Eksis di Media Massa

Hal yang lumrah jika seseorang ingin dikenal. Ingin dianggap. Tak heran kalau beberapa pun menggunakan berbagai cara untuk memuluskan jalan itu. Dari yang normal sampai yang sudah tidak wajar lagi. Bagi orang-orang tertentu, menggunakan cara yang unik atau tidak biasa bisa jadi jalan. Dan memang, eksis dianggap suatu seni tertentu agar dapat dikenal dan dikenang.

Sosok itu beberapa kali menunjukkan keeksisannya. Tidak hanya melalui tulisan yang memang sudah mendarah-daging di media massa. Tercatat, sudah ada empat kali fotonya terpajang di media massa. Anggap saja tidak disengaja. Akan tetapi, hal itu pun karena akitivitasnya di beberapa komunitas. Ya, semakin kita aktif, semakin eksis pula seseorang. Sangat berbeda bagi yang ingin tiarap dan tidak melakukan apa-apa.

Kegiatan olah fisik yang paling digandrunginya adalah bersepeda yang telah dilakoni secara serius pada 2005. Beberapa pesepeda sudah biasa eksis. Eksis yang narsis. Hanya bekal kamera atau HP terbaru, eksislah dia dengan berbagai komentar pada halaman foto di jaringan sosial. Sosok itu bersepeda murni dari hati. Sehingga ketika beberapa kawan berhenti atau istirahat sejenak dari kegiatan bersepeda, sosok itu masih asyik saja menggowes.

Continue reading “Eksis di Media Massa”

Koran: Media Pengakuan Diri

Sebelum lupa, sosok itu kembali mengingatkan. Sebelum basi, sosok itu menengok ke belakang. Tepatnya tahun lalu di bulan terakhir. Sebagai (orang yang mengaku) penulis, rasanya tidak sah jika tidak menunjukkan bukti akan profesi kepenulisannya. Selain buku, media massa pun dianggap sebagai bukti kuat. Untuk itu, marilah kita berbicara tentang koran.

Adalah Charlie yang memulainya pas di permulaan Desember 2010. Kompas Jabar memuat tulisannya di rubrik “Forum”. Tulisannya begitu tajam mengkritik para pesepeda (khususnya) dan pemkot (sebenarnya). Disebutkan di sana (salah satunya) bahwa jiwa pesepeda (kota) tidak akan sehat meski fisiknya sehat. Lebih-lebih, ia pun menuliskan bahwa Bandung sudah terlanjur berantakan dan tidak mungkin diubah menjadi kota yang ramah lingkungan.

Banyak pesepeda yang kaget dan marah. Sosok itu pun begitu, awalnya. Pada akhirnya sang sosok tersadarkan bahwa Charlie sengaja memancing agar pesepeda dan pemkot bisa bangkit lagi dari tidur panjangnya. Jangan terlalu terlena dengan bias ramainya pesepeda dan dibuatkannya jalur sepeda. Sosok itu menganggap tulisan itu sebagai tantangan bahwa bersepeda itu sangat penting. Bersepeda itu sangat sehat dan bisa menciptakan kota yang hijau haruslah dijelaskan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dimuat di media massa.

Continue reading “Koran: Media Pengakuan Diri”

Seorang Ibu yang Menangis

Kertas koran itu teronggok. Ia telah lusuh akibat campuran remasan dan airmata. Sedikit bergerak karena terpaan angin dari arah pintu yang terbuka lebar. Pada halaman yang terbuka, sedikit terbaca adanya berita tentang seorang oknum PNS yang tertangkap karena kasus korupsi. Lagi-lagi negara ini telah melahirkan generasi muka badak. Ingin badan besar tapi tak ingin sakit jika dicubit. Mencoba mematikan rasa sensitif di sekujur kulitnya, terutama di daerah wajah.

Sementara di teras, seorang ibu menangis. Airmatanya telah menganaksungai di wajahnya, hingga menetes tepat di bagian bawah dagunya. Tatapannya kosong, padahal pekarangan rumahnya adalah taman yang paling indah di kompleks perumahan itu. Dan jika kamu saat itu berada di dekatnya, jangan kaget kalau menyentuh kulitnya adalah seperti kamu membuka pintu lemari es dan membiarkan hawa di dalamnya menyebar ke kulitmu. Begitu dingin!

Koran yang lusuh itu adalah hasil perbuatannya. Tak lebih dari setengah jam yang lalu ia begitu bersemangat membaca koran, sama semangatnya setiap hari saat membuka lembaran demi lembaran koran langganannya. Itulah pekerjaan yang bisa dilakukannya untuk mengisi hari-harinya yang semakin senja. Dan koran itu pun lusuh, saat ia mengetahui kalau oknum PNS yang dimaksud adalah anaknya. Anak tersayangnya.

Seorang ibu menangis. Namun ia tidak menangisi kelakuan anaknya yang sudah pasti mencoreng-moreng keluarga besarnya. Biarlah itu menjadi tanggung jawabnya sendiri. Toh, ia bukan saja sudah baligh, tetapi juga sudah menjadi kepala keluarga di rumah tangganya sendiri. Sudah punya dosa yang harus ditanggung sendiri. Ia menangisi dirinya sendiri.

Ya, seorang ibu menangis karena dirinya sendiri. Ia seperti tersadar bahwa anaknya bisa seperti itu karena kelakuan dirinya sendiri. Ia sendiri yang telah membentuk anaknya menjadi seperti itu, melalui pendidikan sekolah yang tidak berkah. Seorang ibu menangis, saat ia melihat dirinya sendiri sedang mengantar anaknya masuk ke SD favorit. Ia menyuap pihak sekolah agar anaknya bisa masuk dengan selamat. Ia pun melakukannya lagi saat anaknya masuk ke SMP, SMU, dan perguruan tinggi favorit. Dan pada akhirnya, ia pun hanya bisa menangis.[]

Bang Aswi (28 Juni 2010)

Sebuah doa untuk anakku, Bintan, yang akan menapaki lingkungan baru di sebuah tempat bernama Sekolah Dasar. Semoga pendidikanmu berkah, Nak.