Wisata Bandung: Menguak Sejarah Braga

Memindai kembali jejakmu di sekujur tubuh Braga
pada pagi ketika embun baru saja melapisi atas aspalnya
dan halimun putih tipis yang melingkupi bagai sayap bidadari erat mendekap
seperti melihatmu lagi tersenyum menyongsong hangat mentari yang muncul malu-malu
kemudian memandangku nanar dengan rindu meluap

~ Amril TG (Puisi Sepanjang Braga dan Seterusnya [II], 2014)

Bandung memang bikin kangen. Siapapun yang pernah ke Bandung pasti akan ada rindu meluap untuk kembali lagi. Begitu pula dengan sosok itu. Lahir dan besar di Jakarta, hingga akhirnya takdir mengantarkannya untuk bisa berkuliah di Bandung. Baru saja menjejakkan kakinya menyusuri jalan-jalan di Bandung, ada azzam yang langsung berteriak di dalam hati, “Saya harus tinggal di sini. Saya ingin berkeluarga dan membesarkan anak-anak di sini.” Itu kisah bertahun-tahun silam yang terus dikenangnya. Dan persis seperti puisi karya Daeng Amril di atas, sosok blogger asli Sulawesi yang kini tinggal di Tangerang, rindu meluap (juga) pada Kota Bandung. Inilah mengapa dirinya juga paham kalau para pemuda asli Bandung juga berat saat harus berkelana ke kota lain. Mereka pada akhirnya akan kembali.

Bandung memberikan banyak peristiwa yang membuat orang menjadi kangen. Tempatnya yang adem karena dikelilingi oleh pegunungan indah dan tempat-tempat buatan yang terus berbenah ke arah kebaikan bagi banyak orang. Apalagi ditambah faktor sang walikota saat ini, Kang Emil. Taman-taman yang layak dikunjungi semakin bertebaran dengan ciri khas yang membuat nyaman. Keramahan warganya dan kecantikan para mojang Bandung menjadi magnet berikutnya. Kulinernya yang terus menggoda mata, lidah, dan perut. Hingga kemudian beragam event yang dikemas dengan begitu kreatif atau bahkan semua produk ‘lifestyle‘-nya. Semua begitu menggoda dan pantas saja kalau hal itu memicu munculnya kata ‘rindu meluap’.

Akses transportasi ke Bandung pun terus berkembang dan semakin cepat saja. Rute-rute penerbangan terus bertambah dari berbagai kota. Jalur kereta api jangan ditanya lagi, bahkan dalam waktu dekat (dan sudah diresmikan) kereta supercepat akan segera hadir dari arah Jakarta. Belum lagi pembangunan Tol Purbaleunyi yang semakin mempersingkat waktu tempuh kendaraan roda empat yang awalnya adalah 5 jam lebih hingga menjadi 2-3 jam saja. Bersamaan dengan itu, hotel-hotel dan guest house juga berkembang di Bandung. Semua itu demi memanfakan para turis lokal/asing yang ingin menikmati masa santainya di Parijs Van Java. Seolah-olah semua peristiwa itu berputar kembali, betapa Bandoeng Tempo Doeloe juga terkenal. Bandung adalah kota sejarah. Salah satunya adalah Jln. Braga.

4283247_20130115105023

Bragaweg yang ramai dan jadi tempat ngabaraga (Foto: Kaskus)

SEJARAH BRAGA

Bandung memang tidak lepas dari sejarah Jln. Braga. Pembuatannya berkaitan dengan pembangunan jalan Anyer-Panarukan oleh Daendels (1808-1811) dan tanam paksa (1830-1870). Sebelum 1874, baru ada tujuh rumah yang terbuat dari batu, sisanya masih dari tanah dan hanya beratapkan ijuk/rumbia/ilalang. Sebelum 1882, jalan yang lebarnya hanya sepuluh meter ini masih bernama Pedatiweg, sebagai penghubung Groote Postweg atau Jln. Raya Pos dengan Koffie Pakhuis (Gedung Kopi) milik Tuan Andries de Wilde. Saat ini, Groote Postweg dikenal dengan nama Jln. Asia-Afrika dan Koffie Pakhuis dengan nama Balai Kota Bandung.

Menurut almarhum Haryoto Kunto, kata ‘Braga’ berasal dari bahasa Sunda “Ngabaraga”, artinya bergaya, nampang, atau mejeng. Nama ini sudah dipakai pada 1810 dan oleh Pieter Sitjhoff (Asisten Residen Bandung) nama Pedatiweg diubah menjadi Bragaweg pada 1882, lalu dipopulerkan oleh Tonil Braga (1887). Bragaweg yang awalnya masih tanah kemudian diperkeras dengan batu kali dan kalau malam ada beberapa lampu-lampu minyak untuk menerangi jalan. Bagian selatan Bragaweg semakin berkembang pesat saat jalur kereta api Batavia-Bandoeng dibangun (1884) sementara bagian utaranya masih berupa hutan karet. Salah satu penyebab akan pesatnya Bragaweg adalah adanya toko kelontong De Vries, sebuah toko yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Setelah itu, berdirilah hotel, restoran, bioskop, dan bank.

Bragaweg mulai diaspal pada 1900 dan kemudian dibuatlah peraturan tentang standar bangunan toko, seperti tipe bangunan gaya barat yang tadinya terbuka diubah menjadi tertutup (1906). Modernitas Bragaweg terjadi pada masa B. Coops menjadi walikota (1920-1930) karena beberapa pertokoannya mulai menjajakan barang-barang berkelas. Bandung pun terkenal hingga ke mancanegara dan mulai didatangi turis. Bragaweg menjadi tujuan utama karena semua kebutuhan untuk lifestyle ada di sana seperti model pakaian terbaru dari Paris dan termasuk toko sepeda pertama di Indonesia yang memasok sepeda-sepeda berkelas dari Eropa. Wow! Pada masa itu, Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) juga didirikan sebagai sekolah tinggi pertama di Hindia Belanda, tepatnya 3 Juli 1920. Kebetulan kampus yang kini bernama ITB ini adalah tempat sosok itu menimba ilmu.

Tak heran kalau Bandoeng kemudian dijuluki “Parijs van Java” oleh warga Eropa yang bermukim di Hindia-Belanda karena telah menjadi pusat kegiatan politik, intelektual, kesenian, budaya, hingga hiburan dan rekreasi. Akan tetapi sang kuncen Bandung (Haryoto Kunto) tidak setuju. Menurutnya, julukan “Parijs van Java” bukan untuk menunjukkan  keindahan dan kemodernan seperti di Paris, melainkan lebih pada kecantikan dan kemolekan mojang-mojang Priangan, yang mirip dengan kejelitaan wanita-wanita di Paris. Istilah “Kota Kembang” juga sebenarnya merujuk pada banyaknya mojang-mojang geulis (gadis-gadis cantik) di Bandung yang diibaratkan sebagai kembang wangi dan indah. Tuh, kan? Itulah mengapa sampai sekarang kalau ditanyakan mengapa para pria yang pendatang selalu ingin kembali ke Bandung, salah satunya adalah karena kecantikan para mojang-mojang ini. Hayooo … ngaku!

MAU NAIK APA DAN MENGINAP DI MANA?

Sosok itu suka dengan wisata sejarah. Itulah mengapa di bagian atas dijelaskan tentang sejarah Jln. Braga yang legendaris. Sayang sekali kalau seseorang datang mengunjungi salah satu kota tercantik di Indonesia tetapi tidak tahu sejarahnya. Tentu akan menarik jika tahu sejarahnya lalu berjalan-jalan di sana, seolah-olah sedang berjalan pada masa Hindia-Belanda. Bahkan takperlu biaya mahal untuk bisa merasakannya. Semua peninggalan sejarah itu tersedia di sana, di jalan Braga yang hingga kini juga masih ramai. Untuk menuju ke Kota Bandung, sudah banyak akses seperti yang telah diceritakan di paragraf ketiga. Bisa naik pesawat menuju Bandara Husein Sastranegara, lalu dilanjut dengan menggunakan taksi atau mobil sewaan. Bisa naik kereta api menuju Stasiun Bandung, atau menggunakan kendaraan pribadi melalui Tol Purbaleunyi.

Produk-14Bingung mau mencari pesawat apa dan kereta apa untuk menuju Bandung? Sosok itu akan menjelaskan salah satu cara sederhana. Langsung saja buka browser di komputer atau gadget yang kamu miliki dan ketikkan huruf-huruf yang ada di keyboard hingga membentuk kata ‘tiket.com‘. Sesederhana itu. Di sana, kamu bisa mencari pesawat dengan asal kota dan harga yang cocok. Kalau tidak ada, kamu bisa terbang menuju Jakarta. Semua kota pasti memiliki tujuan penerbangan ke Bandara Soekarno-Hatta. Setelah itu, ya cari saja jadwal kereta api yang akan membawa kamu ke Bandung. Cara ini juga bisa digunakan untuk kota-kota lain yang ada di Pulau Jawa.

Sampai di Stasiun Bandung, sosok itu lebih suka berjalan kaki menuju Jln. Braga. Mengapa? Karena dekat sekali, lho. Dan kalau pun ingin menginap, lebih baik mencari hotel yang ada di sekitar Braga. Ada banyak pilihan di sana. Bahkan kalau kamu buka aplikasi tersebut, ada banyak promo di sana. Ini bukan abal-abal. Promonya bahkan ada yang mencapai hampir 80%. Yang terpenting, pastikan kamu sudah booking hotel agar hati lebih tenang. Dari stasiun, sosok itu lebih suka lewat depan, lalu berjalan ke arah kanan melewati Gedung Pakuan. Ini adalah rumah dinas Gubernur Jawa Barat yang dulunya juga sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda. Kata pakuan atau pakuwon sendiri dalam dalam bahasa Sunda artinya istana. Kamu bisa berfoto-foto di sana dengan sepuasnya. Kamu juga bisa makan Lontong Kari Kebon Karet yang terkenal di dekat sana.

Oya, takjauh dari Stasiun Bandung ada makam keluarga H. Mesrie. Tepatnya di seberang pom bensin setelah belok kiri dari arah stasiun. H. Mesrie adalah tuan tanah kaya raya yang turut membangun Bandung. Namanya pun diabadikan menjadi nama jalan/gang di depan stasiun, termasuk para kerabatnya. Konon, di bawah makam tersebut ada mata air Ciguriang yang mengalir sampai daerah Kepatihan. Pasar Baru (1906) yang ada di Jln. Otista saat ini dulunya bernama Pasar Ciguriang yang habis terbakar pada 1856. Berdasarkan penuturan penjaga makam H. Mesrie, dulu di atas mata air Ciguriang ada Pohon Caringin. Namun semenjak pohon itu tumbang, air tidak keluar lagi. Kalau sekarang, mata air tersebut hanya dipakai sebagai kolam tadah hujan saja. Nah, kamu pun bisa mampir untuk melihatnya secara langsung.

Kalau sudah kenyang makan Lontong Kari, jalan lagi menyusuri Jln. Kebon Jukut hingga menemui daerah Viaduct yang dikenal dengan jembatan kereta api dan Sungai Cikapundung. Tempat ini begitu bersejarah, terutama pada masa Bandung Lautan Api. Kisahnya begitu menggetarkan jiwa. Di sini, sila memilih antara melewati Jln. Perintis Kemerdekaan melewati Balai Kota Bandung yang sudah ada taman kotanya yang indah, atau langsung menyusuri Jln. Suniaraja. Melewati kedua jalan itu akan membawa kamu ke Jln. Braga. Silakan langsung menuju hotel yang sudah di-booking untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menuju beberapa tempat bersejarah lainnya yang tidak kalah seru dan mengasyikkan. Kalau masih bingung mau ke mana lagi, kamu bisa sewa mobil atau melihat jadwal event yang sedang berlangsung di Bandung. Kalau masih bingung lagi, ya langsung saja menghubungi sosok itu alias Bang Aswi (085721447561). Dijamin semua kisah akan dibeberkan dengan gamblang. Tertarik?[]