Dunia Kata-kata Bernama Naskah

Naskah merupakan bahan baku utama penerbit. Hubungan antara penerbit dan naskah jelas merupakan hubungan yang liner alias saling bersinggungan. Semakin banyak penerbit, semakin banyak pula naskah yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan para pembaca dalam berbagai segmen. Begitu pula hubungan antara naskah dan penulis. Semakin banyak naskah yang dibutuhkan, sudah seharusnya semakin banyak pula penulis yang ada.

Di Indonesia, minat menulis buku termasuk minim dan jarang dilakoni oleh masyarakat kita. Bahkan, para akademisi kita (para dosen ataupun sarjana) juga jarang menulis buku. Untuk mengatasi kurangnya para penulis di Indonesia tidak salah kalau kemudian muncullah sebuah organisasi kepenulisan bernama Forum Lingkar Pena (FLP), yang meminjam perkataan Taufik Ismail, “FLP adalah hadiah terbaik bagi Indonesia.” FLP yang didirikan pada 22 Februari 1997 ini memiliki visi untuk menjadi sebuah organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan. Pencerahan ini kemudian disalahartikan sebagai dakwah yang sempit sehingga memunculkan wacana bahwa untuk menjadi anggota FLP haruslah Muslim dan malah semakin disempitkan bahwa FLP adalah termasuk corong partai politik tertentu. Jelas ini salah!

Continue reading “Dunia Kata-kata Bernama Naskah”

Penerbitan dan Percetakan

Beberapa orang seringkali menganggap bahwa penerbitan adalah percetakan dan begitu pula sebaliknya. Padahal, keduanya tidak hanya berbeda secara pelafalan tetapi juga berbeda secara pasti; bahwa keduanya adalah dua perusahaan yang berdiri sendiri kendati keduanya tidak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan.

Menurut KBBI, penerbit adalah perusahaan dan sebagainya yang menerbitkan buku, majalah, dan sejenisnya; sedangkan penerbitan adalah proses, cara, atau perbuatan menerbitkan. Percetakan sendiri bermakna tempat atau perusahaan yang berhubungan dengan masalah cetak-mencetak buku, majalah, dan sejenisnya.

Continue reading “Penerbitan dan Percetakan”

Ditolak? Lalu Menyerah Begitu Saja!

Bagi beberapa orang, menulis bisa jadi merupakan profesi yang menjanjikan. Akan tetapi, sebagaimana yang saya alami, jalan menjadi seorang penulis tidak sekadar sim salabim. Prosesnya begitu rumit, melelahkan, dan bisa jadi di antara sobat-sobat baraya harus berhenti di tengah jalan alias menyerah. Ya, apalagi kalau sudah berhadapan dengan istilah ‘ditolak’.

Penolakan adalah salah satu bagian dari kehidupan seorang penulis. Siapapun yang ingin menjadi penulis perlu belajar untuk menghadapi penolakan. Semangat yang menggebu-gebu seorang penulis pemula karena mendengar cerita indah dari sang mentor yang sudah menjadi penulis beken dalam suatu pelatihan, pada akhirnya meredup ketika beberapa kali hasil karyanya ditolak untuk dimuat di media massa atau penerbit. Itu masih mending karena ada pula yang langsung mati kutu setelah ditolak untuk pertama kalinya.

Continue reading “Ditolak? Lalu Menyerah Begitu Saja!”