Menuju Indonesia Bersepeda

Sepoi angin dan burung nan riang
Barisan gigi nan rapi dan mata nan hangat
Manusia mencoba berbaur dalam keharmonisan
Kesempurnaan hidup adalah tujuannya

Cantik adalah dambaan setiap perempuan, meski pada dasarnya semua perempuan itu sudah dilahirkan cantik. Ya, Sang Maha adalah Maha Sempurna. Kesempurnaan hakiki yang tidak perlu lagi diragukan. Tidak perlu lagi dipertanyakan. Paling tidak, percayalah bahwa setiap perempuan itu cantik bagi orangtua dan pasangannya. Atau bagi pengagum rahasia yang belum diketahui keberadaannya. Namun manusia adalah gudangnya ketidakpuasan. Meski ada hati yang selalu menjaga manusia setiap saat, mereka dikaruniai nafsu yang sering tidak bisa dibelenggu. Mereka selalu ingin lebih, selalu ingin diperhatikan. Selalu ingin memenuhi mangkuknya yang sebetulnya sudah penuh.

Ummi menarik nafas sejenak di depan rumahnya. Subuh baru saja beranjak. Langit masih gelap, tetapi ufuknya sudah menampakkan kemerahan yang makin merona. Pagi telah tiba. “Dan semoga saja pagi ini juga cantik,” bisiknya tersenyum. Kecantikan alam yang coba dipadupadankan dengan kecantikan hidupnya. Cantik adalah dambaan setiap perempuan, begitu pula bagi ibu dari dua anak itu. Berbagai cara ditempuh agar dirinya tetap terlihat cantik setiap hari, salah satunya adalah dengan aktivitas bersepeda. Aktivitas berkeringat sebagai penyeimbang hidup. Itulah yang dipahaminya sebagai seorang perawat dan juga pegiat sepeda sejak tujuh tahun lalu.

Continue reading “Menuju Indonesia Bersepeda”

Advertisements

Ngaboseh dari Katulampa ke Bandung

Sebuah perjalanan 40 orang selama 20 jam
sejauh 150 km yang menghabiskan 5 liter air
dengan cuaca yang tidak bersahabat,
menembus kabut yang amat tebal dan hujan lebat

Ini kisah kedua dari postingan pertama, yaitu Ngaboseh ke Bendungan Katulampa. Perlu diketahui bahwa Bendungan Katulampa amat penting keberadaannya bagi Jakarta. Bendungan ini dibangun sebagai alat pemantau tinggi muka air dimana aliran sungai ini akan diteruskan ke Kali Ciliwung di Jakarta. Jadi, kalau permukaan air di bendungan ini tinggi, sudah dapat dipastikan kalau permukaan air di Ciliwung pun akan tinggi. Dari sini ke perjalanan selanjutnya sudah mulai menantang, apalagi pas menyeberang bendungan. Perlu adrenalin lebih karena harus melewati jalur menanjak yang meski pendek tapi menguras banyak tenaga. Motor saja harus mengambil ancang-ancang agar tidak terhenti di tengah jalan.

Continue reading “Ngaboseh dari Katulampa ke Bandung”

Cyclepedia: All About Sepeda

Sepeda-07Dua tahun sudah sosok itu terlibat di rubrik Back To Boseh yang ada di Koran PR (Pikiran Rakyat). Di sana ada juga OT (Om Tiyo), Bro Gustar, dan Kang Irwan, plus wartawan aseli PR seperti Kang Deni dan Kang Dudi. Dari 6 (enam) orang ini rubrik yang membahas dunia sepeda di Jawa Barat pun hadir setiap hari Minggu. Awalnya mereka semua yang berjibaku mengisi konten, tetapi harapan ke depannya banyak pesepeda yang mau menuliskan petualangan atau pengalaman mereka saat bersepeda. Jadi, bagi kamu atau siapa pun yang punya pengalaman bersepeda coba saja mengirimkan tulisan atau foto ke Back To Boseh. Bukan hanya honor yang didapat, tapi juga jersey keren, lho. Gimana caranya? Nanti akan sosok itu bahas di SINI.

Continue reading “Cyclepedia: All About Sepeda”

Ngagowes Sambil Banjir-Banjiran

Banjir-3Sudah lama juga nggak menulis tentang dunia sepeda. Sosok itu terus bersepeda, cuma jarang menuliskannya lagi di blog ini. Oke, ini kali kedua sosok itu membawa sepedanya dari Bandung ke Jakarta. Bukan persoalan mudah, tetapi dia berhasil melakukannya. Cukup melepas roda depan dan belakang, diletakkan di tengah, lalu diikat dengan kuat, selesai. Sepeda pun jadi lebih kecil volumenya dan bisa ditenteng. Waktu pertama kali membawa sepeda, yaitu dari Jakarta ke Bandung karena sebelumnya digowes dari Bandung ke Jakarta, sepeda tidak muat dimasukkan ke dalam bagasi bus yang ada di samping kiri bawah sehingga terpaksa dinaikkan ke bus dan diletakkan di belakang. Sedangkan kemarin, alhamdulillah sepedanya bisa dimasukkan ke dalam bagasi.

Persiapan berangkat pada Jumat sore (17/1/2014) boleh terbilang agak mepet. Setelah nongkrong sebentar di Kedai Mas Broe dan mencicipi Nasi Goreng Gila, selepas maghrib sosok itu langsung menggowes dari rumah menuju Terminal Leuwipanjang. Sang belahan jiwa kebetulan turut serta mengendarai sepeda motor membawakan tas yang memang lumayan berat. Jalanan yang becek selepas hujan membuatnya menggowes perlahan. Kalau jalanan lancar, tinggal membonceng di belakang motor. Kalau macet, ya digowes lagi. Sampai di terminal, sosok itu segera mempreteli sepedanya. Lagi asyiknya mengikat, tiba-tiba saja sang belahan jiwa memberitahu bahwa bus terakhir menuju Pulogadung baru saja berangkat.

Continue reading “Ngagowes Sambil Banjir-Banjiran”