Puisi Grafis: Mutiara

Siapa bilang
tak ada mutiara di sini?
Siapa bilang
kerang-kerang itu
tak berkembang?

Mata kita buta atau
sengaja dibutakan …
bahwa ada mutiara yang
i.s.t.i.m.e.w.a

Begitu indah menawan,
di hadapan kita

Continue reading “Puisi Grafis: Mutiara”

Advertisements

Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja

Alhamdulillah. Rasa syukur ia ucapkan. Sosok itu seperti diberkahi ketika diterima bekerja di lingkungan islami. Lingkungan Al-Qur’an. Pada saat azan berkumandang, semua karyawan bersiap-siap shalat berjamaah di mushala. Tidak harus menunggu bel istirahat. Semua langsung bergerak.

Belum lagi lingkup kerjaan yang menata letak produk kitab suci umat Islam. Hampir setiap hari matanya tak lepas dari susunan khat, terjemahan, dan beberapa penguatnya. Sebut saja hadits, asbabunnuzul, atau referensi lainnya semacam Harun Yahya. Dan hari ini, sosok itu mendapatkan satu cakupan ilmu yang luar biasa. Bukti kebesaran Sang Maha.

Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (QS Ar-Rahman, 55: 19-23)

Continue reading “Mutiara: Hikmah di Balik (Keberkahan) Kerja”

Anak: Mutiara Kehidupan

Malam sudah mendekati larut. Sosok itu pun memasuki lorong yang sempit dan gelap. Hanya keheningan yang tercipta. Benar-benar kosong. Tak lama, pintu pagar pun berdecit karena usia yang memang membuatnya berkarat. Suara anak-anak kecil pun bergema. “Itu abi. Abi pulang.” Sosok itu pun tahu bahwa anak-anak belum tidur. Mereka sudah pasti menunggunya pulang.

Menjelang larut malam, sosok itu tersenyum lega. Si bungsu mendekapnya erat. Tangannya seolah tak mau lepas dari pelukan sang sosok. Beberapa kali ia menciuminya sementara mata peradabannya terpejam. Sang sulung pun sudah bergelung dengan gulingnya. Tangannya bergerak saat sosok itu tidak menge-‘mpok-mpok’ pantatnya. Ritual tiap menjelang tidur setelah membaca doa dan berharap dapat bermimpi indah serta dijauhkan dari mimpi buruk.

Ya, anak adalah mutiara. Mutiara kehidupan. Orangtua harusnya bersyukur saat dianugerahi anak. Kehidupannya tidak boleh disiakan. Apabila ada waktu lima menit, manfaatkanlah untuk bersentuhan dengan mereka. Apabila ada waktu satu menit, pergunakan untuk mengenal mereka. Bermainlah dengan anak-anak meski sempit sekali waktunya. Tersenyum dan berimajinasilah dengan mereka.

Sungguh beruntung sosok itu begitu dekat dengan anak-anaknya, Bibin dan Anin. Naif sekali jika ada orangtua yang menganggap bahwa anak-anak harus dekat dengan sang ibu saja. Itu (memang) keharusan. Akan tetapi sang bapak juga harus dekat dengan mereka. Keduanya harus dapat bekerjasama mengurus anak-anak. Berbagi kerja. Menata rumah tangga sebagaimana rekan kerja. Ego harus dibuang jauh-jauh. Yang ada hanyalah keikhlasan dan kasih sayang. Itu pun cukup.[]

We are guilty of many errors and faults, but our worst crime is abandoning our children, neglecting the fountain of life. Many of the things we need can wait. The child can not. Right now is the time his bones are being formed, his blood is being made and his senses are being developed. To him we can not answer “tomorrow”. His name is “today”. ~ Gabriela Mistral (Nobel Sastra 1945)

Banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat, namun kejahatan kita yang paling nista adalah kejahatan mengabaikan anak-anak kita, melalaikan mata air hayat kita. Kita bisa tunda berbagai kebutuhan kita. (Tetapi) kebutuhan anak kita, tak bisa ditunda. Pada saat ini tulang belulangnya sedang dibentuk, darahnya dibuat, dan susunan syarafnya tengah disusun. Kepadanya kita tak bisa berkata “esok”. Namanya adalah “kini”. ~ Taufiq Ismail