Koran: Media Pengakuan Diri

Sebelum lupa, sosok itu kembali mengingatkan. Sebelum basi, sosok itu menengok ke belakang. Tepatnya tahun lalu di bulan terakhir. Sebagai (orang yang mengaku) penulis, rasanya tidak sah jika tidak menunjukkan bukti akan profesi kepenulisannya. Selain buku, media massa pun dianggap sebagai bukti kuat. Untuk itu, marilah kita berbicara tentang koran.

Adalah Charlie yang memulainya pas di permulaan Desember 2010. Kompas Jabar memuat tulisannya di rubrik “Forum”. Tulisannya begitu tajam mengkritik para pesepeda (khususnya) dan pemkot (sebenarnya). Disebutkan di sana (salah satunya) bahwa jiwa pesepeda (kota) tidak akan sehat meski fisiknya sehat. Lebih-lebih, ia pun menuliskan bahwa Bandung sudah terlanjur berantakan dan tidak mungkin diubah menjadi kota yang ramah lingkungan.

Banyak pesepeda yang kaget dan marah. Sosok itu pun begitu, awalnya. Pada akhirnya sang sosok tersadarkan bahwa Charlie sengaja memancing agar pesepeda dan pemkot bisa bangkit lagi dari tidur panjangnya. Jangan terlalu terlena dengan bias ramainya pesepeda dan dibuatkannya jalur sepeda. Sosok itu menganggap tulisan itu sebagai tantangan bahwa bersepeda itu sangat penting. Bersepeda itu sangat sehat dan bisa menciptakan kota yang hijau haruslah dijelaskan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dimuat di media massa.

Continue reading “Koran: Media Pengakuan Diri”

Advertisements