Dan Dia Adalah Pilihan Hidupku

Membangun keluarga bukanlah sekadar tahu bahwa bata, pasir, semen, air, dan kerikil adalah unsur pembangun rumah. Membangun keluarga itu harus memahami ilmu hitung, ilmu tanah, rumus kekentalan campuran, dan segala hal yang mempengaruhi kuat-tidaknya pondasi sebuah rumah. Tidak hanya pondasi, tetapi juga keseluruhan unsur pembangun rumah tanpa kecuali, termasuk bagaimana proses perawatan yang baik agar usianya melewati beberapa generasi.

Sosok itu bukannya tidak tahu mengapa dia memilih pasangan jiwanya sebagai orang terkasih. Alasannya begitu suci. Begitu putih bahwa hatilah yang mampu menjawab itu semua. Bukan ucapan yang bercampur dengan ludah kenistaan. Atau kata-kata yang membuai sang mata hingga menjadi buta. Hatinya begitu menyatu. Hingga kerlingan mata atau senyuman nan indah cukup menjadi jawaban pasti.

Continue reading “Dan Dia Adalah Pilihan Hidupku”

Advertisements

Umi: Ketegaran Seorang Ibu dan Kekasih

Pasangan jiwa itu sayu. Tangannya mendekap erat jaket yang membungkus. Tangan lainnya menarik selimut tebal. Bibir pasinya berbisik. Sosok itu mendekat dan mengangguk. Tak lama, motor kuning melaju di kegelapan. Makan bersama tujuannya. Mencari lauk pauk untuk teman nasi. Sosok itu bersyukur. Bersama pasangan jiwanya masih bisa mengganjal perut meski sederhana.

“Bang, kau tahu bahwa semua saudara-saudaraku bisa kuliah?” Sosok itu mengangguk. “Kau tahu bahwa kuliah adikku pun didukung oleh penghasilanku?” Sosok itu mengangguk lagi. “Aku pun ingin kuliah, Bang.” Sosok itu tersenyum. “Suatu saat. Suatu saat nanti, Hon.” Ada binar kecemburuan di sudut matanya. “Suatu saat akan kau nikmati rasanya kuliah.”

Continue reading “Umi: Ketegaran Seorang Ibu dan Kekasih”

Bibing: Diakui sebagai Ayah

Hari masih gelap. Sosok itu dan pasangan jiwanya sudah berdiri di sisi jalan yang sepi. Apabila hari telah terang, tak terbayang padatnya jalan itu, sampai-sampai para penyeberang jalan harus sabar. Sebuah angkot datang, dan mereka berdua pun naik. Sosok itu memandang perut pasangan jiwanya yang besar dan keras. Ada sebuah rasa dan asa. Di sana.

Belum jauh berjalan, sang sopir meminta izin berbelok ke arah yang bukan rutenya. Menjemput penumpang yang sakit parah katanya. Sosok itu hanya mengangguk kendati pasangan jiwanya juga membutuhkan pertolongan cepat. Lama menunggu di depan rumah calon penumpang yang katanya tidak bisa berjalan, tak ada sapa di sana. Hingga hari pun terang. Setengah jam menunggu hingga angkot pun terpaksa jalan. Mau naik taksi katanya.

Sekali lagi, sampai di rumah sakit sang jabang bayi belum mau keluar. Pembukaan sudah besar, tetapi plasentanya pendek. Itu kata bidan. Sama halnya dengan kejadian beberapa minggu lalu. Meski sudah pembukaan empat, sang jabang bayi masih betah di sana. Agar persalinan berjalan normal, nantinya, sang pasangan jiwa pun berjalan-jalan. Mengitari rumah sakit dan menengok ruang kerjanya di belakang sana.

Wajah cantiknya bercahaya. Sosok itu memandang pasangan jiwanya. Tanpa lelah, ia menyeterika beberapa kain yang dipersiapkan untuk sang jabang bayi. Masih sempat-sempatnya. Setengah jam berlalu, dan keduanya pun kembali berjalan ke arah ruang persalinan. Sampai di sana, alhamdulillah pergerakan pun terjadi. Bidan pun bersiaga. Para bidan bahkan. Ini ajaib, karena sang pasangan jiwa sangat dikenal. Sosok itu berdiri di sampingnya. Begitu pula sang ibu mertua, almarhumah.

Pengalaman pertama. Subhanallah. Dimarahi. Diteriaki. Menjerit. Dorong. Nafas panjang. Angkat kepalanya. Dipaksa. Ngeden. Allah Mahatahu apa yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Sosok kecil itu pun keluar dengan sempurna. Menangis. Meronta. Disedot. Tak sadar airmata mengalir. Hati berdebur begitu kencang. Sosok itu dan pasangan jiwanya berpelukan. Semua sehat. Sakit 15 bulan lalu menjadi hilang, saat janin pertama harus gugur.

Diciumnya sosok kecil itu. Masih bau plasenta, tapi begitu harum. Azan pun berkumandang di telinga kanannya dan iqomat di telinga kirinya. Tak lama setelah dibersihkan. Bintan Fathikhansa. Itulah sebutan sosok kecil itu. Sebelumnya Khansa Bintan Fathiya. Bintan adalah nama pulau tempat mertua sedang merantau. Perempuan yang meraih kemenangan. Siang yang indah. Siang yang cemerlang. Siang yang fantastis. Tepat tujuh tahun yang lalu. Tanpa terasa.[]