Desa Berdaya ala Rumah Zakat + Indosat

Rumah adalah sebuah kata benda yang bermakna sebagai bangunan untuk tempat tinggal atau bangunan pada umumnya. Kata ‘daya’ menurut KBBI bermakna kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak, sedangkan ‘berdaya’ artinya berkekuatan, berkemampuan, atau bertenaga. Ia juga bermakna mempunyai akal (cara dan sebagainya) untuk mengatasi sesuatu. Dengan demikian ‘Rumah Berdaya’ berarti tempat tinggal yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat menginap saja tetapi juga mampu sebagai tempat berkumpulnya manusia yang berguna untuk mengatasi sesuatu. Desa Berdaya cakupannya jelas lebih luas lagi dari sekadar ‘rumah’ karena di sana ada lebih banyak lagi manusia dan lahan yang juga lebih lebar.

Desa Berdaya dengan tema “Dari Desa Membangun Negeri” merupakan salah satu bentuk kepedulian Rumah Zakat terhadap pembangunan di pedesaan dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat pemberdayaan masyarakat yang tinggal dan menetap di desa. Menurut CEO Rumah Zakat, Nur Efendi, ini adalah program intervensi Rumah Zakat kepada masyarakat di sebuah wilayah melalui program-program pemberdayaan di bidang ekonomi (senyum ekonomi), pendidikan (senyum juara), kesehatan (senyum sehat), dan lingkungan (senyum lestari) sesuai dengan potensinya masing-masing. Semua bidang itu biasa disebut dengan empat rumpun senyum. Tujuan dibentuknya Desa Berdaya adalah untuk menciptakan perbaikan secara terukur di desa yang dimaksud.

Continue reading “Desa Berdaya ala Rumah Zakat + Indosat”

Advertisements

Arti Persahabatan: Dongeng Komunitas [2]

Seorang anak kecil memegang dua buah apel dengan kedua tangannya. Ibunya kemudian datang mendekat, tersenyum, dan bertanya, “Sayang … boleh Mama minta satu?” Si anak memandang ibunya beberapa detik, kemudian dengan cepat menggigit kedua apelnya, bergantian. Melihat hal itu ibunya berusaha menyembunyikan kekecewaan, senyumya telah luntur dari wajahnya. Sampai kemudian si anak menyodorkan salah satu apel yang telah digigitnya tadi kepada ibunya. Dengan sukacita dan senyum ceria, ia berkata, “Ini untuk Mama, yang ini LEBIH MANIS.” Hening. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir ibunya, kecuali senyum dan bola mata yang berkaca-kaca.

Bangaswi_1

#BloggerBDG bersama Pak Wishnutama

Komunitas/ko·mu·ni·tas/ n kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban. Komunitas sastra adalah kelompok atau kumpulan orang yang meminati dan berkecimpung dalam bidang sastra; masyarakat sastra. Itulah pengertian tentang komunitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dikutip sosok itu dari KBBI Daring. Pada akhirnya, komunitas semakin mengerucut pada sekumpulan orang yang suka pada hobi atau aktivitas tertentu. Mayoritas mengerucut lagi pada hobi yang sama. Tidak ada sekat di sana. Meski dari latar belakang ekonomi atau budaya yang berbeda, semua anggota komunitas berbaur dan tertawa bersama karena memiliki hobi yang sama.

Hobi/ho·bi/ n kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Misal, melukis itu sebagai hobi saja, bukan sebagai mata pencahariannya. Untuk kata ini hampir semuanya sepakat bahwa hobi adalah aktivitas yang menyenangkan. Awalnya dikerjakan secara sendiri. Ada yang suka baca, suka nulis, suka bersepeda, suka lari, dan lain sebagainya. Hingga kemudian beberapa orang berinisiatif untuk berkumpul dan membentuk komunitas hobi. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga wajar saja kalau mereka memang cenderung lebih suka berkumpul. Dengan lahirnya komunitas, hobi seseorang semakin menggebu-gebu dan terus mengalami peningkatan yang signifikan. Jika berhubungan dengan keterampilan, dijamin keterampilannya akan bertambah. Semua itu bisa terjadi karena ada interaksi di sana. Interaksi saling berbagi.

Kalau berbicara soal hobi, tidak ada hitung-hitungan lagi di sana. Semua atas dasar senang dan suka. Dia langsung membeli produk yang mendukung hobinya sesuai dengan budget-nya. Beberapa saat kemudian dia bisa langsung meng-upgrade produk tersebut agar semakin nyaman. Apapun hobinya. Jika hobi yang ditekuni tidak ada produknya, maka dia akan mencurahkan semua perhatian dan waktunya. Berkumpul dan berjejaring, lalu membuat program acara agar semakin banyak orang yang (semoga saja) mau mengikuti jejak mereka memiliki hobi sama. Tidak ada hitung-hitungan mencari keuntungan pribadi, karena prinsip semua anggota/pengurus komunitas adalah saling berbagi. Sudah ada kepuasan di sana. Keuntungan lebih diarahkan ke kas komunitas, karena semua itu akhirnya akan dikembalikan kepada anggotanya. Hobi dan komunitas bukan ajang mencari penghasilan.

Namun dunia ini tidak seindah teori atau lukisan-lukisan pemandangan alam di beberapa rumah atau di pinggir Jln. Braga. Meski tidak banyak, ada saja orang yang menyalahgunakannya demi keuntungan pribadi semata. Akibatnya, komunitas pun menjadi tidak kondusif dan saling curiga. Tidak ada rasa percaya lagi dan hobi pun menjadi tercemar. Sosok itu sudah makan asam garam soal komunitas. Dari komunitas kepenulisan, sepeda, lari, penghijauan, pendidikan, hingga blogger. Kalau sudah ada gesekan di dalam komunitas, sulit untuk mengembangkan hobi dengan maksimal. Apalagi kalau sudah dihubungkan dengan materi. Apapun yang dikerjakan selalu dilihat dengan mata menyipit. “Pasti untuk keuntungan sendiri. Pasti keuntunganya untuk para pengurus. Pasti … pasti … pasti….” Hei! Ini komunitas, bukan perusahaan atau start up!

Fiuhhh! Tetapi itulah yang terjadi. Realitas memang terlihat lebih kejam dari teori yang ada. Semuanya menjadi rumit. Padahal ini hanyalah sekumpulan orang yang mencoba memaksimalkan hobi. Sosok itu sendiri hanya menarik nafas panjang. Betapa hobi bagi dirinya hanyalah untuk bersenang-senang, untuk meluapkan ruang kosong yang ada di kepalanya agar kehidupannya bisa berjalan dengan seimbang. Masalah rumah tangga dan masalah ekonomi adalah dua contoh kerumitan hidup manusia. Salah satu cara untuk menyeimbangkannya selain mendekat pada Sang Maha adalah dengan melakukan hobi. Nah, kalau ternyata bagian dari hobi ini mememunculkan masalah baru, tentu jalan terbaik adalah meninggalkan hobi tersebut. Itu solusi ekstrem. Paling aman, ya meninggalkan komunitas dan menjalankan hobinya (kembali) seorang diri. Tetapi … konsep dan prinsip saling berbagi akan hilang. Lenyap.

Bangaswi_2

Sosok itu di Kafe D’Jengkol (foto: Kang Goen)

Sosok itu mengeluh. Apalagi kalau dirinya sedang merenung di sudut malam. Apa jadinya jika pengurus komunitas tidak didukung oleh anggotanya? Bubar? Itu mudah sekali. Menarik diri? Jauh lebih mudah. Ingin menangis rasanya. Berteriak sekeras mungin dan menyanyikan lagu Metallica sambil melompat-lompat. Atau menengadahkan tangan dan mengadu pada Sang Maha. Komunitas jelas membutuhkan dukungan dari seluruh anggotanya, khususnya bagi yang aktif. Namun komunitas bukanlah partai yang membutuhkan banyak dukungan. Komunitas hanyalah sekumpulan orang yang memiliki hobi sama. Semua atas nama kebersamaan dan kesenangan pada hobi tersebut. Saling berbagi. Atas nama itulah, tentu keluhan di atas harus diabaikan. Waktu dan materi harus dikorbankan. Namun tidak banyak anggota yang memahami hal ini. Mereka tidak peduli.

Ada beberapa pengurus yang harus menangis di sudut malam saat pulang berkegiatan dan sukses meramaikan acara komunitas, harus berhadapan dengan keluarganya yang mengadu tidak ada beras lagi. Ada pengurus yang terus tersenyum dan memancarkan wajah bahagia selama acara komunitas melihat kegembiraan semua anggota yang mendapatkan banyak hadiah tetapi harus menangis di dalam kamar mandi karena tidak memiliki ongkos untuk pulang ke rumah. Ada pengurus yang memegang banyak voucher belanja atau voucher taksi tetapi takpernah bisa menggunakannya karena itu semua adalah hak anggota, dan kemudian ia hanya bisa menggunakan uang lusuh buat membayar angkot. Ada pengurus yang harus berjalan berkilo-kilometer demi mengirit ongkos dan menangis saat mengingat betapa anak-anaknya tidak bisa jajan hari itu, demi sebuah rapat komunitas.

Mungkinkah sudah semakin sedikit orang yang memiliki sedikit saja perhatian untuk peduli terhadap sesama. Mungkinkah sudah semakin sedikit orang yang lebih suka mengkritik secara langsung daripada mengkritiknya di media sosial. Mungkinkah telah hilang rasa kebersamaan yang pernah dipupuk bertahun-tahun lamanya, hanya karena ketidaksukaan pada satu-dua orang yang kini sama-sama berjibaku di komunitas. Mungkinkah sudah semakin banyak orang yang egois namun tidak pernah disadarinya. Sosok itu beristighfar. Dia hanya berlindung pada Sang Maha semoga itu semua bukan dirinya. Dia hanya terus berjuang untuk membesarkan komunitas dengan caranya sendiri. Cukuplah bagi dirinya dukungan dari kawan-kawan pengurus yang selalu mengingatkan agar bisa berjalan di track yang lurus. Cukuplah dukungan dari keluarga sebagai tempat berpulang yang paling istimewa sebelum ajal tiba.

BloggerBDG

Pengurus dan Anggota #BloggerBDG (foto: Kang Argun)

Alangkah indahnya jika anggota komunitas saling percaya. Alangkah indahnya jika anggota komunitas saling berpegangan tangan dan saling menguatkan. Alhamdulillah acara “Ngobrol Kece” kemarin berhasil dengan baik, dan dapat memuaskan beberapa pihak yang ikhlas membantu. Tiga hestek berhasil menjadi trending topic pada waktu yang berbeda. Semua itu jelas bukan kerja satu orang atau kerja pengurus semata. Hal itu bisa terjadi atas dukungan semua peserta yang hadir. Dan alangkah indahnya jika semua anggota komunitas ikut berjibaku. Betapa dahsyatnya hasil yang bisa dicapai jika semua itu bisa diwujudkan. Semoga sosok itu tidak sedang bermimpi. Semoga semua itu bisa dicapainya di kemudian hari, dalam waktu dekat ini. Semoga … amiiin. Hatur nuhun untuk semua pengurus di komunitas manapun yang telah mengorbankan semua waktu, ide, dan materinya. You’re the BEST!

Jangan tergesa-gesa menilai seseorang, siapapun dia. Janganlah seseorang menghakimi. Ingatlah selalu pada Allah Yang Maha Menghakimi. Berilah kesempatan kepada setiap orang untuk memberikan penjelasan dengan caranya sendiri.

Ultah ke-1 Sasusu

Komunitas adalah wadah yang membawahi beberapa orang yang memiliki pandangan sama tentang sesuatu. Kesamaan ini bisa bermacam-macam seperti memiliki hobi yang sama (bersepeda, bermotor, bermobil, berjalan, berlari, dll) atau bisa juga menicicipi makanan atau minuman yang sama. Di Bandung, ada satu komunitas sepeda yang bernama ‘ABEU’. Kepanjangannya ternyata unik dan lucu, yaitu ‘aya bubur eureun’ alias ‘kalau ada (tukang) bubur langsung berhenti’.

Nah, sekarang main tebak-tebakan tak berhadiah. Apa yang ada di benak kamu saat mendengar kata “sasusu”? Persepsi dari kita semua bisa jadi akan berbeda-beda tergantung pengalaman hidup masing-masing. Yang paling sering–mungkin–adalah saudara sepersusuan. Dan dari semuanya sudah pasti akan menyimpulkan ada hubungannya dengan susu. Hayooo ngaku? Mau berbentuk bubuk, cream, murni, atau bahkan asli sekalipun pasti frame susu telah hadir di benak kita semua. Satuju … ta!

Continue reading “Ultah ke-1 Sasusu”

Persahabatan Sepeda

beginilah indahnya
persahabatan yang apa adanya
ditemukan pada dunia sepeda
keindahan … ya beginilah

Sepulang kerja, sosok itu langsung menggowes SPIDI-nya dengan kecepatan penuh membelah Bandung yang hampir mengelam. Malam sebutir kelam memang. Alhamdulillah kemarin cuaca begitu cerah dari pagi. Semburat merah dan orange masih terlihat di beberapa sudut langit Bandung. Dan kegelapan pada akhirnya menemani sosok itu saat memasuki hutan kecil menjelang Gedung Sate.

Continue reading “Persahabatan Sepeda”

Q&A tentang Dunia Menulis (3)

Wika: Mau tanya tulisan yg menggurui bukan mencerahkan itu spt apa maksudnya, terus gimana triknya jika nulis cerita diawal sama akhir dapet, tapi tengah2nya mentok. Terus terang aku ga suka nulis dalam bentuk banyak dialog, seneng lebih menceritakan [spt tulisan curhat ke diary].

Bang Aswi: Tulisan menggurui itu biasanya banyak terdapat pada bacaan anak2. Misalnya saja ketika cerita sudah mengalir dengan baik, ujug2 ada tulisan yang mengutip dari ayat2 tertentu dalam AlQuran atau hadits2 nabi. Artinya, Teh Wika sebenarnya bisa menebak apakah sebuah tulisan itu menggurui hanya dengan membacanya saja. Kalau sudah tahu tulisan yang menggurui itu seperti apa, cobalah untuk menghindarinya.

Continue reading “Q&A tentang Dunia Menulis (3)”

Desain Kaos PBA

Bergabung dengan sebuah komunitas adalah keberuntungan. Dan sosok itu mengamininya. Apalagi awal keberhasilannya dimulai dari komunitas kepenulisan. Bahkan, jauh sebelum itu sosok itu telah aktif di pelbagai komunitas kampus. Di sanalah dia mendapatkan banyak kawan yang saling getok-tular berbagai pengalaman. Dari bidang yang awalnya asing, menjadi bidang yang sangat disukainya. Komunitas, sebuah jejaring sosial yang nyata.

Dari pelbagai komunitas, sosok itu berkembang terus. Selain komunitas menulis, sebut saja komunitas olahraga (khususnya sepeda dan yang sedang dijajaki saat ini adalah komunitas lari), komunitas blog, komunitas lingkungan hidup, hingga komunitas penulis bacaan anak (PBA). Dan komunitas yang terakhir inilah yang akan dicoba diangkatnya.

Continue reading “Desain Kaos PBA”

B2W sebagai Komunitas yang Tepercaya 2009

Menurut Majalah SWA No.XXV/12-25 November 2009, Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia atau yang biasa dikenal dengan Bike To Work (B2W) Indonesia dipercaya menduduki peringkat pertama sebagai Indonesia Most Recommended Consumer Community 2009. Jelas, hal ini cukup membanggakan mengingat perjuangan komunitas yang peduli pada masalah lingkungan dengan mengurangi polusi udara dan suara, telah berlangsung selama 5 tahun, yaitu sejak 4 Agustus 2004 di Plaza Danamon, Jakarta. Di Bandung sendiri, B2W chapter Bandung baru berdiri pada November 2005 setelah gebrakan pertamanya digagas oleh Akhmad Riqqi, pendiri Bike Commuter Bandung.

Komunitas B2W telah mengalahkan beberapa komunitas yang sebenarnya jauh lebih dikenal dan popular. Sebut saja Harley Davidson Club Indonesia (2), Forum Pembaca Kompas (7), Kaskus (9), Slankers (12), Jakmania (26), Multiply Indonesia (29), Harry Potter Indonesia (30), dan lain-lain yang mayoritas adalah komunitas pecinta kendaraan bermotor beroda dua dan beroda empat. Dari 30 peringkat teratas, ada 14 komunitas kendaraan bermotor yang terdiri dari 5 komunitas kendaraan bermotor beroda dua dan 9 komunitas kendaraan bermotor beroda empat. Apabila dirunut dari waktu berdirinya, tentu membanggakan mengingat B2W terbilang masih berusia jagung jika dibandingkan dengan semua komunitas yang ada.

Continue reading “B2W sebagai Komunitas yang Tepercaya 2009”