Kisah Makanan yang Menangis

Sedih. Siapa yang tidak sedih?
Di siang kosong, dengan sepeda yang tergeletak …
Kupunguti makanan itu satu persatu
Di bawah tatapan anakku

Minggu kelabu tampaknya hari itu. Akan tetapi banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari episode kehidupan sosok itu dan keluarganya. Dan meski ada segores luka dari sekian banyak kehidupannya pada hari itu, kegembiraan tetap terpancar dari seluruh anggota keluarganya. Bernyanyi, menari, bersenda gurau, hingga shalat berjamaah di sore menjelang malam. Semua menyatu … mencipta masakan yang sedap disantap.

Continue reading “Kisah Makanan yang Menangis”

Mensyukuri Rezeki (Tak Terduga)

Setelah memastikan bahwa namanya memang terpampang sebagai salah satu pemenang Ancol Blog Competition yang diadakan oleh Kompasiana, sosok itu pun langsung sujud syukur di atas kasur. Kasur? Ya, kebetulan ruang kerjanya memang harus duduk di atas kasur. Subhanallahu wallahuakbar. Segala Puja dan Puji hanya bagi Allah yang terus-menerus menyiapkan rezeki pada hamba-Nya yang sering khilaf ini.

Continue reading “Mensyukuri Rezeki (Tak Terduga)”

Rezeki dari Sang Maha

Rezeki memang selalu takterduga. Manusia memang hanya diwajibkan berusaha, setelah itu biarkan Sang Maha yang mengaturnya. Dan sosok itu benar-benar merasakan dan kebesaran atas ke-Mahakuasaa-an Sang Maha itu. Alhamdulillah….

Hari kemarin, sosok itu begitu beruntung bisa memenangkan 1 (satu) buah Kaosku Cekas setelah komennya berada pada urutan ke-30 di fesbuk Cekas. Memang persyaratannya yang mendapatkan kaos adalah yang berhasil komen pada urutan ke-15, 30, dan 45 dengan masing-masing orang hanya bisa komen maksimal lima kali. Dengan strategi tertentu, sosok itu berhasil memperolehnya.

Continue reading “Rezeki dari Sang Maha”

Rezeki Takkan Kemana

Sosok itu menjadi teringat. Kenangan hampir tujuh tahun yang lalu. Subuh belum beranjak jauh, tapi pintu kamar sudah diketuk. Kakak ipar ingin meminjam tas ransel. Tujuannya adalah Gasibu (sebuah halaman tepat di depan Gedung Sate, Bandung). Bersama kedua orang kawannya, dia ingin mengikuti sebuah lomba yang diadakan oleh salah satu provider telepon.

Jelas aneh. Ketiganya termasuk orang-orang yang jarang bangun pagi. Bukan kebetulan kalau ketiganya masih bujangan. Singkat cerita, sepulang dari acara syukuran seorang kawan, sosok itu dikejutkan oleh ketiganya. Sebuah kunci motor raksasa dari stereofoam bertengger di teras, belum tiga ponsel keluaran terbaru berpindah dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Ya, mereka berhasil menjadi juara umum pada lomba yang dimaksud.

Continue reading “Rezeki Takkan Kemana”

Menyemai Rezeki

Telinganya masih berdenging. Terngiang akan sebuah petuah bijak seorang ulama: “Rezeki itu sudah tersebar di muka bumi, tinggal bagaimana kita menjemputnya.” Sosok itu pun mengiyakan. Apalagi jika ia mengingat omongan orang-orang terdahulu bahwa rezeki, jodoh, dan maut sudah ada catatannya.

Dalam satu Jum’at, sosok itu pernah mengencleng X rupiah. Jumlah yang cukup besar mengingat ia biasanya hanya mengencleng X/5 bahkan X/10 rupiah. Saat itu, ia benar-benar mencoba mengikhlaskannya. Hanya Sang Maha yang mengetahui isi hatinya.

Selang beberapa hari kemudian, di satu siang yang terik, sosok itu mendekati salah seorang rekan kerjanya. Rekan itu bertanya pada kawan yang lain tentang tempat makannya. Sosok itu pun mengajukan diri, “Mau nitip? Kebetulan saya mau beli di sana.” Tanpa butuh waktu lama, rekan kerjanya pun menitipkan sesuatu pada sosok itu.

Tak ada pengharapan apa-apa selain jurusannya sama. Setelah pesanan diantar, serah terima kembalian pun berlangsung. Tak dinyana, sosok itu mendapatkan jatah atas jasanya meski sebelumnya terjadi tarik-ulur diterima-tidaknya jasa itu. Dan jumlahnya pun persis sebesar X rupiah. Tidak kurang, tidak lebih.

Usaha adalah awal segalanya. Keikhlasan adalah pengikutnya. Selama keduanya berjalan beriringan, hikmah terbaik pun akan segera didapat. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Sang Maha selalu mengabulkan doa semua hamba-Nya. Akan tetapi, jawaban doa itu menjelma kenyataan pada saat yang memang diperlukan.

Sosok itu pernah memimpikan akan mengganti ponselnya yang telah jadul dan sering mati. Setahun setelah bekerja tak kenal lelah dan sering pulang larut, ia pun menyemai rezeki. Sang bos berinisiatif memberikan ‘bonus’ pada semua anak buahnya. Dan bonus itu tak lain adalah ponsel terbaru yang bentuk dan fungsinya pun tak pernah dimimpikannya.

Rezeki memang harus disemai. Untuk menyemainya, sosok itu sudah memulainya dengan menanami dan memeliharanya. Dengan usaha tentu saja. Sebuah kata lain dari ikhtiar yang jelas-jelas mengandung keringat. Ibarat kata: “Bagaimana ingin menang lomba jika menjadi peserta saja tidak?”[]

Rezeki di Pagi Hari

Mungkin sobat baraya masih teringat dengan petuah masa lalu yang mengatakan bahwa rezeki kita akan dipatok ayam kalau tidak bangun pagi. Kebetulan kisah ini benar-benar terjadi di lingkungan keluarga saya kendati sudah cukup lama terjadi, yaitu hampir lima tahun yang lalu, tepatnya pada hari Minggu, 03 Oktober 2004.

A’ Yadin, kakak ipar saya, tiba-tiba saja mengetuk pintu kamar pagi-pagi sekali (kurang lebih pukul 05.30) untuk meminjam tas ransel. Aneh, karena memang tidak biasanya ia bangun pagi dan kali ini bahkan ingin meminjam tas. Setelah melalui obrolan singkat, saya pun baru mengetahui kalau ia akan ke Gasibu bersama Dani dan Jenny (Dani adalah karyawan PT. Pindad yang kos dan Jenny adalah sahabat kakak ipar saya yang sering menginap). Ini pun juga aneh, karena setahu saya kedua orang itu juga jarang untuk bangun pagi di hari Minggu. Biasanya kalau hari libur, mereka akan bangun sekira jam sembilan atau jam sepuluh pagi (menjelang siang).

Continue reading “Rezeki di Pagi Hari”