Kuis Bang Aswi: Penilaian

Hari yang melelahkan. Dua hari bahkan. Dan kesempatan menulis hari ini pun bergeser hingga menjelang malam. Waktu begitu kilat. Apabila tidak ada pagar bernama schedule, mungkin segalanya akan berantakan karena lupa. Ya, lupa adalah penyakit yang membuat ketawa tapi sekaligus mengundang bencana.

Esok adalah waktunya. Banyak orang yang menanti-nanti. Apalagi bagi mereka yang telah terdaftar sebagai peserta Kuis Bang Aswi. Jelas ini merupakan kewajiban yang tidak boleh terlewatkan. Sudah menjadi tanggung jawab. Puluhan naskah pun menanti. Syukurlah bahwa belasan naskah telah selesai dinilai.

Continue reading “Kuis Bang Aswi: Penilaian”

Advertisements

Lupa: Penyakit yang Bikin Ketawa

Asli! Lupa kadang-kadang bisa membuat kita tertawa. Hal ini bisa terjadi jika kondisinya memungkinkan. Namun tak jarang penyakit ini malah menimbulkan efek yang sangat tidak ingin diingat-ingat lagi. Ya, lupakan saja. Oke, kita fokuskan saja pada lupa yang dapat membuat kita tertawa.

Pada suatu sore, seorang kawan mengatakan pada sosok itu bahwa ia sedang berpuasa. It’s not a big deal. Sampai kemudian keduanya masuk ke Dapla untuk sekadar chit-chat di tempat yang lebih enak. Setelah menemukan tempat yang pas, keduanya pun asyik berdiskusi.

Tak berapa lama, seorang kawan yang lain datang sambil membawakan sekumpulan teh panas. Ini benar-benar sekumpulan karena terdiri atas tiga teko kecil dan enam cangkir mungil. Chit-chat pun berlanjut dan tanpa sadar masing-masing mulai menyeduh teh. Dan sosok itu melihat kawan yang tadi mengaku berpuasa juga asyik menyeduh teh dan langsung meminumnya.

“Loh, katanya tadi puasa?” tegur sosok itu. Dan sang kawan pun terkejut bukan kepalang. Asli! Bisa jadi ia ingin sekali memuntahkan air yang sudah diminumnya. Yang jelas, cangkir teh yang dipegangnya langsung diletakkan pada tempatnya semula dan ia memukul lengan sosok itu sambil tertawa terbahak-bahak. Mungkin itulah caranya menyembunyikan rasa malu.

Seorang kawan yang lain lebih-lebih lagi penyakit lupanya. Pada saat makan siang kemarin, ia makan di tempat biasa. Ada banyak kawan yang biasa makan di sana, termasuk sosok itu. Kelebihan tempat makan itu meski sekelas warteg namun berbentuk rumah, adalah kita bisa makan di ruang tamunya sambil berchit-chat tanpa batas. Dan begitulah asyiknya kami makan di sana. Diskusi menyegarkan pun keluar dengan sendirinya. Pembicaraan hangat waktu itu adalah tentang seorang ulama yang bercerai.

Tanpa terasa, waktu pun berlalu. Tibalah saatnya masing-masing melapor kepada ibu warung agar makanan yang dimakan sesuai dengan jumlah uang yang keluar. Ya, namanya juga prinsip jual-beli. Selesai makan dan (tentu saja) selesai membayar, beberapa orang membentuk kelompok kecil untuk melanjutkan diskusi sambil berjalan. Tak dinyana, kawan yang pelupa langsung berteriak kaget. “Motor!”

Lho, ada apa dengan motor? Ya, sang kawan pun berlari lagi ke tempat makan biasa itu. Rupa-rupanya, motornya tertinggal di sana. Inilah akibatnya kalau tidak terbiasa makan siang pakai motor, ujug-ujug harus pakai motor pada siang kemarin. Dan sosok itu mengira, kisah-kisah lucu masih bertebaran di sini-sana seputar penyakit lupa. Mungkin sobat baraya punya salah satunya? Coba sharing saja di sini, lalu kita bisa tertawa bersama.[]