Tips Merawat Buku

Buku adalah gerbang ilmu. Dari buku kita bisa mendapatkan informasi yang beragam. Internet memang menyediakan informasi yang sama, tetapi sensasinya berbeda. Tidak hanya dari kenyamanannya saja saat bercengkerama dengan buku melainkan juga ada faktor kesehatan yang tidak disadari oleh kita semua. Namun, tanpa perawatan yang baik tentu buku-buku kita akan terbengkalai dan rusak. Lalu, bagaimanakah cara merawat buku yang baik? Berikut adalah beberapa tipsnya.

  1. Continue reading “Tips Merawat Buku”

Manfaat Membaca Al-Quran

Sosok itu mendapatkan hikmah luar biasa dari ceramah Jumatan kali ini. Masjid PDAM Jl. Atlas tempatnya, dan di sanalah sosok itu juga menikmati makan siangnya beralaskan tikar di bawah pohon sukun dan mangga bersama kawan-kawan kantor yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 20 orang. Wallahu’alam apakah ini adalah kisah nyata atau fiksi belaka. Cukuplah kita mengambil manfaat yang terkandung di dalamnya.

Alkisah, ada seorang ulama yang bermimpi bertemu dengan sahabatnya di alam kubur. Ya, sahabatnya itu sudah wafat. Dalam mimpinya itu, sang sahabat selalu mendapatkan kiriman berupa pakaian baru dan makanan yang berlimpah ruah. Sang ulama merasa heran, bagaimana bisa sahabatnya yang telah wafat mendapatkan kiriman berupa pakaian dan makanan ke alam kuburnya? Pada saat terjaga, sang ulama pun penasaran.

Continue reading “Manfaat Membaca Al-Quran”

Q&A tentang Dunia Menulis (2)

Dhewi: Di tengah kesibukan sehari-hari, kadang waktu untuk menulis sangat sedikit. Utk mengatasinya, biasanya memang membuat semacam kerangka (atau outline). Jadi, biarpun kita menulis sepotong-sepotong, tetap berjalan pada alur yang benar. Nah bagaimana halnya dg penulisan fiksi? Bisakah itu diterapkan juga dalam fiksi? Pengalaman saya, di tengah-tengah proses menulis, sering kali saya malah menemukan ide-ide baru yg saya rasa lebih menarik (misalnya saya menemukan konflik baru, atau penokohan yang lebih menarik). Di sisi lain, saya malah jd ga fokus. Bagaimana solusinya ya?

Bang Aswi: Tidak masalah. Mau menulis kerangka atau tidak itu masalah style atau gaya masing2 penulis. Bagi penulis pemula, menulis kerangka adalah bagian dari solusi dan sangat membantu sekali. Tapi kalau sudah lancar menulis, percayalah bahwa membuat kerangka itu pada akhirnya tidak dibutuhkan. Begitu pula dengan menulis buku, kerangka atau outline sangat diperlukan karena dapat menjaga alur cerita agar tidak keluar dari jalur.

Continue reading “Q&A tentang Dunia Menulis (2)”

Membaca = Kinerja SDM

“Reading is the heart of education.” Farr (1984)

Telah disebutkan sebelumnya bahwa masyoritas masyarakat kita masih kurang tingkat daya bacanya. Dan budaya membaca ternyata sangat berpengaruh kepada kinerja SDM. Terbukti SDM di negeri liliput ini begitu rendah. Ini bisa didapatkan dari Human Development Index (HDI) atau indeks pembangunan manusia.

HDI Indonesia pada 1995 berada pada peringkat 104 dari seluruh negara di dunia. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Malaysia yang berada pada peringkat 59. Pada 2000, peringkat HDI negeri liliput ini turun menjadi 109 dan kembali turun pada 2002 menjadi 110. Sekali lagi sangat jauh berbeda dengan Malaysia yang meski turun pada 2000, tetapi kembali stabil pada peringkat 59 di tahun 2002. Cina dan Vietnam menunjukkan prestasi luar biasa yang awalnya berada di bawah peringkat Indonesia pada 1995, langsung menanjak mengalahkan negeri liliput pada tahun 2000 dan 2002.

Continue reading “Membaca = Kinerja SDM”

Bangsa yang Malas Membaca

Sosok itu merasa miris. Miris dengan kondisi masyarakat kita yang makin menjauh dari buku. Padahal buku adalah gudang ilmu takterbatas. Pemakaiannya pun sangat mudah karena bisa dibawa semau yang kita mau (portable). Sosok itu merindukan kondisi Jepang (misalnya) dimana setiap orang suka membaca saat menunggu kendaraan, di dalam kendaraan, atau bersantai-santi di taman kota. Sangat berbeda jauh dengan kondisi masyarakat kita yang selalu memegang dan membaca gadget terbaru, bahkan saat menyetir sekalipun. Miris.

Bagaimana tidak mengkhawatirkan jika hampir semua kota-kota besar di Indonesia tidak memiliki perpustakaan yang memadai. Padahal perpustakaan yang memadai adalah salah satu ciri kota modern. Belum lagi perpustakaan yang sudah ada pada sebagian kecil kota-kota besar ternyata jumlah kunjungan pembacanya sangat kecil. Lihat saja Jakarta, dimana jumlah penduduk yang sudah 10 juta orang tetapi hanya 200 orang per hari yang berkunjung ke perpustakaannya. Dari jumlah itu, yang meminjam buku berkurang lagi menjadi 20% saja. Dan dari 250.000 sekolah di Indonesia, ternyata hanya 5% yang memiliki perpustakaan.

Berdasarkan data dari Litbang Kompas, ada 4,6 juta orang yang berkunjung ke perpustakaan pada 2005 dan 2006. Pada 2007 terjadi penurunan hingga mencapai 4,1 juta orang saja yang berkunjung ke perpustakaan.

Continue reading “Bangsa yang Malas Membaca”

Membaca Qurban

Sosok itu sedikit jengah. Awalnya. Darah kental. Bau khas yang menyeruak. Lenguhan tertahan. Hingga gerakan-gerakan kejut, yang makin lama menghilang. Prosesi yang luar biasa. Satu ekor terlewati. Masih ada empat ekor sejenis menanti. Belum dua ekor besar di ujung sana. Allahu Akbar wa lillaahilhamdu.

Semua berawal dari mimpi Ibrahim. Dan ini sudah digariskan oleh Sang Maha. Atas nama keimanan, Ibrahim pun melaksanakan ibadah qurban. Ini bukan yang pertama. Masih ada Habil dan Qabil yang kemudian berakhir pembunuhan. Pembunuhan pertama. Ismail pun dengan penuh keimanan mempersiapkan diri. Ujian telah usai. Ibrahim dan Ismail telah lulus ujian, dan kibas adalah nikmat terindahnya.

Apabila dinalarkan, sejarah ibadah qurban memang tak terjangkau. Semua ini adalah masalah keimanan. Itu kuncinya. Mengapa harus kambing, domba, sapi, atau unta? Sekali lagi adalah masalah keimanan. Begitu pula jika ada yang menanyakan, mengapa tidak diganti dengan uang yang bernilai sama untuk mengentaskan kemiskinan atau memajukan pendidikan? Tak ada jawaban lain. Ini adalah masalah keimanan. Semua itu sudah ada kantong-kantongnya.

Sosok itu begitu merasakan kebersamaan. Menjadi bagian dari kepanitiaan Idul Adha adalah kebahagiaan tersendiri. Inilah konsep QSR atau Qurban Social Responsibility. Sudah ada bagian tersendiri. Tukang jagalnya ada. Yang memegangi sang domba atau sang sapi pun ada. Yang mengulitinya juga ada. Apalagi yang menyacah, termasuk yang membagikan. Butuh keteraturan dan manajemen yang baik. Sosok itu hanya punya satu prinsip: Meski tak bisa berqurban, ia masih bisa beramal dengan tenaganya.

Sosok itu menjadi teringat. Sebuah petuah tertinggi yang dibuat manusia berujar. Manfaat haruslah berjangka panjang. Jika daging qurban bisa awet lebih lama tentu subhanallah. Daerah terpencil bisa terjangkau. Berkahnya berlangsung sepanjang tahun. Tidak hanya sekadar tiga hari. Untunglah otak manusia masih begitu cerdas. Qurban kalengan pun tercipta. Yang tertimpa musibah nun di sana bisa tercapai. Semua bisa menikmati ibadah yang hanya setahun sekali. Subhanallah.[]

Jangan Banyak Berteori: Just Write!

Sudah delapan hari ini saya tidak meng-update blog ini. Artinya, ada keterlambatan enam hari dimana saya tidak menulis apa-apa selain menikmati hidup ini dengan berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan waktu. Mengurus keluarga, mengurus diri sendiri, menjaga silaturahmi, memenuhi kewajiban, dan menambah ilmu. Semuanya berjalan harus dengan konsep dan alhamdulillah … saya menikmati hal itu semua. Dan subhanallah, selama dua hari ke belakang saya bisa berbincang-bincang langsung (kendati hanya lewat jaringan telepon) dengan rekan sesama penulis beda bangsa dan bahasa, membicarakan tentang banyak hal. Ada keunikan tersendiri saat saya harus memaksakan diri berbahasa ala Upin dan Ipin.

Sebelumnya, tepat sebelum saya terus berkampanye tentang penggunaan sepeda setiap hari di jalan raya (sampai empat postingan), saya terus berkampanye tentang menulis. Ya, saya lebih banyak berteori tentang kepenulisan. Bagaimana bisa begini, bagaimana bisa begitu, dan sebagainya. Padahal … menulis adalah pekerjaan aktual, pekerjaan nyata, pekerjaan yang membutuhkan energi luar biasa, bukan hanya sekadar berteori. Okelah saya bisa mengelak karena profesi saya lainnya adalah sebagai pengajar tetap tentang media kreatif (salah satunya kepenulisan) di SMPIT Baitul Anshor, termasuk diundang sebagai pemateri untuk bidang kepenulisan. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu kalau saya bisa jadi jarang menulis kecuali hanya menulis catatan ringan di blog ini. Sekali lagi: hanya catatan ringan! Namun, saya juga meng-appreciate mereka yang baru hanya bisa menulis diari atau hanya sekadar menulis tentang dunia pelajaran di kelasnya. Semuanya berproses dan kita harus menghargai semua proses itu.

Continue reading “Jangan Banyak Berteori: Just Write!”

Membaca dengan Keras

Minggu sore, 04 Oktober 2009, saya kembali berkesempatan mengajar kegiatan ekskul di SMPIT Baitul Anshor, Cimahi. Kegiatan itu diikuti oleh para santri putra dan putri kelas VII sampai IX. Oleh karena suasana masih tak jauh dari lebaran, saya pun mengambil tema yang agak ringan, yaitu apresiasi dari membaca cerpen. Lagipula, memang semua teknik menulis itu ringan-ringan. Yang membuat berat, mungkin bagaimana memulai menulisnya. Saya katakan agak ringan karena para santri hanya diminta mendengarkan beberapa cerpen yang dibacakan, lalu mengambil hikmah dari sana.

Kegiatan itu dilaksanakan pada pukul 15.30-17.30, dimundurkan dari jadwal yang biasanya, yaitu pukul 09.30-11.30. Indahnya mengajar di sana adalah kita harus berkreatif menenangkan mereka yang memang masih anak-anak, sangat berbeda jika menerangkan tentang dunia kepenulisan pada anak SMU dan mahasiswa yang ingin menjadi penulis. Tak aneh kalau keinginan mereka menjadi penulis berawal dari senang membaca, bukan karena memang ingin menjadi penulis. Beberapa santri putri kelas VII pun ada yang mengundurkan diri karena bosan. Wah, harus ditemukan formula baru agar apa yang saya ajarkan cenderung tidak bosan.

Continue reading “Membaca dengan Keras”