Prahara di Atas Bus

Tangisan. Ya, sebuah tangisan. Baru kali ini sosok itu merasakan sensasi sebuah tangisan di tempat umum. Bukan orang lain yang menangis tetapi sosok itu sendiri yang menangis. Deraian air mata mengalir tak berhenti. Rasa sesak pun timbul tenggelam bak pelampung di tengah lautan. Tangisan yang seharusnya tidak ada. Tangisan di atas bus yang akan mengantarkannya ke luar kota lalu terbang menggunakan pesawat yang akan membawanya menikmati angkasa luas tak bertepi menuju pulau nan eksotis di ujung pulau Jawa.

Ada apa? Ah, ini cerita panjang. Ini kisah yang memerlukan pemahaman dari sebuah dialog batin yang terputih milik sosok itu. Bukan hanya sekadar obrolan ringan teks-teks sederhana ini, yang kemudian selesai dibaca layaknya makan kerupuk. Akan tetapi sosok itu akan “sharing” beberapa hal yang dianggap tidak mengganggu privasinya. Bahwa hidup ini memang tidak akan pernah ‘flat’, semuanya menjadi begitu beragam jika sudah terjun bebas di alam dunia ini.

Continue reading “Prahara di Atas Bus”