Kitab Berbohong #3

Minggu pagi yang cerah, keesokan harinya. Burung-burung pagi asyik berterbangan dengan lincahnya, meliuk melewati dahan-dahan pepohonan. Angin bertiup perlahan, sementara awan juga sedikit bergerak ke arah utara. Sinar matahari belum menyengat. Beberapa warga sedang membersihkan halamannya. Beberapa juga terlihat sedang membersihkan selokan dan jalan yang terletak tepat di depan rumahnya. Ada ibu yang sedang bergegas pulang dari berbelanja, namun ada juga yang sebaliknya, baru berangkat berbelanja. Juga terlihat beberapa ibu muda sedang menggendong anak-anaknya yang masih kecil sambil menyuapkan bubur sarapannya. Pagi yang indah untuk bersosialisasi.

Continue reading “Kitab Berbohong #3”

Advertisements

Kitab Berbohong #2

Malam telah turun. Bintang gemintang mulai bermunculan satu persatu mengerlipkan cahayanya, sementara bulan sudah maujud sejak sore tadi. Cahaya bulan telah penuh menyinari permukaan bumi, namun terasa kurang bagi manusia hingga menambahkan cahaya lampu di tiap-tiap rumah dan beberapa jalan.

Riki, anak lelaki berusia delapan tahun merasa cemas. Rumah orangtuanya yang berlokasi di Blok F dan bernomor 13 terasa lengang. Kedua orangtuanya sedang pergi. Riki cemas karena sebuah guci kesayangan ibunya telah pecah. Tanpa ia sadari, Riki telah menyenggol guci itu ketika asyik bermain kapal-kapalan yang terbuat dari kertas. Serpihan-serpihan keramik dari yang besar hingga yang kecil telah berserakan di berbagai tempat. Riki tersedu. Apalagi jika mengingat kemarahan ibunya yang sangat ringan mulut dan ringan tangan itu. Sakit sekali.

Continue reading “Kitab Berbohong #2”

Kitab Berbohong #1

Seekor burung melayang rendah melewati sebuah rumah di Blok C bernomor 17. Tanaman pagar berdiri kokoh melindungi halaman rumah itu dari serbuan debu jalanan, selebihnya tidak ada tanaman lain yang ditanam di tanah pekarangannya. Hanya lima buah pot tanaman anggrek yang tergantung rapi. Satu jemuran praktis yang sudah terlipat teronggok di samping rumah, dengan beberapa kain bekas. Pintu depannya terbuka penuh, memperlihatkan seorang anak lelaki berusia lima tahun yang sedang asyik bermain di tengah serakan mainannya yang berlainan jenis.

“Dede…, mandi yuk. Sebentar lagi bapak pulang,” terdengar suara sang ibu. Anak lelaki itu menoleh ke arah belakang. Matanya yang bening seolah mencoba memaknai ucapan ibunya barusan. Tak lama ia kembali me-ngeeeng-kan mobil ambulansnya menabraki mainan lainnya.

Continue reading “Kitab Berbohong #1”