah kenistaan. Atau kata-kata yang membuai sang mata hingga menjadi buta. Hatinya begitu menyatu. Hingga kerlingan mata atau senyuman nan indah cukup menjadi jawaban pasti.

Continue reading “Dan Dia Adalah Pilihan Hidupku”

Perjalanan Membelah Malam

Telah menjadi kebiasaan bagi keluarga kecil kami, untuk berjalan-jalan menikmati Kota Bandung sebagai bagian untuk mempererat hubungan. Berjalan-jalan di sini adalah makna yang sebenarnya, yaitu berkeliling Kota Bandung tanpa harus mampir ke suatu tempat seperti toko buku, toko pakaian, supermarket, atau tempat strategis yang memfasilitasi itu semua. Fasilitas kendaraan yang kami pakai pun sederhana, yaitu hanya sepeda motor dengan kapasitas empat penumpang (berhimpit-himpitan dengan posisi dari depan ke belakang adalah Bintan-saya-Anin-Umi).

Selepas maghrib, kami pun berangkat. Dari perempatan Binong, perjalanan langsung ke arah kanan, yaitu menuju jalan layang Kiaracondong. Di atas jalan ini, kami disuguhi oleh lampu-lampu yang cemerlang, menempel pada kaki-kaki pegunungan yang ada di wilayah barat, utara, dan timur. Bintan dan Anin pun merasa senang, apalagi saat melewati rel kereta di bawahnya dan pemandangan bulan di atas. Di perempatan Antapani, kami berbelok ke kanan, menembus lalu lintas yang lumayan padat. Lalu kami berbelok kiri memasuki Jl. Ars International yang sudah jelek. Lubang besar menganga di mana-mana, sehingga harus memaksa saya berhati-hati. Apalagi, jalur ini termasuk padat sekali sampai memasuki Jl. Ahmad Yani yang langsung diteruskan ke Jl. Cimuncang.

Continue reading “Perjalanan Membelah Malam”