Sejarah Tulisan

“Writing” adalah representasi bahasa pada media tekstual dengan menggunakan beberapa tanda atau simbol (yang dikenal sebagai sistem kepenulisan). Budaya menulis dimulai sebagai akibat dari kebutuhan akuntansi. Pada masa milenium ke-4 sebelum masehi, kompleksitas perdagangan dan perkembangan administrasi membutuhkan kapasitas memori yang lumayan banyak, dan tulisan pada akhirnya menjadi salah satu metode perekaman tepercaya yang permanen (Robinson, 2003, hal 36).

Dalam bahasa Inggris, ‘writing’ merujuk kepada dua hal, yaitu sebagai kata benda (tulisan) dan sebagai kata kerja (menulis). Kegiatan menulis sehingga menghasilkan tulisan adalah proses pembentukan kata-kata pada sebuah media, sehingga lahirlah teks-teks. Orang yang menulis pada akhirnya disebut sebagai penulis. Sesuai perkembangan zaman, lahirlah beberapa profesi spesifik yang berkaitan dengan dunia kepenulisan seperti penyair, penulis esai, novelis, penulis drama, jurnalis, dan lain-lain. Di luar itu ada orang-orang yang dikenal sebagai penerjemah dan ghost writer. Sementara orang yang mengelola hasil tulisan secara estetika dan atau tanpa gambar dikenal dengan kaligrafer (pembuat kaligrafi) dan desainer grafis.

Continue reading “Sejarah Tulisan”

Akhirnya, Buku ke-45!

Bagi seorang penulis, mencatat buku-buku  yang sudah ditulis adalah hukumnya wajib. Dengan begitu, sejarah kepenulisan kita akan tercatat dengan rapi dan bahkan bisa masuk dalam sejarah kepenulisan seperti Mas Ali yang sudah membukukan karyanya sebanyak 300 buku anak sehingga tercatat di MURI sebagai penulis buku anak terbanyak. Begitu pula dengan Kang Arul yang sedang menuju buku ke 200. Sedangkan saya? Ternyata masih jauh di bawah mereka.

Dengan serius tapi santai, saya pun mulai mencari data-data tentang buku saya sehingga akhirnya didapatkanlah angka 45. Ya, saya baru menulis 45 buku yang terdiri dari 7 antologi cerpen, 3 kumpulan cerpen, 1 komik, 1 novel, 4 cerita anak, 4 antologi non fiksi, dan 25 non fiksi. Tolong dicatat bahwa ini adalah jumlah buku yang sudah diterbitkan sehingga bisa dicari keberadaannya di toko-toko buku. Apabila sobat baraya melihat adanya antologi cerpen dan kumpulan cerpen, ini hanyalah untuk membedakan bahwa antologi adalah buku yang ditulis tidak hanya oleh saya tetapi juga bersama teman-teman yang terlibat. Begitu pula dengan antologi non fiksi, dimana saya pernah menulis bareng Ust. Fauzil Adhim, Shahnaz Haque, Okky Asokawati, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, bahkan Habiburahman El-Shirazy. Di luar itu, masih ada beberapa nama yang cukup dikenal terutama dari kalangan FLP (Forum Lingkar Pena) atau bahkan kalangan sastrawan seperti Teguh Winarsho, Irwan Kelana, dan Isbedy Stiawan.

Continue reading “Akhirnya, Buku ke-45!”

Ingin Jadi Penulis? Bacalah!

Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi,
padahal sebenarnya tidak satu pun baris dalam semua karya saya
yang tidak berpijak pada kenyataan.
(Gabriel Garcia Marquez)

Konon, pada zaman dahulu di negeri Cina, orang yang ingin menjadi pelukis akan diberi sebuah lukisan yang sudah jadi dan baik, biasanya yang dibuat oleh seorang master, yaitu seorang ahli melukis atau pelukis terkenal. Sang calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi, sampai sebisa-bisanya, dan semirip mungkin. Sesudah berpuluh-puluh kali mencoba, sang murid akan mendapat sebuah lukisan master baru yang lain lagi untuk ditiru. Begitulah seterusnya sampai sang calon pelukis itu bisa melukis sendiri, dan mulai menemukan bentuk khas yang sesuai dengan kepribadiannya. Metode ini dinamakan copy the master, yang artinya meniru lukisan seorang ahli.

Continue reading “Ingin Jadi Penulis? Bacalah!”

Bacalah! Agar Anda Siap Menjadi Penulis

Pujian terbesar untuk karya saya tertuju kepada imajinasi,
padahal sebenarnya tidak satu pun baris dalam semua karya saya
yang tidak berpijak pada kenyataan.
(Gabriel Garcia Marquez)

Konon, pada zaman dahulu di negeri Cina, orang yang ingin menjadi pelukis akan diberi sebuah lukisan yang sudah jadi dan baik, biasanya yang dibuat oleh seorang master, yaitu seorang ahli melukis atau pelukis terkenal. Sang calon pelukis disuruh meniru lukisan master tadi, sampai sebisa-bisanya, dan semirip mungkin. Sesudah berpuluh-puluh kali mencoba, sang murid akan mendapat sebuah lukisan master baru yang lain lagi untuk ditiru. Begitulah seterusnya sampai sang calon pelukis itu bisa melukis sendiri, dan mulai menemukan bentuk khas yang sesuai dengan kepribadiannya. Metode ini dinamakan copy the master, yang artinya meniru lukisan seorang ahli.

Continue reading “Bacalah! Agar Anda Siap Menjadi Penulis”