Cuti Bersama atau Kerja?

Benarkah budaya kerja bangsa kita memang rendah?

Mungkin kalau berdasarkan data absen, bisa dibilang bangsa kita termasuk rajin kendati tidak menutup kemungkinan adanya beberapa orang yang sering telat dan pulang lebih cepat. Budaya kerja kita terlihat sangat jarang alpanya dan malah cenderung overtime karena jam kerja yang melewati jam kerja seharusnya. Akan tetapi benarkah bahwa bangsa kita benar-benar produktif pada masa jam kerja itu?

Continue reading “Cuti Bersama atau Kerja?”

Advertisements

Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja

Alhamdulillah. Rasa syukur ia ucapkan. Sosok itu seperti diberkahi ketika diterima bekerja di lingkungan islami. Lingkungan Al-Qur’an. Pada saat azan berkumandang, semua karyawan bersiap-siap shalat berjamaah di mushala. Tidak harus menunggu bel istirahat. Semua langsung bergerak.

Belum lagi lingkup kerjaan yang menata letak produk kitab suci umat Islam. Hampir setiap hari matanya tak lepas dari susunan khat, terjemahan, dan beberapa penguatnya. Sebut saja hadits, asbabunnuzul, atau referensi lainnya semacam Harun Yahya. Dan hari ini, sosok itu mendapatkan satu cakupan ilmu yang luar biasa. Bukti kebesaran Sang Maha.

Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman, 55: 19-23)

Continue reading “Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja”

Umi: Ketegaran Seorang Ibu dan Kekasih

Pasangan jiwa itu sayu. Tangannya mendekap erat jaket yang membungkus. Tangan lainnya menarik selimut tebal. Bibir pasinya berbisik. Sosok itu mendekat dan mengangguk. Tak lama, motor kuning melaju di kegelapan. Makan bersama tujuannya. Mencari lauk pauk untuk teman nasi. Sosok itu bersyukur. Bersama pasangan jiwanya masih bisa mengganjal perut meski sederhana.

“Bang, kau tahu bahwa semua saudara-saudaraku bisa kuliah?” Sosok itu mengangguk. “Kau tahu bahwa kuliah adikku pun didukung oleh penghasilanku?” Sosok itu mengangguk lagi. “Aku pun ingin kuliah, Bang.” Sosok itu tersenyum. “Suatu saat. Suatu saat nanti, Hon.” Ada binar kecemburuan di sudut matanya. “Suatu saat akan kau nikmati rasanya kuliah.”

Continue reading “Umi: Ketegaran Seorang Ibu dan Kekasih”