Menghitung Harga Buku

Saat sobat baraya pergi ke toko buku dan membeli sebuah atau beberapa buku, pernahkah sobat baraya bertanya mengapa buku ini harganya jauh lebih murah daripada buku itu kendati jauh lebih tebal? Mengapa buku ini mahal sekali padahal sangat tipis? Mengapa buku-buku terbitan A selalu berada di bawah angka 50 ribu rupiah sedangkan buku-buku terbitan B selalu berada di atas angka 50 ribu rupiah? Mengapa buku-buku terjemahan lebih mahal daripada buku-buku yang ditulis oleh penulis lokal yang sama-sama ditulis dalam bahasa Indonesia?

Well, ada banyak faktor yang membuat buku memiliki harga yang berbeda-beda. Bahkan, faktor-faktor yang kadang-kadang tidak pernah dipikirkan oleh para pekerja buku–dan sangat dihindari–pun bisa jadi membuat harga sebuah buku menjadi sangat mahal dari perkiraan awal. Misalnya saja keterlambatan proses sebelum naik cetak, kesalahan pada cetakan sehingga harus diulang, atau kesalahan pada sampul buku sehingga harus dibuat jaket.

Continue reading “Menghitung Harga Buku”

Akhirnya, Buku ke-45!

Bagi seorang penulis, mencatat buku-buku  yang sudah ditulis adalah hukumnya wajib. Dengan begitu, sejarah kepenulisan kita akan tercatat dengan rapi dan bahkan bisa masuk dalam sejarah kepenulisan seperti Mas Ali yang sudah membukukan karyanya sebanyak 300 buku anak sehingga tercatat di MURI sebagai penulis buku anak terbanyak. Begitu pula dengan Kang Arul yang sedang menuju buku ke 200. Sedangkan saya? Ternyata masih jauh di bawah mereka.

Dengan serius tapi santai, saya pun mulai mencari data-data tentang buku saya sehingga akhirnya didapatkanlah angka 45. Ya, saya baru menulis 45 buku yang terdiri dari 7 antologi cerpen, 3 kumpulan cerpen, 1 komik, 1 novel, 4 cerita anak, 4 antologi non fiksi, dan 25 non fiksi. Tolong dicatat bahwa ini adalah jumlah buku yang sudah diterbitkan sehingga bisa dicari keberadaannya di toko-toko buku. Apabila sobat baraya melihat adanya antologi cerpen dan kumpulan cerpen, ini hanyalah untuk membedakan bahwa antologi adalah buku yang ditulis tidak hanya oleh saya tetapi juga bersama teman-teman yang terlibat. Begitu pula dengan antologi non fiksi, dimana saya pernah menulis bareng Ust. Fauzil Adhim, Shahnaz Haque, Okky Asokawati, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, bahkan Habiburahman El-Shirazy. Di luar itu, masih ada beberapa nama yang cukup dikenal terutama dari kalangan FLP (Forum Lingkar Pena) atau bahkan kalangan sastrawan seperti Teguh Winarsho, Irwan Kelana, dan Isbedy Stiawan.

Continue reading “Akhirnya, Buku ke-45!”