Bersimbah Musibah

Dini hari ini Merapi kembali menggelegar. Zona bahaya pun diperluas menjadi 20 km. Tidak hanya sekadar gemuruh, petir pun menyambar lereng Merapi. Hujan kerikil dan debu menyerang seantero wilayah. Warga pun panik meraba jalur evakuasi yang gulita. Stadion Maguwoharjo pun padat laksana pasar. Miris.

Sosok itu beristighfar. Baru kemarin siang ia mendengarkan taujih pra-Dzuhur. Setiap musibah itu sudah tercatat pada Lauh Mahfuz. Sudah direkayasa Penguasa Semesta. Jangan sampai musibah memunculkan bentuk syirik baru. Syirik modern yang tak hanya menyembah berhala semacam Latta, Uzza, atau Manna. Syirik massal yang membuat negeri ini selalu bersimbah musibah.

Dini hari ini telah terhitung 20-an pengungsi yang terluka bakar. Getaran salah satu pasak bumi teraktif itu pun sudah terasa sampai Magelang. Di saat hampir semua manusia terlelap dengan indahnya, mayoritas warga Yogyakarta memilih untuk tidak tidur. Nikmat tidur tercerabut dengan begitu mudahnya.

Musibah. Hanya umat berakal saja yang selalu mengambil hikmah di sebalik musibah. Dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, Sang Penguasa Semesta menguji kita. Dan kabar gembira pun ditujukan hanya pada yang sabar. (QS Al-Baqarah, 2: 155)

Tangan kita telah kotor oleh musibah, dan ini sudah kepastian. Tak ada air yang mampu membersihkannya, kecuali dengan taubat. Sosok itu pun sesenggukan. Tampaknya waktu itu telah tiba, meski terlambat. Ia harus telanjang. Meski seharusnya, negeri ini pun sedari dulu sudah telanjang. Telanjang massal.[]

Advertisements