Undangan dan Celana

Mendengar kata ‘undangan’ secara otomatis benak kita akan disuguhi rasa kebanggaan atau kesenangan, apalagi jika pihak yang diundang adalah diri kita sendiri. Akan tetapi, jika hal itu menjadi hal rutin seperti undangan pernikahan yang bukan sahabat terdekat atau khitanan salah satu tetangga tentu akan menjadi hal yang biasa saja. Nah, jika tidak biasa karena bisa jadi peristiwa ‘undangan’ itu hanya sekali seumur hidup jelas akan menjadi hal yang paling istimewa dalam hidup kita.

Inilah yang dialami sosok itu selama beberapa hari kemarin, yaitu undangan pribadi dari Telkom tentang Indigo Award 2011 dan undangan perwakilan Komunitas Pesepeda Perempuan NGN dari Ibu Netty Prasetiyani (istri Gubernur Jabar) tentang bedah buku “Politik Harapan: Perjalanan Politik Perempuan Indonesia Pasca-Reformasi” karya Ani Soetjipto. Kedua undangan itu kebetulan bertepatan harinya, yaitu hari ini (Kamis, 16 Juni), sehingga sosok itu memutuskan hanya menghadiri undangan kedua karena undangan pertama berlokasi di Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Jauh, bo!

Continue reading “Undangan dan Celana”

Dua Orang Perempuan

: Cerpelai
Cerita Pendek Sekali
Ah … terdengar terlalu alay
Semoga tetap berarti

Seorang perempuan tua duduk di depan lapak kecil di tepi jalan, dengan baju-baju beraneka warna. Seorang perempuan kecil datang menghampiri. Rambutnya kusut dan kulitnya berbusik. Wajahnya memancarkan kekhawatiran. Hingga akhirnya ia menyodorkan plastik hitam yang dibawanya.

“Maaf, Mbah. Mbah bisa menolong saya?”

“Nolong apa?”

Continue reading “Dua Orang Perempuan”

Seorang Perempuan Tua Duduk Termangu

—-Panas. Suasana Bandung yang saban hari semakin terik saja. Melepuhkan aspal-aspal. Melelehkan plastik-plastik. Menguapkan keringat-keringat. Mengeringkan genangan-genangan. Mencipta bias fatamorgana pada permukaan jalan. Mencipta angan-angan. Bersama angin yang raib begitu saja. Menghilang. Lenyap. Terembuskan begitu saja. Menjadi ghaib. Kembali lagi menjadi awal. Berputar dan terus berputar. Pada titik yang pada akhirnya kembali menjelma panas.
—-Seorang perempuan tua duduk termangu. Pada lapaknya yang tidak jauh dari lapak-lapak pedagang kaki lima yang banyak berkumpul di pinggir jalan utama. Memenuhi trotoar yang tidak ada lagi ruang bagi pejalan kaki. Lapaknya selalu sepi; yang tampak berbeda jauh dari lapak-lapak lainnya dimana calon pembeli berjubel. Mungkin karena barang dagangannya yang second. Mungkin karena dia hanya perempuan tua yang tidak aktif menawarkan dagangannya. Mungkin karena rezekinya belum datang. Mungkin….

Continue reading “Seorang Perempuan Tua Duduk Termangu”