Berlarilah dengan Jujur

Hanya suara napas
Dan suara sepatu menapak aspal

Kejujuran memang tidak bisa dipaksakan. Ia lahir dari dalam diri dan hati. Ia muncul dari keterbiasaan. Ia terbentuk saat kata ‘iman’ tertanam dengan baik dan tumbuh subur. Meski lingkungan bermakar curang terus mengintai, di mana saja. Itulah yang tampak terjadi pada event lari internasional di Jakarta pada hari Minggu (26/10/2014). Pada saat sosok itu terengah-engah memantapkan diri untuk tidak berjalan, ada saja pelari lain yang tiba-tiba mengambil jalan pintas. Panitia memang ada, tetapi kan manusiawi lengah. Tidak hanya satu-dua. Setelah KM5, makin bertambah lagi jumlahnya yang memotong kompas. Itu baru yang kategori 10K. Bagaimana dengan yang 5K, HM, atau FM? Mungkin lebih dari yang dilihat sosok itu.

Continue reading “Berlarilah dengan Jujur”

Lari-Lari Cantik

Lari itu sehat
Lari itu cantik
Yang cantik akan semakin sehat
Yang sehat akan semakin cantik

Ngomongin lari lagi, deh. Gak papa, yang penting kan tujuannya sehat. Siapa pun pasti sepakat bahwa sehat itu mahal setelah mengetahui bagaimana rasanya sakit. Bahwa sehat itu wajib bagi semua orang, termasuk kamu. Lari itu olahraga paling murah. Lari itu dasarnya olahraga setelah jalan. Gak harus punya sepatu mahal. Nyeker atau tanpa alas kaki juga bisa. Yang penting kemauan. Tinggal lari aja. Gitu aja kok, repot.

Continue reading “Lari-Lari Cantik”

Event Lari Pertama

Sosok itu sudah lupa kapan pertama kali lari (sebagai olahraga). Seingatnya sih saat masih bekerja di Penerbit Sygma, jadi sekira sebelum tahun 2011. Yang diingat olehnya adalah sepulang kerja langsung lari memutari Binong, banyak jalannya, dan selesai pas azan maghrib. Lalu beberapa kali lari pagi menuju Cidurian, lagi-lagi ada jalannya. Tidak pernah bisa lari full sejauh 1K, atau bahkan lebih. Selalu mentok di angka satu. Mentalnya masih kalah. Masih ada rasa malas untuk terus berlari. Semangatnya masih dikalahkan oleh ‘ketidakmampuan’ untuk terus berlari lebih dari 1K. Alasannya banyak, salah satunya adalah rasa sesak karena memang sosok itu mengidap asma. Penyakit seumur hidup.

Betul, batas malas dan semangat itu tipis sekali. Kedua hal itu bergantung dengan yang namanya mental. Inilah yang harus diwaspadai setiap orang. Pada suatu sore di Jakarta, hampir saja sosok itu tidak jadi lari, hanya karena pas push-up cuma mampu 10 kali, padahal paginya bisa sampai 15 kali. Dia pun hanya tidur-tiduran saja. Akan tetapi mentalnya dibisiki oleh niat yang kuat, “Lari!” Apalagi teringat status Aki yang menyatakan, “7 menit lari sekitaran rumah. Sebelum seisi dunia berubah kita sudah di rumah lagi dan memulai hari tanpa kehilangan apapun. Tanpa ketinggalan apapun. Parhat Apes masih nyapres….” Jadilah dia lari dengan target yang harus jauh lebih baik dari paginya.

Continue reading “Event Lari Pertama”

Food, Fashion, and trailFunrun

Hijau. Membuat mata menjadi segar.
Membuat pikiran menjadi jernih.
Dan membuat tubuh menjadi bugar.

MariLari-11Sebenarnya dibilang nekat juga mengikuti event lari trel sejauh 5K bersama Sang Belahan Jiwa. Ada dua alasan terkuat mengapa dibilang nekat. Pertama, karena ini kali pertamanya sosok itu mengikuti event lari sejauh 5K dan kedua, karena ini lari trel. Ingat ya kalau lari trel itu bukan lari biasa dengan medan datar seperti di perkotaan, misal dengan medan aspal atau tanah keras. Jadi kalau lari di gunung, lari menyusuri kebun teh, lari menembus hutan, lari menyeberangi sungai, atau bahkan masuk menyusuri kawah, itulah lari trel. Nulis Inggris-nya Trail Run. Namun karena acara dan temanya FunRun, jadilah sosok itu berani. Hebatnya lagi, @ummibindya juga berani ikut-ikutan.

Continue reading “Food, Fashion, and trailFunrun”

D’Blogger Run Perdana

Pagi yang segar. Burung bercicit di kejauhan. Meski kesiangan, sosok itu langsung bergegas mempersiapkan diri. Si Hottie Biru sudah siap di teras. Cek tekanan ban aman, tinggal berdoa semoga pedal tidak bermasalah karena sudah sebulan ini memang lagi ‘sakit’ dan harus diganti. Kaos ganti, sarung, dan jas hujan dimasukkan ke dalam tas pannier yang dibeli dari Pak Bayu. Tas pannier ini diletakkan di bawah sadel. Bismillah. Acara ngaboseh di Jakarta pun dimulai dengan menyusuri jalan Perintis Kemerdakaan, Kayu Putih, Pemuda, Pramuka, hingga sampai di Bunderan HI. 12 kilometer jarak tempuhnya.

Baru kali ini sosok itu bisa mencicipi CFD Jakarta. Ternyata sangat crowded. Benar-benar lautan manusia, baik yang berjalan, berlari, dan bersepeda. Campur aduk. Kecepatan lari dan bersepeda dijamin tidak maksimal. Harus ada tenggang rasa tampaknya. Sms ke Kajol dan ada tanggapan bahwa dirinya ada di depan Plaza Indonesia, di antara sepeda onthel. Celingak-celinguk di antara sepeda-sepeda bersejarah itu, akhirnya ketemulah Kajol yang berkumpul bersama Melly, Arie Goiq, dan Alfa. Kemudian saling lambai dan lempar senyum. Belum sempat Si Hottie Baru dimasukkan ke antara sepeda onthel, Melly sudah bersuara, “Boleh pinjam nggak, Bang?” Tentu saja sosok itu mengiyakan. Sadel pun dipendekkan dan sepeda diserahkan ke Melly.

Continue reading “D’Blogger Run Perdana”

Sosok Itu Dipaksa Istirahat

Hilir selalu akan dicari hulunya
Begitu pula dengan akibat
Akan dicari apa penyebabnya
Tetapi hidup, tidak melulu sebab-akibat

Mudah, ya, kalau ada akibat terus tinggal dicari penyebabnya. Pasti gara-gara ini hingga terjadi hal seperti itu. Hukum sebab-akibat memang akan selalu melahirkan apa yang dinamakan kambing hitam. Ada yang harus dipersalahkan. Akan tetapi memang bukan itu maksudnya. Bukan masalah salah atau benar, tetapi mencari hal logis yang bisa diterima akal manusia. Tapi yang pasti tidak hanya jangka pendek sebaiknya, harus jangka panjang. Sama halnya saat sosok itu benar-benar dipaksa istirahat karena cidera lutut. Cidera yang amat menyakitkan dan terasa kembali kemarin malam, saat lari Kamis malam dari Eiger Sumatra dan hanya sampai Gedung Pakuan.

Continue reading “Sosok Itu Dipaksa Istirahat”

#MariLari Yuk!

MariLari-1

@ninityunita penulis skenario film #MariLari
berlari 21 km rute BKT-TMII belum lama ini #mamarunners

Lari?! Bagi sebagian orang memang berat. Berat di mananya? Tentu dianggap berat karena tidak ada fasilitas yang nyaman di sana, seperti tidak ada kendaraan seperti halnya bersepeda atau tidak ada fasilitas mewah layaknya berenang. Pokoknya modalnya dengkul aja, dan kemudian mencapek-capekan diri sendiri. Bagi yang suka fitness atau olahraga di ruangan mungkin sudah biasa, karena fasilitasnya masih dianggap mewah alias lari di atas treadmill. Kecepatan bisa diatur-atur sendiri, bisa nengok kanan-kiri siapa tahu ada yang bening, lalu pulangnya seger karena mandi air hangat. Kurang lebih seperti itu. Berat.

Continue reading “#MariLari Yuk!”

HBD, Aki Niaki!

Aki Niaki

“Ehhh … aku lari tuh mulai 2010, awal 2010. Jadi awalnya Jumat, sebetulnya sudah lama tahu bahwa lari itu olahraga yang mau banget aku lakuin. Cuma karena tahu ada asma dan bronchitis, dan sebelumnya pernah coba lari-lari kecil atau segala macam atau waktu aku sekolah … kayaknya cepet capek. Dari situ saya tahu saya pikir saya udah nggak ada peluang untuk lari. Nah, 2010 itu saya coba konsultasi ke dokter sebelumnya, alhamdulillah ya tersendat sih memang tapi sebulan pertama udah lumayanlah ada progres ya. Yang tadinya seratus meter udah sesak kali ini udah satu kilo dua kilo. Dua bulan kemudian udah bisa lari sepuluh….”

Continue reading “HBD, Aki Niaki!”