Menjadi “Marshal” Pelari Bandung-Jakarta

Bersepeda jarak jauh mungkin sudah umum, apalagi sekarang. Sudah banyak para pesepeda yang melakukannya, baik sendirian atau berkelompok bersama komunitas. Jaraknya bukan lagi di dalam kota, tetapi sudah antarkota, antarprovinsi, antarpulau, bahkan antarnegara. Akan tetapi, bagaimana kalau touring kali ini adalah menemani para pelari dari Bandung ke Jakarta? Bersepeda jarak jauh dengan kecepatan antara 5-7 km/jam?

Itulah yang sosok itu lakukan bersama empat pesepeda lainnya selama 13-15 Juni 2014 kemarin. Ada 8 (delapan) pelari yang harus mereka kawal dari Bandung. Jumlah ini berkurang dan bertambah di sepanjang perjalanan tergantung kekuatan kaki masing-masing. Yang menjadi pertanyaan, apakah yang mereka lakukan itu hanya demi prestise semata? Tidak. Semuanya bermula saat salah seorang sahabat mereka meninggal dunia karena penyakit leukemia. Mereka pun mencari tahu dan akhirnya bertemu dengan Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI).

Continue reading “Menjadi “Marshal” Pelari Bandung-Jakarta”

Advertisements

Bersepeda Sambil Donor Darah

Manfaat bersepeda tidak hanya dirasakan oleh pesepeda itu sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi banyak orang yang ada di sekitarnya. Sepeda tidak menimbulkan polusi sehingga udara yang ada di sekitarnya akan selalu bersih, berbeda dengan kendaraan bermotor–yang meski memberikan kenyamanan dan cepat sampai bagi pelakunya tetapi malah memberikan udara buruk dan kemacetan. Bersepeda memberikan kesegaran bagi lebih banyak orang.

s-015_donor1

Dari sisi fashion, bersepeda bahkan bisa memberikan porsi lebih dibanding bermotor atau bermobil ria. Siapa yang tidak membuat iri saat ada seorang fashionita (laki-laki maupun perempuan) bersepeda di tengah hiruk-pikuk kendaraan bermotor di jalan raya. Bahkan, fashion dari bentuk sepeda itu sendiri menjadi ciri khas beberapa komunitas sepeda yang ada. Yang jelas, bersepeda telah memberikan kenyamanan tidak hanya bagi pelaku pesepeda itu sendiri, tetapi juga bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Continue reading “Bersepeda Sambil Donor Darah”

Nostalgi[l]a Pesepeda Gila [Part 4 of 4]

Jum’at sore, di atas jembatan layang Kiaracondong pandangan saya menelusuri aktivitas manusia di Stasiun Kiaracondong. Angin cukup kuat untuk menerbangkan layang-layang yang banyak memenuhi langit Kota Bandung. Sambil memakan cakue, saya duduk di atas sadel Spidi yang bersandar di pagar pembatas. Spidi adalah sebutan sepeda saya yang bermerek Master dengan no. seri DSA 0026030 keluaran tahun 80-an, lebih awal daripada Federal yang sempat melegenda. Warna biru aslinya kini sudah ditimpa oleh cat semprot hitam dan poletan merah di beberapa bagian. Begitu pula beberapa tambahan dan penggantian aksesoris seperti suspension forks, stem, rem, spokes (jari-jari), ukuran ban dari 1,5 inci menjadi 2 inci, dan sebagainya. Jangan heran kalau saya mengetahui detail sepeda tersebut karena memang aktivitas bersepeda saya sudah sejak lama, bahkan boleh dibilang sedari kecil (saya masih ingat kecelakaan sepeda pertama adalah ketika masih SMP di Jl. RE. Martadinata, Tanjung Priok).

Mobil dan motor yang melintas di sebelah dengan kecepatan tinggi tidak saya hiraukan, hanya anginnya saja yang terus menerpa mencipta kesejukan dan kesegaran. Suasana yang saya anggap nyaman dan romantis itu kemudian membawa memori saya untuk berlari ke belakang. Memori pertama yang mengimbas pada kegiatan bersepeda saya yang saat ini sudah tiap hari untuk sarana transportasi bekerja, dan juga tentu saja untuk sarana berolahraga. Memori pertama yang membuat saya mampu bersepeda ke luar kota menempuh puluhan kilometer seperti Sumedang, Purwakarta (Waduk Cirata), dan juga tempat-tempat dengan ketinggian yang dapat dikatakan curam di sekitar Kota Bandung.

Continue reading “Nostalgi[l]a Pesepeda Gila [Part 4 of 4]”