Nongkrong di 5 to 12 Cafe

Kopi memang pahit,
yang manis itu senyumanmu.

Nongkrong di 5 to 12 Cafe atau Five to Twelve Cafe itu ternyata asyik, lho? Percaya gak? Oke, kamis siang itu panas sekali. Meski Bandung dikenal sebagai kota yang dingin (dan bikin hati juga adem) dan membuat warganya sering lapar, tetap tidak mengurangi garangnya sinar matahari. Sosok itu seperti biasa menjemput Adik Anin yang katanya bakal beres sebelum pukul 12. Meski lewat sedikit, alhamdulillah sesuai jadwal. Kaos yang dikenakannya telah basah oleh keringat. Maklum saja dia memang sengaja naik sepeda dari Ciganitri ke Buah Batu. Motor dipakai sang belahan jiwa. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Bisa sehat dan berkeringat itu alhamdulillah, lho. Apalagi bisa menjemput sang buah hati di sekolahnya. Dan kebetulan anaknya juga senang dibonceng naik sepeda.

Adik Anin langsung gembira saat melihat sosok itu masuk ke halaman sekolah dengan Spidi-nya. Agar tidak berat, tas sekolahnya dimasukkan ke dalam pannier biar tidak terlalu berat beban punggungnya. Adik pun langsung melompat ke atas boncengan. Banyak mata memandang mereka berdua, biarkan saja. Hidup harus dinikmati. “Dik, kita mampir dulu ya ke Five to Twelve Cafe. Kita makan siang dulu,” ujar sosok itu membuka suara setelah sampai di Jln. Reog. “Gak mau ah! Langsung ke Binong aja,” jawab Adik seperti biasa. Biasa karena memang susah kalau diajak makan. “Pokoknya mampir dulu, Adik pasti senang.” Takpeduli dengan keengganannya, akhirnya dia mengarahkan sepedanya ke cafe yang disebutkan. Kebetulan dekat, tidak jauh dari sekolah.

produk-34

Chicken Katsu Rp35K | Jus Leci Rp19,5K

Tulisannya 5 to 12, tapi dibacanya ya ‘Five to Twelve’. Sebuah cafe yang baru dibuka awal tahun ini. Masih gress, tapi menawarkan lokasi nongkrong yang mengasyikkan. Awalnya sosok itu menyangka bahwa nama tersebut menjelaskan tentang waktu jam bukanya. Biasanya memang seperti itu. Buka jam 5 pagi/sore, lalu tutup jam 12 malam. Tetapi ternyata tebakannya salah. Waktu buka normalnya adalah jam 8 pagi sampai 11 malam (Senin – Jumat) dan sampai jam 12 malam (Sabtu dan Minggu). Oke, paling nanti ditanyakan saja pada karyawannya yang ada di dalam. Tidak butuh lama untuk sampai di sana dari Jln. Karawitan. Setelah berbelok ke kiri dari Jln. Reog, langsung ketemu deh cafenya yang tidak jauh dari Bank BRI. Halaman parkirnya luas. Desain visualnya menarik. Cocok buat tempat nongkrong. Taglinenya jelas … coffee shop and eatery. Bisa buat ngopi dan makan-makan.

Cafe ini menyediakan makanan Indonesia dan Eropa, meski setelah melihat menunya juga ada makanan Asia seperti dari Jepang. Sebagai tempat nongkrong buat ngopi-ngopi cantik, mereka juga memiliki mesin pemroses kopi dari Italia. Inilah alasan mengapa cafe ini menyediakan kopi premium? Ya, mesin kopi Five to Twelve adalah yang terbaik di Bandung! Kereeen. Dan pada jam-jam tertentu bakal ada live musif buat nenangin telinga dan hati. Tidak lupa, mereka juga menawarkan fasilitas internet gratis dari wifinya yang berkecapatan 150 Mbps. Widiiih. Karena panas, Adik Anin langsung saja memesan Split Banana Ice Cream, kalau makannya dia lebih suka Chicken Katsu. Sosok itu lebih memilih Bebek Goreng Lombok Ijo dan Jus Leci saja. Biasanya, kalau masakan Indonesia sebuah cafe/resto itu sudah enak, tentu makanan yang lain juga dijamin enak. Biasanya ya, ini dari pengalaman saja. Oke, kita tunggu saja.

produk-36

Sambil menunggu, iseng-iseng sosok itu bertanya pada salah satu karyawan yang kebetulan ada. Dia bertanya soal konsep desain yang ada di 5 to 12 Cafe. Asli! Keren dan unik. Ada kumpulan beberapa jam yang tidak biasa di salah sudut kiri. Mulai dari bentuk jam kuno sampai jam yang angkanya merupakan rumus matematika. Bayangkan saja, angka 7 diganti dengan persamaan 52-x2+x=10 dan angka 4 diganti dengan 50/2=100/x. Dasar alumnus ITB! Maksudnya, kata karyawan cafe ini, pemiliknya memang jebolan ITB. Eh, semua jarum jamnya menunjukkan pukul 12 kurang 5 menit. Ada rak buku dengan papan berbentuk angka 5 dan 12. Ada foto sudut kota di Eropa. Ada foto beberapa pemimpin dunia dengan tulisan ‘Where there is love there is life‘. Pintu kamar mandi yang berbentuk kotak telepon. Dan tentu saja beberapa quotes yang bagus dan bikin tersenyum.

Selain itu, ada juga salah satu mesin permainan yang bikin penasaran. Dart Game! Permainan santai melempar anak panah kecil ke papan sasaran. Uniknya, mesin ini lebih modern. Adik Anin saja ingin langsung mencobanya. Setelah dinyalakan, barulah bisa dimainkan. Score-nya terpampang otomatis saat anak panah mengenai papan sasaran. Bagi yang sudah tahu permainan ini ada istilah main zero-one (01) atau cricket. Kalau gak ngerti, ya main saja apa adanya seperti Adik Anin. Asal dekat ke tengah berarti sudah jago hehehe. Setelah puas bermain, makanan pun tiba. Sosok itu langsung menyeruput jus leci pesanannya. Segarrr. Baru kemudian memakan bebek gorengnya dengan lahap. Dari segi rasa, rempah-rempahnya begitu terasa. Pas banget dengan lidahnya. Racikan Chef Kurniawan memang cocok. Adik Anin juga begitu, langsung mencoba es krim pilihannya. Enak katanya. Dan dia pun lahap memakan chicken katsunya meski (seperti biasa) nasinya tidak habis. Kenyang.

produk-35

Split Banana Ice Cream Rp25K | Bebek Goreng Lombok Ijo Rp48K

Oya, setelah ditanyakan, ternyata ‘Five to Twelve’ itu memiliki filosofi unik. Ada beberapa arti. Bagi orang Eropa, five to twelve itu artinya deadline, kesempatan terakhir. Ini sebuah kiasan umum di sana. Sedangkan bagi orang Indonesia, five to twelve itu adalah jam 12 kurang 5 menit. Artinya jam makan siang sudah dekat hehehe. Dari sudut pandang yang lebih dalam lagi (versi Islam), surat ke-5 dalam Al-Quran adalah surat Al-Maidah yang memiliki makna ‘hidangan’. Rupanya ‘Five to Twelve’ ingin menyuguhkan hidangan yang halal dan baik. Amiiin. Sedangkan surat ke-12 dalam Al-Quran adalah surat Yusuf, nama yang diambil dari seorang pemuda tampan dan baik sehingga memikat orang-orang di sekitarnya. Maknanya sudah tahu kan, bahwa ‘Five to Twelve’ ingin memikat semua masyarakat untuk datang dan mampir menyicipi hidangannya. Keren pisan ya filosofinya.

Kopi aja bisa bikin deg-degan,
apalagi kamu.

Ingin tahu lebih jauh?
>>> http://fivetotwelvecafe.com/
Jln. RAA. Martanegara No. 50 Bandung
Phone : 022 – 7307276
Email : info@fivetotwelvecafe.com

Ngeblog Ala Story Telling

Berceritalah | Tertawa dan menangislah
Luapkan semua perasaan … apa adanya

Awal 2000-an gelombang penulis melanda Indonesia, khususnya fiksi islami. Forum Lingkar Pena atau FLP adalah gerbong lokomotifnya dengan beberapa masinis yang saat itu amat dikenal. Salah satunya adalah Helvy Tiana Rosa. Para penulis muda itu menulis banyak hal tentang dunia nyata keislaman, baik yang bernuansa lokal maupun internasional. Dari yang apa adanya, sampai yang tergagap menerjemahkan budaya luar. Sebagian kecil terbilang berhasil dan mulai dikenal, namun sebagian besarnya gagal dan lambat laun hilang ditelan lautan. Habiburrahman El Shirazy adalah satu penulis yang berhasil dikenal hingga karyanya meluas sampai ke layar bioskop. Sosok itu sendiri juga ikut-ikutan, tetapi masalah tenggelam atau terapung bergantung dari pendapat kawan-kawan semua. Dia tidak bisa menyimpulkannya.

Mengapa banyak yang tenggelam? Kalau mau jujur, sosok itu menilai karena ada ‘jarak’ antara penulis dengan karyanya. Penulis tidak melebur bersama karyanya. Dunia penulis adalah dunia A, sedang karyanya adalah dunia X. Tidak pernah bersatu. Pada akhirnya memunculkan opini bahwa karya-karya FLP selalu mengagungkan makna simbolis seperti ucapan salam, gerakan shalat, panggilan ala Arab, dan sejenisnya. Esensi dari karyanya tidak ada. Beberapa penulis memaksakan bercerita apa yang terjadi di Palestina. Dialognya berbahasa Arab tetapi esensi ceritanya gagal. Adanya ‘jarak’ itu memang disebabkan oleh tidak adanya pengalaman pribadi penulis. Adakah penulis yang pernah tinggal atau mampir di Timur Tengah? Kalaupun ada penulis yang berhasil, itu karena penulisnya mau bersusah payah melakukan riset, chat atau berkirim email dengan salah satu warga di sana, dan akhirnya cek-ricek hasilnya.

Continue reading “Ngeblog Ala Story Telling”

Peta Inspirasi dan Awan

Peta inspirasi. Petualangan tanpa batas untuk menggapai kata-kata supernova. Berbuih-buih kata yang (mencoba) mengantarkan sang penganyam kata maupun pembacanya ke alam nirwana. Mencari seonggok kebenaran dan (tentunya) kejujuran. Benar-benar inspiratif. Benar-benar kreatif. Salut untuk sang puteri yang memulai ide briliannya.

Sang puteri kemudian asyik saja bermain di taman kerajaan. Dan membiarkan suteranya terbang terbawa angin. Sutera yang bertuliskan syair tentang hari yang telah lalu. Hari yang akan mengendap dan membiarkan ia pergi. Takdir pun menerbangkan sutera itu pada negeri seberang. Menggoda mata seorang dayang kerajaan yang sedang memetik anggur. Dayang keibuan yang takmengenal lelah di perkebunan nan luas.

Continue reading “Peta Inspirasi dan Awan”

Quotes #002

25/12/2010
: Kusapa malam dan kita pun bercanda. Berceloteh tentang siang dan tertawa saat bintang mengedip pada bulan. Kami pun teringat pada matahari yang suka tersenyum nakal pada bumi. Betapa hangatnya. Dan aku pun bahagia. (Bang Aswi)

26/12/2010
: Malam tanpa bintang. Angin pun lenyap. Warna merah baju yang kupakai entah mengapa tiba-tiba saja luntur. Kuembuskan nafas yang terasa mencekik terasa panas terasa pilu terasa sakit terasa perih. Dan aku pun memojok. Menutup telinga. Jerih mendengar tangisan wayang tangisan batik tangisan syair tangisan pulau tangisan negeri membahana tak bertepi. (Bang Aswi)

Quotes #001

Bersepeda itu mengajarkan kita keseimbangan. Kerjasama antara gerak kaki, tangan, dan semua bagian dari tubuh lainnya tidak boleh disepelekan. Masing-masing tidak boleh ada egosentris. Begitu pula dengan intuisi menulis. Menulislah dengan kebersamaan dan keberagaman. Huruf menjadi kata menjadi kalimat menjadi paragraf menjadi utuh menjadi indah menjadi cinta. (Bang Aswi)