Es Krim Membawa Nikmat

Tulisan ini memang tidak bercerita tentang sosok itu. Bukan tentang abiku yang biasa menulis di sini. Akan tetapi tentang aku. Perkenalkan namaku Bintan Fathikhansa. Teman-temanku biasa memanggilku dengan sebutan Bintan tetapi orang-orang di rumah sering memanggilku dengan Kakak Bibing. Aku sekarang masih kelas 1 di SDN Karang Pawulang 3. Aku pun mengikuti kursus sempoa agar bisa mempelajari hitung-hitungan dengan mudah. Aku suka menggambar dan mewarnai tetapi aku lebih suka bercerita daripada menulis. O ya, aku suka sekali dengan cerita para putri-putri.

Continue reading “Es Krim Membawa Nikmat”

Lebih Nikmat dari Seks

: kenikmatan
bisa jadi bernilai subjektif

Sudah lama sosok itu tidak menulis tentang teori menulis. Akan tetapi apa yang Anda baca ini bisa jadi memang teori, namun tidak bagi sosok itu. Apa yang dituliskan di sini memang sudah dipraktikan dalam hidupnya sebagai seorang penulis. Sudah masuk ke dalam tataran membuktikan sehingga kenikmatan menulis tidak hanya bertemu pada titik klimaks seperti halnya seks tetapi sudah masuk ke dalam wilayah jauh lebih hebat dari hanya sekadar klimaks.

Continue reading “Lebih Nikmat dari Seks”

Nikmat Luka

Sosok itu menyeringai. Ini adalah biang keteledorannya. Setelah menepi karena ada mobil yang lewat dan badan jalan yang begitu sempit, tanpa sadar roda depan Spidi masuk ke jalan tanah. Jalan tanah yang legok. Dan sosok itu pun tak dapat mengendalikan sepedanya. Ia terjatuh. Lututnya berdarah. Beberapa bagian kakinya linu. Namun perjalanan masih jauh.

Luka memang menyakitkan. Akan tetapi kalau diselami lebih dalam, luka itu ternyata kenikmatan. Anugerah yang hanya bisa didapatkan karena kasih sayang Sang Maha. Luka adalah ujian bagi seorang hamba untuk mencapai derajat yang lebih tinggi lagi. Naik kelas. Itu pun jika dihadapi dengan sabar dan tawakal.

Di perkebunan teh Gambung, sosok itu menyendiri. Ia tertinggal. Namun kesendiriannya memberikan makna bahwa di sinilah saatnya ia berhadapan dengan Sang Maha. Di tengah-tengah hutan gelap dan keindahan kebun teh, ia menjelma manusia kerdil. Suara hewan-hewan liar, gemerisik dedaunan, angin yang membelai, batu-batu kerikil, juga pelukan kabut dingin yang tampak seperti hujan gerimis. Subhanallah. Sementara rasa sakit karena otot yang tertarik semakin membetot.

Malam sesampai di rumah, tak ada kawan seperjalanan yang tahu kalau otot kakinya tertarik. Sosok itu tak perlu mengeluh soal kelemahan. Toh, ia bisa melewati “long trip” itu dengan baik. Tak perlu menjadi beban untuk perjalanan lebih dari 136 km itu. Sosok itu begitu menikmati setiap tanjakan dan turunan, bahkan “downhill” sesaat yang mampu menumpaskan rasa takut atau ragu yang menderanya. Semuanya itu tak lebih karena kekuatan kebersamaan yang ia rasakan.

Luka adalah nikmat. Dan itu adalah benar adanya. Tak mungkin mengetahui seseorang terluka kalau ia tak pernah luka. Luka membuat seseorang menjadi memahami orang lain. Dan … sosok itu begitu menikmati lukanya, meski kini jalannya sedikit tertatih. Tidak apa.[]

Nikmat yang Terlupakan

Sosok itu tercenung. Baru kemarin suaranya menggelegar, menggema ke seantero jagad audio. Baru kemarin ia bisa berorasi dengan mantra-mantra sihirnya pada wilayah kekuasaannya. Baru kemarin ia berasyik-masyuk dengan keromantisan vokalnya. Baru kemarin ia bercengkerama dengan bahasa indahnya di setiap ikatan empat mata. Dan baru kemarin ia bisa menghipnotis sang kekasih dengan bahasa puitis nan anggun. Baru kemarin.

Kini sosok itu tercenung. Betapa berharganya harga suara yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Betapa mahalnya bisa mengatakan “Aku tidak tahu” atau mengatakan “Aku pasti bisa”. Betapa menggairahkannya saat ia bisa mengucapkan “Aku cinta padamu” atau “Tanpamu, apalah aku” pada sang kekasih.

Sosok itu semakin tercenung. Betapa suara adalah kenikmatan yang tak dapat digantikan dengan apapun di dunia. Nikmat yang terlupakan. Nikmat yang ditertawakan, lalu berjuta-juta mulut menangis saat ia telah tiada. Terlambat.

NB: Jika ada Toko Suara di dunia ini, tentu akan banyak orang yang akan mengantre untuk membelinya. Percayalah.