Bandung Princess Cake: Kue Artis ala Syahrini

Bandung Princess Cake — Sosok itu mengernyit. Aneh saja, masa ada pembukaan toko kue di bulan Ramadhan, pagi menjelang siang pula? Lha, gimana caranya nyobainnya? Namun memang bukan Inces namanya kalau tidak membuat sensasi. Kenal Inces, kan? Itu tuh, Princess Syahrini yang dikenal sebagai artis pembuat sensasi dengan nada berbicara khas, bak perempuan mannnjah. Liburannya pun gak tanggung-tanggung, bisa berhari-hari di Benua Eropah sana atau di mana saja negara yang ia suka. Salah satunya adalah Jepang. Tamasyanya pun direkam dan dimasukkan ke media sosial, dijamin langsung viral dan bikin iri. Yah, bukan Inces namanya kalau gak bikin sensasi dan irihhh.

Di Jepang, ia melihat kue yang menurutnya enak banget. Sang adik yang juga pebisnis pun membisikkan kata-kata ajaibnya di telinga Syahrini. Matanya langsung berbinar dan ia teringat dengan mimpinya yang belum tercapai, yaitu membuat usaha di bidang pastry. Kue-kue enak ala Jepang itu kemudian direkamnya dalam pikiran lalu diterapkan dengan kue khas Indonesia. Hasilnya adalah Bandung Princess Cake yang pada hari Rabu (21/6/2017) kemarin langsung di-launching di Jl. Cihampelas. Tak ayal, ada banyak orang yang rela mengantri dari pagi demi membawa pulang 3 (tiga) kotak kuenya yang fress from the oven. Hanya tiga, agar semua calon pelanggan kebagian.

Continue reading “Bandung Princess Cake: Kue Artis ala Syahrini”

Advertisements

Makan Pasta di Liz Palace Inn

Makan pasta di Liz Palace Inn telah memberikan sosok itu sensasi yang begitu istimewa. Pasta? Ya, selain mi instan yang memang asli dari Asia, ada juga makanan serupa tapi berasal dari Italia (katanya). Pasta adalah makanan yang terbuat dari adonan tepung gandum tanpa menggunakan ragi atau air. Gandum yang terpilih juga harus memiliki kandungan gluten tinggi agar dapat bereaksi cepat dengan air. Kata ‘pasta’ sendiri ternyata berasal dari bahasa Yunani ‘pastos’ yang berarti adonan. Konon ada dua versi soal sejarah pasta yang datang ke Italia. Versi pertama dibawa oleh Marcopolo setelah berkunjung ke Cina (masa Dinasti Yuan). Namun versi ini ditentang karena ada prajurit Genoa yang sudah mengonsumsi pasta kering pada 1279, sementara Marcopolo baru tiba di Italia pada 1295. Versi kedua dibawa oleh para pedagang Arab dari Lembah Mediterania. Buktinya adalah adanya resep memasak pasta di buku sejarah Talmud yang ditulis pada abad ke-5. Pasta kemudian dikembangkan menjadi pasta kering pada abad ke-12 agar lebih awet dan bisa dibawa-bawa.

Mayoritas masyarakat Indonesia suka dengan mi instan, apalagi setelah salah satu produk dari perusahaan raksasa telah berhasil menancapkan kukunya sehingga begitu mudahnya mendapatkan produk kuliner ini di mana saja. Dari warung kecil hingga supermarket bonafit, dari warung kopi yang menyediakan mi instan siap saji hingga kafe-kafe yang makin menjamur. Semua itu menawarkan kenikmatan mengunyah mi instan dengan pemilihan toping maupun jualan suasananya. Bagi yang lagi bepergian, jangan khawatir karena telah ada mi instan siap seduh. Praktis, tinggal menuangkan air panas, diamkan beberapa saat, jadi deh. Apa yang tidak ada di dunia ini? Seolah semuanya telah diciptakan dengan begitu mudahnya. Demi kenyamanan manusia.

Pene Arabian

Pene Arabian Rp26.900

TERDAMPAR DI LIZ PASTA CAFE

Rabu siang, 11 Januari 2017, cuaca Bandung sedang panas-panasnya. Sosok itu mengayuh sepedanya dengan teratur. Baik cuaca panas atau angin sepoi-sepoi, irama ngabosehnya memang selalu teratur. Hanya kecepatannya saja yang agak berkurang. Perutnya sudah berbunyi sejak tadi sebagai tanda alarm lapar yang menguing-nguing. Begitu pula dengan tenggorokannya yang makin mengering. “Ahhh, tentu nikmat sekali kalau bisa menyeruput air dingin dan manis,” bisik hatinya. Untunglah saat memasuki Jl. Riau, angin memberi hawa segar pada tubuhnya, termasuk beberapa pepohonan yang menawarkan bayang teduhnya. Taman Pramuka tidak terlalu ramai. Pengunjung di Iga Bakar Mas Giri juga belum ramai. Keramaian mulai terlihat di Warunk Upnormal Jl. Aceh, tepat di seberang Marugame Udon. Barulah setelah menemukan sebuah gerbang putih khas Romawi dengan empat pilar tiangnya, dia berhenti.

Ada huruf ‘L’ besar di sana sebagai logonya. Kebetulan dia ada janji kopdar dengan beberapa blogger di sana. Ya, di Liz Palace Inn, yang lokasinya pas banget di samping Warunk Upnormal dan seberang Marugame Udon. Strategis. Ini adalah hotel dengan konsep boutique. Kecil tapi berkesan mewah. Dengan bangunan berlantai dua, ada 16 kamar yang siap diinapi. Setelah menggembok sepedanya dan menyapa ramah pada satpam yang menjaga (dengan harapan sepedanya diperhatikan baik-baik), dia masuk dan ternyata langsung disambut oleh senyuman sang pegawa front office. Ah, dalemannya bikin betah. Ada tiga sofa putih di sana dan satu sofa merah dengan beberapa meja berhiaskan beberapa kuntum mawar merah. Di belakang, ada tangga berputar yagn elegan. Hawanya sejuk. “Bakal bikin betah ini,” bisiknya.

Liz Pasta Cafe

Tak berapa lama dirinya langsung diajak ke Liz Pasta Cafe yang ada di depan. Di sana telah ada Putra Agung, Dedew, dan Sandra. Dari obrolan ngalor-ngidul ke pramusaji yang melayani, ternyata daleman yang ada sofanya itu tidak hanya sebagai lobi hotel tetapi juga bisa dijadikan tempat makan. Menunya sendiri bisa memesan di Liz Pasta Cafe. Tempat ini sebagian besar memang menyediakan aneka makanan pasta. Eh, tidak hanya khusus untuk tamu hotel, lho, yang boleh ke mari, siapa pun boleh datang dan mencicipi pastanya. Dan yang perlu dicatat, semua menu paling mahal hanya Rp26.900 saja (belum termasuk pajak). Minumannya jelas lebih murah dari itu. Kalau ingin yang lebih istimewa, juga tersedia delapan pilihan paket Buffet yang terdiri atas masakan Indonesia, Cina, Eropa, atau Jepang.

Sebagai pembuka, sosok itu langsung memesan jus leci dan es krim campur. Cuaca lagi panas, sudah barang tentu tenggorokannya harus disiram dengan minuman yang segar. Kalau bisa dua, kenapa harus satu? Jus leci ini benar-benar menyegarkan. Dinginnya bisa meredakan kering di tenggorokan dan manisnya leci bisa memanjakan lidah. Komplit. Dengan harga Rp14.900 dia bisa mendapatkan semuanya. Nah, es krim campur jelas makin menyempurnakan rasa di mulut dan perut, cukup dengan bayar Rp21.900. Setelah mulut dan tenggorokannya aman, barulah dia mencari-cari makanan pembuka. Pilihannya pun langsung jatuh pada Cheese French Fries alias kentang goreng keju karena katanya dikasih topping berupa saus bolognese dan keju mozarella. Meleleh deh di dalam mulut. Harganya cuma Rp20.900.

Es Krim

Es krim campur Rp21.900

MENGUNYAH PASTA ENAK

Haha-hihi lanjut terus dengan kawan-kawan blogger. Dari obrolan serius hingga obrolan ringan seperti kentang goreng tadi. Sosok itu juga iseng mencoba beberapa makanan yang dipesan kawan-kawan. Ada nachos yang lumayan nendang, juga es krim pisang goreng yang gak biasanya. Tapi memang enak, lho. Setelah puas dengan itu semua, barulah dia memesan menu utama, yaitu Spaghetti Beef dan Pene Arabian. Pasta berbentuk spaghetti adalah favoritnya karena memang bentuknya seperti mi instan. Dia memilih Spaghetti Beef karena ada taburan biji cabe kering di atasnya sehingga memberikan sensasi pedas yang unik, tidak seperti saus cabe pada umumnya. Selain itu di sana juga ada smoked beef, sosis, dan juga keju cheddar. Bayangkan, hanya dengan Rp26.900 dia bisa merasakan sensasi pasta yang unik dan istimewa. Dia suka itu semua.

Setelah habis, dia langsung menghadapi Pene Arabian yang juga sama-sama ditaburi biji cabe kering. Namun di sana juga ada saus tomatnya. Rasanya sebenarnya tidak jauh beda dengan spaghetti pesanannya, tapi karena ada saus tomatnya sehingga memberikan rasa asam dan manisnya. Kalau pedas mah gak usah dibahas lagi ya, meskipun kalau kata Agung pedasnya belum nendang. Buat informasi, ‘pene’ itu berasal dari kata ‘penne’ yang menurut bahasa Italia artinya pena. Itulah mengapa pasta ini berbentuk seperti potongan pena/pulpen. Nah, dengan harga yang sama, yaitu Rp26.900, dia pun kekenyangan. Alhamdulillah. Total tagihan untuk 2 minuman, 1 foodlite, dan 2 pasta adalah Rp111.500 (belum termasuk pajak). Dan semua itu masih terbilang murah jika dibandingkan dengan harga pasta di tempat lain. Percaya, deh. Mengunyah pasta enak bukan hanya bikin perut kenyang tapi juga membuat hati galau taklagi meracau, duh.

Spaghetti Beef

Spaghetti Beef Rp26.900 dan Cheese French Fries Rp20.900

Sosok itu melirik pada jam di ponselnya. “Duh, sudah saatnya menjemput Adik Anin yang pulang sekolah,” bisiknya. Dia pun langsung pamit pada kawan-kawan blogger dan berjanji akan berjumpa lagi pada waktu dan tempat yang bikin betah buat makan dan ngobrol. Ya, Bandung itu ngangenin. Bandung bukan hanya terkenal sebagai kota tujuan wisata alam, gedung-gedung heritage, tamannya yang cantik-cantik, atau walikotanya yang ganteng tetapi juga termasuk wisata kulinerya. Jadi kalau lagi ke Bandung, cobalah mampir ke Liz Palace Inn dan menginaplah barang semalam di sana, sekalian jangan lupa buat cobain pastanya di Liz Pasta Cafe. Bagaimana?[]

Nongkrong di 5 to 12 Cafe

Kopi memang pahit,
yang manis itu senyumanmu.

Nongkrong di 5 to 12 Cafe atau Five to Twelve Cafe itu ternyata asyik, lho? Percaya gak? Oke, kamis siang itu panas sekali. Meski Bandung dikenal sebagai kota yang dingin (dan bikin hati juga adem) dan membuat warganya sering lapar, tetap tidak mengurangi garangnya sinar matahari. Sosok itu seperti biasa menjemput Adik Anin yang katanya bakal beres sebelum pukul 12. Meski lewat sedikit, alhamdulillah sesuai jadwal. Kaos yang dikenakannya telah basah oleh keringat. Maklum saja dia memang sengaja naik sepeda dari Ciganitri ke Buah Batu. Motor dipakai sang belahan jiwa. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Bisa sehat dan berkeringat itu alhamdulillah, lho. Apalagi bisa menjemput sang buah hati di sekolahnya. Dan kebetulan anaknya juga senang dibonceng naik sepeda.

Adik Anin langsung gembira saat melihat sosok itu masuk ke halaman sekolah dengan Spidi-nya. Agar tidak berat, tas sekolahnya dimasukkan ke dalam pannier biar tidak terlalu berat beban punggungnya. Adik pun langsung melompat ke atas boncengan. Banyak mata memandang mereka berdua, biarkan saja. Hidup harus dinikmati. “Dik, kita mampir dulu ya ke Five to Twelve Cafe. Kita makan siang dulu,” ujar sosok itu membuka suara setelah sampai di Jln. Reog. “Gak mau ah! Langsung ke Binong aja,” jawab Adik seperti biasa. Biasa karena memang susah kalau diajak makan. “Pokoknya mampir dulu, Adik pasti senang.” Takpeduli dengan keengganannya, akhirnya dia mengarahkan sepedanya ke cafe yang disebutkan. Kebetulan dekat, tidak jauh dari sekolah.

produk-34

Chicken Katsu Rp35K | Jus Leci Rp19,5K

Tulisannya 5 to 12, tapi dibacanya ya ‘Five to Twelve’. Sebuah cafe yang baru dibuka awal tahun ini. Masih gress, tapi menawarkan lokasi nongkrong yang mengasyikkan. Awalnya sosok itu menyangka bahwa nama tersebut menjelaskan tentang waktu jam bukanya. Biasanya memang seperti itu. Buka jam 5 pagi/sore, lalu tutup jam 12 malam. Tetapi ternyata tebakannya salah. Waktu buka normalnya adalah jam 8 pagi sampai 11 malam (Senin – Jumat) dan sampai jam 12 malam (Sabtu dan Minggu). Oke, paling nanti ditanyakan saja pada karyawannya yang ada di dalam. Tidak butuh lama untuk sampai di sana dari Jln. Karawitan. Setelah berbelok ke kiri dari Jln. Reog, langsung ketemu deh cafenya yang tidak jauh dari Bank BRI. Halaman parkirnya luas. Desain visualnya menarik. Cocok buat tempat nongkrong. Taglinenya jelas … coffee shop and eatery. Bisa buat ngopi dan makan-makan.

Cafe ini menyediakan makanan Indonesia dan Eropa, meski setelah melihat menunya juga ada makanan Asia seperti dari Jepang. Sebagai tempat nongkrong buat ngopi-ngopi cantik, mereka juga memiliki mesin pemroses kopi dari Italia. Inilah alasan mengapa cafe ini menyediakan kopi premium? Ya, mesin kopi Five to Twelve adalah yang terbaik di Bandung! Kereeen. Dan pada jam-jam tertentu bakal ada live musif buat nenangin telinga dan hati. Tidak lupa, mereka juga menawarkan fasilitas internet gratis dari wifinya yang berkecapatan 150 Mbps. Widiiih. Karena panas, Adik Anin langsung saja memesan Split Banana Ice Cream, kalau makannya dia lebih suka Chicken Katsu. Sosok itu lebih memilih Bebek Goreng Lombok Ijo dan Jus Leci saja. Biasanya, kalau masakan Indonesia sebuah cafe/resto itu sudah enak, tentu makanan yang lain juga dijamin enak. Biasanya ya, ini dari pengalaman saja. Oke, kita tunggu saja.

produk-36

Sambil menunggu, iseng-iseng sosok itu bertanya pada salah satu karyawan yang kebetulan ada. Dia bertanya soal konsep desain yang ada di 5 to 12 Cafe. Asli! Keren dan unik. Ada kumpulan beberapa jam yang tidak biasa di salah sudut kiri. Mulai dari bentuk jam kuno sampai jam yang angkanya merupakan rumus matematika. Bayangkan saja, angka 7 diganti dengan persamaan 52-x2+x=10 dan angka 4 diganti dengan 50/2=100/x. Dasar alumnus ITB! Maksudnya, kata karyawan cafe ini, pemiliknya memang jebolan ITB. Eh, semua jarum jamnya menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit. Ada rak buku dengan papan berbentuk angka 5 dan 12. Ada foto sudut kota di Eropa. Ada foto beberapa pemimpin dunia dengan tulisan ‘Where there is love there is life‘. Pintu kamar mandi yang berbentuk kotak telepon. Dan tentu saja beberapa quotes yang bagus dan bikin tersenyum.

Selain itu, ada juga salah satu mesin permainan yang bikin penasaran. Dart Game! Permainan santai melempar anak panah kecil ke papan sasaran. Uniknya, mesin ini lebih modern. Adik Anin saja ingin langsung mencobanya. Setelah dinyalakan, barulah bisa dimainkan. Score-nya terpampang otomatis saat anak panah mengenai papan sasaran. Bagi yang sudah tahu permainan ini ada istilah main zero-one (01) atau cricket. Kalau gak ngerti, ya main saja apa adanya seperti Adik Anin. Asal dekat ke tengah berarti sudah jago hehehe. Setelah puas bermain, makanan pun tiba. Sosok itu langsung menyeruput jus leci pesanannya. Segarrr. Baru kemudian memakan bebek gorengnya dengan lahap. Dari segi rasa, rempah-rempahnya begitu terasa. Pas banget dengan lidahnya. Racikan Chef Kurniawan memang cocok. Adik Anin juga begitu, langsung mencoba es krim pilihannya. Enak katanya. Dan dia pun lahap memakan chicken katsunya meski (seperti biasa) nasinya tidak habis. Kenyang.

produk-35

Split Banana Ice Cream Rp25K | Bebek Goreng Lombok Ijo Rp48K

Oya, setelah ditanyakan, ternyata ‘Five to Twelve’ itu memiliki filosofi unik. Ada beberapa arti. Bagi orang Eropa, five to twelve itu artinya deadline, kesempatan terakhir. Ini sebuah kiasan umum di sana. Sedangkan bagi orang Indonesia, five to twelve itu adalah jam 12 kurang 5 menit. Artinya jam makan siang sudah dekat hehehe. Dari sudut pandang yang lebih dalam lagi (versi Islam), surat ke-5 dalam Al-Quran adalah surat Al-Maidah yang memiliki makna ‘hidangan’. Rupanya ‘Five to Twelve’ ingin menyuguhkan hidangan yang halal dan baik. Amiiin. Sedangkan surat ke-12 dalam Al-Quran adalah surat Yusuf, nama yang diambil dari seorang pemuda tampan dan baik sehingga memikat orang-orang di sekitarnya. Maknanya sudah tahu kan, bahwa ‘Five to Twelve’ ingin memikat semua masyarakat untuk datang dan mampir menyicipi hidangannya. Keren pisan ya filosofinya.

Kopi aja bisa bikin deg-degan,
apalagi kamu.

Ingin tahu lebih jauh?
>>> http://fivetotwelvecafe.com/
Jln. RAA. Martanegara No. 50 Bandung
Phone : 022 – 7307276
Email : info@fivetotwelvecafe.com

Wajah Baru Pasar Cihapit Bandung

Masa lalu itu seperti permainan
Dikenang dan selalu membuat kangen

Lucu juga sebenarnya. Meski sudah 22 tahun tinggal di Bandung, tetap masih saja ada beberapa lokasi yang belum dikenalnya. Sosok itu akhirnya mengakui bahwa Bandung itu keren. Sejarahnya begitu banyak, persis dengan lahirnya beberapa taman dengan tampilan baru nan oke, hasil corat-coret ala kadarnya Kang Emil, sang walikota. Salah satu tempat yang sering dilewati dan ternyata menyimpan sejuta cerita adalah Pasar Cihapit atau Pasar Tjihapit. Jumat pagi (25/3), sosok itu berkesempatan mengunjunginya. Awalnya bingung mencari tempat parkir motor karena memang baru pertama kali mampir, akhirnya dipilihlah tempat yang tidak jauh dari sebuah toko roti modern (Vitasari). Kebetulan karena di sana ada sebuah gang dengan plang resmi dari PD Pasar Bermartabat Kota Bandung, dengan tulisan Unit Pasar Cihapit. Ya, dia baru tahu kalau di sana ternyata ada sebuah pasar.

Setelah menunggu beberapa kawan seperti Efi dan Dydie, sosok itu kemudian bergerak memasuki gang pasar samping toko roti yang ternyata adalah Gg. Senggol. Dan terkejutlah dirinya saat tahu bahwa di dalam ada sebuah pasar yang tidak bisa dibilang kecil. Dua catatan penting dirinya tentang pasar ini adalah rapi dan bersih. Tidak seperti pasar tradisional kebanyakan yang ada di Bandung. Dia pun jadi jatuh cinta pada pandangan pertama. Apalagi saat bertemu dengan Nicky dan Hamim, sang pemandu yang masih berstatus mahasiswa Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB, angkatan 54. Dia dan kawan-kawan langsung diajak ke belakang pasar yang sudah berdiri beberapa los/kios yang jauh lebih rapi. Ternyata ada kedai kopi dimana Ulu dan Aan sedang asyik menyeruput segelas kopi. Wanginya jelas menggoda iman.

Jalan-24

SEJARAH PASAR CIHAPIT

Pada zaman penjajahan Jepang, kawasan Cihapit dijadikan sebagai kampung penjara bagi orang-orang Eropa. Batasnya adalah pagar anyaman bambu dan kawat berduri dengan beberapa penjaganya. Penjagaan tidak hanya dilakukan oleh tentara Jepang, tetapi juga oleh tentara Indonesia yang tergabung dalam Heiho. Dua orang komandan dari Indonesia yang menjaga kamp tersebut adalah Mr. Boenjamin dan Mr. Arsad. Kampung penjara atau kamp adalah penjara terbuka yang didirikan oleh Jepang sebagai bagian dari strateginya untuk menutup akses pemberontakan, khususnya terhadap orang-orang Belanda yang sudah tinggal menetap di Indonesia. Di Bandung, kawasan Cihapit masuk ke dalam Kamp Bunsho II yang dibuka pada November 1942.

Kamp ini langsung diisi oleh sekira 14 ribu orang Belanda yang dikelompokkan menjadi remaja/dewasa laki-laki, wanita, orang-orang tua, dan anak-anak. Oleh karena kecilnya kawasan kamp dibandingkan dengan jumlah penghuninya, maka satu rumah bisa diisi oleh 20 orang. Begitu sempit dan saling berhimpitan. Pada Agustus 1943, didirikan sebuah kamp baru yang disebut Bloemenkemp. Kawasan Bloemenkemp dibatasi oleh Riowstraat (kini Jln. Riau atau RE. Martadinata), Tjitaroemstraat (Jln. Citarum), Houtmanweg (Jln. Tjioejoeng atau WR. Supratman), Bengawanslaan (Jln. Bengawan), dan Grote Postweg (Jln. Raya Timur atau Ahmad Yani). Bloemenkemp mayoritas diisi oleh para wanita, orang-orang tua, dan anak-anak.

Namun yang perlu dicatat bahwa kamp perang tidak melulu menakutkan. Bloemenkemp selalu menghadirkan pertunjukan kabaret dengan artis Corry Vonk yang juga ditahan di sana. Artinya, aktivitas penghuninya tidak dibatasi selama peraturan yang sudah dibuat tidak dilanggar. Tentara Jepang tidak segan-segan menyiksa penghuninya jika diketahui melanggar, seperti tidak hormat atau berani menatap tentara Jepang. Bagi yang nekat melarikan diri dari kamp, akan langsung ditembak mati di tempat. Berbagai kursus juga diadakan, salah satunya adalah keterampilan meramal dengan menggunakan kartu tarot yang sering diadakan di daerah taman segitiga Poelaoelaoetweg (Jln. Pulolaut). Kamp Bunsho II akhirnya ditutup pada Desember 1944 dan sekira 10 ribuan penghuninya dipindahkan ke kamp di Jakarta, Bogor, dan Jawa Tengah.

Sebelumnya, pada zaman Belanda, kawasan Tjihapit sudah dibangun dengan konsep lingkungan yang sehat. Di sana ada komplek perumahan, taman atau lapangan terbuka (plein), dan juga pasar. Pada 1920-an, kawasan ini mendapat predikat sebagai contoh pemukiman sehat yang dihuni oleh warga golongan menengah. Tak heran hingga kini, konsumen Pasar Cihapit berasal dari kalangan menengah ke atas. Sebagian pedagang juga menceritakan bahwa sebelumnya pasar ini juga dikenal sebagai istal (kandang) kuda. Kemungkinan hal itu terjadi setelah masa penjajahan Jepang. Pasar Tjihapit kembali dibuka setelah beberapa tahun Indonesia merdeka.

Jalan-25

BERBURU KULINER LEGENDARIS CIHAPIT

Lokasi Pasar Cihapit berada di antara Jln. Cihapit, Jln. Sabang, dan Jln. Pulolaut. Kalau mau parkir motor bisa di sepanjang Jln. Cihapit mulai dari Toko Vitasari sampai Polsek Cihapit, tinggal pilih yang dirasa aman. Kalau mau lebih aman lagi masuk saja ke Gg. Masjid Istiqamah yang terletak di seberang Polsek Cihapit. Atauuu bisa juga lewat Jln. Sabang (tidak jauh dari Toko Tidar), masuk saja dan nanti ada tempat parkir luas di dalamnya. Kalau mobil ya bisa di sepanjang Jln. Cihapit atau Jln. Sabang. Baru tahu, kan? Kalau mau naik angkot, bisa pakai angkot putih strip kuning (Panghegar – Dipati Ukur) atau angkot putih (Dago – Riung Bandung) dan minta turun di Jln. Cihapit (Gedung Wanita). Atau bisa juga naik angkot hijau strip cokelat (Cicaheum – Kb. Kalapa lewat Aceh) turun di perempatan Jln. Aceh-Cihapit (Graha Siliwangi).

Pasar Cihapit sudah dikenal sebagai pasar yang bersih. Produk-produk yang dijualnya pun sudah memiliki kualitas yang sama dengan produk supermarket. Mengapa bisa begitu? Ini karena semuanya sudah dipilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Itulah mengapa pasar ini baru beroperasi setelah pukul 6 pagi. Jelas berbeda dengan pasar-pasar tradisional lainnya yang dari pagi buta. Dan yang membedakan lainnya adalah para pedagang yang sudah turun-temurun berdagang di lokasi yang sama sejak lebih dari 30 tahun lalu. Kalau bisa dibilang, para pedagang yang kini berjualan di sana adalah generasi ketiga, meski beberapa di antaranya masih generasi pertama seperti Mak Eha dan Meneer Kumis. Belum lagi kuliner tradisionalnya yang melegenda dan berada di sekitar pasar, seperti Kupat Tahu Galunggung, Lotek dan Surabi Cihapit, Gorengan Cihapit, hingga Awug. Namun yang menjadi legenda adalah Nasi Rames Mak Eha dengan tagline-nya “Kalau tidak datang pagi, jangan harap masih tersisa.”

Pasar Cihapit mendapat dukungan penuh dari SBM ITB bidang Creative Culture Entrepreneur. Mereka merevitalisasi pasar menjadi layak kunjung dan pantas untuk dijadikan tempat wisata. Nah! Ini yang terbilang keren inovasinya. Meski baru diresmikan programnya sejak 6 bulan lalu, tetapi hasilnya sudah mulai terlihat dengan baik. Misalnya Gg. Senggol yang dahulunya becek kini sudah tidak lagi dan bahkan semakin rapi dan enak dilihat. Mural di temboknya (dikerjakan oleh mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITB) semakin mempercantik gang tersebut, termasuk tempat berjualan para pedagang yang didesain oleh mahasiswa Desain Produk ITB. Gerobak ini menelan biaya sekira Rp1juta dan dibeli oleh para pedagang dengan cara mencicil.

Jalan-26

Sosok itu sendiri mencoba beberapa kuliner legendarisnya seperti kue balok, kue pukis, dan loteknya. Hanya sayang tidak dapat menikmati nasi rames Mak Eha dan surabinya. Kupat tahu Galunggung sudah pernah dicoba beberapa tahun lalu. Rasanya memang beda dan seperti membuka nostalgia nan indah. Dia juga berkenalan dan mengobrol singkat dengan Meneer Kumis alias Suhendi Bariji (74 thn) yang berdagang kerupuk dan aneka cemilan. Kakek dari 46 orang cucu ini sudah berdagang sejak 1959. Lalu ada Mas Bandi (40-an thn) dari Bumiayu yang berjualan kue pukis di Gg. Senggol, sudah berdagang sejak 1990. Ada Pak Tatang (55 thn) yang meneruskan berdagang ayam kampung setelah diawali oleh kakeknya pada 1955. Beliau juga ditunjuk sebagai Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Cihapit. Dan terakhir ada Martin (54 thn) yang biasa dipanggil Jose, pedagang daging sapi yang sudah berdagang sejak 30 tahun lalu.[]

(Hampir) BBQ-an dengan Ridwan Kamil

It takes hands to build a house,
But only hearts can built a home

Cawan-Kitchen_2Adem. Tulisan yang menghangatkan hati. Itulah yang dirasakan sosok itu saat membacanya. Entah siapa yang menciptakannya. Setelah mencari-cari pun ternyata memang penciptanya tidak dikenal. Namun tulisan atau quotes ini memang popular, dan sering dipakai di beberapa resto atau kafe. Salah satu yang memakainya adalah Cawan Kitchen, sebuah kafe artistik di Jl. Ciumbuleuit, tepat di seberang Hotel Harris. Bangunan yang dipakai adalah rumah lama dengan bentuk yang masih terlihat jelas, tapi sudah didekor ulang di bagian dalamnya. Bentuk garasinya masih terlihat dan sosok itu memilih tempat di sana. Warna catnya didominasi warna putih, cocok dengan warna kursi besinya, sisanya dipadupadankan dengan warna kayu pada meja. Penyeimbangnya adalah beberapa pohon sedang dan tanaman kecil. Romantis.

Continue reading “(Hampir) BBQ-an dengan Ridwan Kamil”

Memahami Citarasa Nusantara

Hunger is the best sauce in the world ~ Cervantes

Resto-04

Malam. Hari yang dingin. Apalagi di Bandung, tepatnya mendekati daerah Parongpong. Masih di Jl. Sersan Bajuri. Kalau dari Terminal Ledeng dari arah bawah, tinggal belok kiri dan ikuti jalan yang menanjak. Kalau terang hari, hawanya sejuk dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Tak jauh dari Kampung Gajah. Setelahnya bisa lihat di sebelah kanan. Sebuah tempat bernama Salian Art, tepat di belakang resto mewah bernama Semilir. Di sinilah sosok itu bisa merasakan sebuah peradaban kuliner yang agak berbeda. Tidak hanya icip-menyicipi, tapi juga belajar sejarah bagaimana masakan itu tercipta. Dari mana bumbu-bumbunya berasal. Sejarah masakan yang dipersembahkan dengan apik oleh Rahung Nasution, sang pseudo-chef.

Continue reading “Memahami Citarasa Nusantara”

Nge-Date di Decobar

Nge-date atau berkencan dengan sang belahan jiwa boleh dibilang amat jarang. Mungkin kalau bersama anak-anak, sudah lumayan banyak. Tapi berbeda kalau–catat ya– … hanya berdua. Dan misalnya neh ada kesempatan untuk berkencan, tentu akan diusahakan semaksimal mungkin. Meski jujur, sosok itu tidak terlalu paham bagaimana mempersiapkan kencan yang istimewa. Apalagi kalau sudah berbicara tentang pemilihan tempat dan pemilihan makanan. Ampun, deh. Mending dipilihin saja tempatnya di mana dan makannya sudah diperkirakan apa. Parah, ya? Syukur-syukur gretongan hehehe….

Kuliner-18

Continue reading “Nge-Date di Decobar”

Kaleh Yo! di Bebek Kaleyo

Silakan pilih menu bebeknya
Silakan ke meja prasmanan
Bayar di kasir (dan) selamat menikmati

Sewaktu lari di Jayagiri, sosok itu sebenarnya hampir saja tersesat. Entah mengapa saat itu dia masuk ke suatu pekarangan yang indah. Keindahan itu ternyata tidak melulu mewah. Bentuk bangunan rumahnya seperti rumah perkampungan kebanyakan. Hampir semuanya terbuat dari bahan-bahan alam. Bambu, kayu hutan, hingga dedaudan untuk atap rumah. Tapi yang berbeda, rumah dan pekarangan itu bersih. Kebersihan yang membuat hatinya merasa nyaman dan tenteram. Suara bebek terdengar dari pekarangan belakang. Selidik punya selidik, pekarangan belakang juga tampak bersih. Kotoran-kotoran bebek yang biasanya tersebar hampir tidak terlihat. Tampaknya sang pemilik begitu apik dan resik. Damai dan sejuk bisa berada di sana.

Continue reading “Kaleh Yo! di Bebek Kaleyo”