Masalah: Tembok yang Harus Dihadapi

Lagi-lagi, sosok itu menjelma gentong. Gentong keluh-kesah. Sosok itu bersyukur masih dipercaya oleh banyak orang dan dari sana, ia pun (juga) bisa belajar lebih banyak lagi. Dan tampaknya, kemarin malam adalah jam tersibuk sosok itu dalam melayani klien-kliennya di biro psikologinya. Mayoritas kliennya berkeluh kesah tentang masalah cinta, sisanya adalah masalah yang lumayan berat: penjara!

Sebuah permasalahan—apakah berat atau tidak—sebenarnya hanya cara pandang saja. Sama halnya melihat jumlah uang yang ada. Rp1.000 bisa jadi kecil bisa jadi besar, begitu pula dengan Rp100.000 bisa jadi besar bisa jadi kecil. Tidak jauh berbeda dengan permasalahan yang kita hadapi. Masalah terluka di lutut bisa jadi masalah kecil jika sering terjatuh, tetapi bisa jadi masalah besar jika baru kali itu terjatuh.

Sosok itu jadi teringat dengan seorang kakek yang tinggal di tepi danau. Sang kakek hanya memberikan semangkuk air pada seseorang yang berkeluh kesah. Segenggam garam dimasukkan pada mangkuk itu dan orang itu diminta meminumnya. Asin, tentu saja. Sang kakek kemudian melempar segenggam garam ke danau, lalu orang itu diminta untuk meminum air danau. Tidak asin, jelas sekali.

Sang kakek pun berujar, “Jika hatimu seluas mangkuk, wajar saja jika permasalahanmu begitu berat sekali. Akan tetapi jika hatimu seluas danau ini, permasalahanmu itu tidak ada apa-apanya.” Orang itu pun tertegun mendengar petuah bijak dari sang kakek. Sama tertegunnya dengan sosok itu.

So, masalah hanyalah persoalan naik tingkat saja. Semakin tinggi kita naik, semakin besar pula angin yang akan menerpa kita. Apabila kita berhasil melewati sebuah masalah, kita naik kelas dan ujian ke depannya pun akan jauh lebih sulit lagi. Begitu seterusnya. Dan pada akhirnya semua orang bisa belajar bahwa seberat apapun masalah yang ia hadapi, (ternyata) masih ada orang yang permasalahannya jauh lebih besar lagi. Di sinilah makna bahwa kita memang harus sering bersyukur.[]

Mari Berdoa dan Berusaha

Sampai kapan pun permasalahan hidup tidak akan pernah selesai. Entah itu sakit, kehilangan, masalah rumah tangga, ekonomi, termasuk dengan masalah cinta. Ya, permasalahan itu selalu menghantui kita. Layaknya perampok yang siap menghadang di tengah jalan sepi. Betul-betul mengerikan!

Sudah saatnya (dan harusnya sudah sedari dulu) kita terus berdoa dan berusaha, kemudian memberikan stimulus agar lingkungan yang ada di sekitar kita (terutama keluarga, syukur-syukur bisa sampai ke tetangga dan masyarakat luas) bisa ikut berdoa dan berusaha.

Continue reading “Mari Berdoa dan Berusaha”