Mabal atau Bolos

Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk protes dari sang kancil. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk ketidakpedulian hewan itu sebagai anggota keluarga hutan dimana ia tinggal. Bisa jadi inilah salah satu bentuk paripurna akan kekecewaan sang kancil kepada pejabat hutan dan jajarannya. Ya, inilah puncak kemarahan dari sang kancil.

Apakah tindakan sang kancil itu dibenarkan? Tidak. Tindakan hewan itu sudah jelas adalah salah. Apa yang ia lakukan jangan dijadikan contoh atau bahkan sebuah keteladanan. Apabila kamu adalah hewan yang tinggal dan masih membutuhkan makanan yang ada di hutan itu, jangan pernah dan mencoba-coba untuk meniru atau mengikuti jejak langkah sang kancil. Jangan!

Continue reading “Mabal atau Bolos”

Advertisements

Ketika Sosok Itu Marah

Sosok itu sempat tertegun. Tertegun pada sebuah pertanyaan sederhana. Sang pasangan jiwa bertanya, “Pernahkah Abang marah yang amat sangat?” Ya, kapan terakhir dia marah? Marah yang sebenarnya tentu saja. Marah yang diikuti oleh tindakan fisik, mungkin. Sosok itu merenung. Sudah terlalu lama dia tidak marah (yang sebenarnya). Sudah lupa bahkan, dan teringat kembali pada obrolan beberapa malam lalu.

Marah yang paling diingatnya adalah ketika orientasi siswa pengenalan kampus atau biasa dikenal ospek, tahun 1994. Pada masa itu, ospek masih tergolong keras. Apalagi bagi ITB. Kalau kulit belum terluka dan mengucurkan darah, kayaknya masih ada yang kurang. Ini untuk kaum laki-laki, ya. Jadi, meskipun sosok itu mengambil jurusan Farmasi yang notabene mayoritas perempuan, ospeknya tidak menjamin tidak keras. Dan di sinilah kemarahan yang luar biasa dari sosok itu menemukan muaranya.

Continue reading “Ketika Sosok Itu Marah”

Memarahi untuk Mendidik

Suara tangis keras terdengar dari kamar atas. Itu suara Ade, putri kedua saya yang bernama lengkap Anindya Rahmakhansa (3 tahun 4 bulan). Saya tahu kalau Ade dimarahi umminya karena melakukan kesalahan yang berulang-ulang. Sebelumnya Ade menumpahkan satu botol pembersih mulut yang masih disegel: semuanya. Setelah diperingati bahwa perbuatan itu tidak baik, ia pun mengangguk dan mengerti. Akan tetapi, tak lama kemudian Ade kembali mengulangi hal yang sama pada botol lainnya. Ade memang terlalu kreatif.

Continue reading “Memarahi untuk Mendidik”

Penyesalan Dita

Sepasang suami isteri yang sama-sama berkarier terlihat meninggalkan rumahnya dengan sepeda motor yang terlihat masih gres. Karier sang suami boleh dibilang sedang menanjak, dan sebagai buktinya mobil keluaran terbaru sudah terpajang di garasi rumah mereka sejak sebulan yang lalu. Kebetulan saja hari itu mereka memang tidak berniat untuk memakai mobil. Mereka telah memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan imut, namanya Dita dan baru berusia tiga setengah tahun. Di rumah, ada seorang pembantu yang berusia sekira 30 tahunan, Dita sering memanggilnya dengan sebutan Mbok Minah.

Apabila Mbok Minah sedang sibuk di dapur atau menyelesaikan pekerjaan lainnya di dalam rumah, Dita sudah terbiasa bermain sendiri di sekeliling rumah. Dia bisa bermain boneka di kamarnya, di ruang tamu, di teras, bermain ayunan di halaman, atau hanya sekadar memetik bunga maupun dedaunan di taman kecil di samping dan depan rumahnya. Mbok Minah tidak terlalu khawatir karena Dita tergolong anak yang penurut dan tidak macam-macam. Ya, dia bisa beranggapan seperti itu karena Mbok Minah yang memegang dan mengasuh Dita sejak masih bayi.

Continue reading “Penyesalan Dita”