Pemerkosaan di Sekolah

apa lagi ini?
sebuah modus terkini
dari kecerdasan pemangku kebijakan
(yang) taklagi menunjuki jalan

Ketika kepentingan pribadi sudah merasa sulit untuk dipisahkan dari kepentingan bersama atau bahkan sudah sedemikian miripnya sehingga tidak tahu lagi mana yang kepentingan pribadi dan mana yang kepentingan bersama maka yang terjadi adalah kebenaran untuk menyebut kepentingan pribadi sebagai kepentingan umum. Dan inilah yang sudah terjadi (bahkan mewabah) mulai dari kalangan paling tinggi di negeri ini sampai ke kalangan paling bawah.

Continue reading “Pemerkosaan di Sekolah”

Advertisements

Lomba Inspirasi Sekolah Intisari-online

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan dan peluncuran situs Intisari-online, dengan ini kami mengumumkan lomba penulisan inspirasi dengan tema “Sekolah Negeri dan Sekolah Swasta, Apa Bedanya?”. Caranya, tuliskan inspirasi tadi di blog Intisari dengan alamat http://blog.intisari-online.com.

Continue reading “Lomba Inspirasi Sekolah Intisari-online”

Wanita Malam

Ijah mendekapkan kedua tangannya lebih erat lagi ke dadanya. Dingin makin menusuk, apalagi jaket yang dikenakannya bukanlah jaket pelindung cuaca. Ia hanyalah salah satu produk fashion pelengkap agar lebih menarik dipandang. Setiap ada lelaki yang lewat, jantungnya berdegup kencang. Mata lelaki yang memandang begitu menusuk pada dirinya, tapi cepat ditepiskan Ijah dengan pikiran-pikiran polosnya. “Saya di sini, kan, disuruh Nyonya.”

Satu jam berlalu sejak Ijah diturunkan sang nyonya di tempat itu. Tak ada angin dan tak ada hujan. Sekonyong-konyong perintah itu turun begitu lancar dari mulut sang nyonya. “Jah, pokoknya saya nggak mau tahu. Kamu harus sudah berada di sekolah dari jam satu malam ini juga. Ini demi masa depan Ariel. Ngerti kamu!” Dan di sinilah Ijah kemudian. Di sekolah dasar yang katanya favorit. Sepi macam kuburan hanya untuk menjaga antrian pendaftaran, istilah sang nyonya yang terus berkumandang di telinganya.

Setelah tiga jam berlalu, Ijah beruntung. Dia tidak sendiri lagi. Ada tujuh orang yang menemaninya, dan semuanya berprofesi sama dengan dirinya. Semuanya sama-sama terkena getahnya demi anak sang majikan yang harus masuk ke sekolah favorit. Azan Subuh pun berkumandang, dan Ijah pun gelisah. Ia biasa shalat tepat waktu. Tapi kini …, tak mungkin ia meninggalkan antrian. Terbayang wajah sang nyonya dengan mata membelalak marah.

Detik demi detik berlalu, lalu menjadi menit dan kemudian menjelma jam. Satu, dua, lima, tiga belas, danpuluhan orang pun semakin memanjangkan antriannya. Tubuh Ijah lelah, sementara hatinya terus berontak, “Saya belum shalat Subuh, ya, Allah.” Pukul lima pagi telinganya mencatat bahwa antrian telah mencapai 81 orang. Pukul tujuh telinganya kembali mencatat bahwa antrian semakin bertambah hingga ratusan orang. Ijah mengeluh karena sang nyonya belum juga datang. “Ya Allah, ampuni hamba kalau Subuh ini harus berbarengan dengan Dhuha,” bisik hatinya lirih.

Pukul setengah delapan, barulah Ijah merasa lega. Sang nyonya dengan santainya menggandeng Ariel. Anak itu begitu polos dan mungkin tak mengerti dengan adanya kerumunan orang-orang di situ. Ijah tersenyum senang menatap Ariel yang langsung berteriak, “Mbak! Mbak kok ada di sini?!” tapi segera ditarik oleh sang nyonya. Dengan pandangan isyarat, sang nyonya meminta Ijah berganti tempat. Sudah saatnya sang nyonya yang berusaha bagaimana caranya agar Ariel bisa masuk ke SD favorit pilihan. Pilihan sang nyonya tentunya.

Ijah pun meninggalkan tempat itu. Antrian sudah semakin panjang. Dari pembicaraan para ibu yang ada di dekatnya, antrian sudah mencapai tiga ratus lebih. Ia tak begitu peduli apakah mereka bisa mendaftarkan anak-anaknya pada hari itu atau kemudian mengantri lagi keesokan harinya. Ijah hanya membutuhkan waktu istirahat setelah badannya begitu penat. Tapi apakah bisa? Sedangkan di rumah, pekerjaan lainnya sudah pasti menunggu. Belum lagi shalat Subuh yang luar biasa telatnya.[]

Terpeleset Lidah

Entahlah. Tak pernah ada niatan. Benar-benar tak pernah ada niatan pada diri Zulfi untuk menyakiti hati istrinya, Fika. Dua alasan itu sebenarnya hanyalah guyonan saja. Awalnya. Hanya ingin mengetes apakah Fika bisa diajak bercanda. Akan tetapi sungguh. Sungguh semuanya menjadi tak terkontrol. Semuanya jadi di luar dugaan.

Zulfi tak keberatan jika dimintai tolong untuk membungkuskan kado. Zulfi pun bahkan senang mengantarkan anaknya sekolah. Ayah siapa yang tidak senang mengantarkan putra tercintanya ke pintu gerbang sekolah terakhirnya. Bahkan, ia pun rela terlambat ke kantor demi anaknya itu. Sungguh semua itu akan ia lakukan dengan ikhlas, tanpa paksaan atau permintaan siapa pun. Termasuk permintaan Fika.

Continue reading “Terpeleset Lidah”

Fakta-Fakta Bike to School

  1. 73% orangtua tidak pernah berpikir bahwa anak-anak mereka memiliki cukup latihan fisik selama di sekolah.
  2. Anak-anak yang diantar ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor menghabiskan waktunya di atas kendaraan tersebut rata-rata 2 jam 35 menit dalam satu minggu, yang setara dengan 8% dari waktu sekolah mereka. Bandingkan dengan 5% dari waktu sekolah untuk kegiatan fisiknya (olahraga resmi).
  3. 67% orangtua melihat adanya peningkatan kesehatan dan kebugaran saat anak-anak mereka bersepeda ke sekolah.
  4. Continue reading “Fakta-Fakta Bike to School”

Green School: Konsep Sekolah Masa Depan

l-02_greenschoolHari libur tidak menyurutkan langkah Made Mangku Pastika untuk melakukan kegiatan kemasyarakatan. Minggu, 4 Oktober 2009 misalnya, Gubernur Bali ini melakukan kunjungan kerja ke Green School yang berlokasi di Banjar Saren, Desa Sibang Kaja, Abiansemal, Badung. Sekolah ini memang diresmikan olehnya pada Mei 2009 lalu.

John Hardy, pengusaha perak asal Kanada yang juga pendiri Yayasan Kulkul, pengelola sekolah ini, menyambut ramah kedatangan Gubernur beserta rombongan. Kepada Gubernur, John Hardy menjelaskan bahwa ide dasar pembangunan sekolah di atas areal seluas 8 hektar itu adalah untuk menerapkan ajaran Trihita Karana. Oleh karena itu, tidak ada bahan buatan pabrik atau zat kimia yang dipergunakan di sekolah ini. Merokok pun tidak diperkenankan.

Bahan-bahan bangunan dipilih hampir seluruhnya dari bambu. Meja, kursi, rak, dan lemari tempat menyimpan buku yang digunakan sehari-hari oleh anak didik semuanya terbuat dari bambu. Sedangkan atap bangunan dibuat dari ilalang. Melihat hal tersebut, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa memasuki sekolah ini seperti memasuki sebuah kompleks bangunan megah yang semuanya terbuat dari bambu dan ilalang dengan bentuk yang sangat indah dan khas.

Continue reading “Green School: Konsep Sekolah Masa Depan”

JAGOAN [Part 3 of 3]

cerita sebelumnya….

—-Siang terik. Di salah satu kios buku Pasar Senen aku melihat jejeran buku Wiro Sableng, sedangkan Dani asyik mencari buku Kumpulan Soal-Soal UMPTN. Salah seorang pedagang mendekatiku dan berbisik, “Nyari buku apa, Dek?”
—-“Wiro Sableng terbaru udah keluar?” tanyaku.
—-Ia mengangguk, lalu cekatan mengambil buku yang kumaksud dan langsung menyerahkannya padaku. “Ada lagi?”
—-Aku menggeleng. Tanganku pun mencari recehan dua ribu.
—-Pedagang itu merapat padaku dan berbisik lagi, “Mau Annie Arrow terbaru?”
—-Mataku mendelik.
—-“Dijamin lebih seru dibandingkan seri sebelumnya,” ujarnya tersenyum.

Continue reading “JAGOAN [Part 3 of 3]”

JAGOAN [Part 2 of 3]

cerita sebelumnya….

—-KRIIINNGGG…!
—-Aku terlonjak bangun dari mimpiku dan segera menengok ke kiri-kanan. Teman-temanku sudah mulai bergerak meninggalkan bangku. Mereka tampak riang dan berceloteh bersama sejawatnya. Jam istirahat sekolah. Aku mulai menggeliat dan menguap lebar-lebar dan… ups! Rupanya Pak Rudi sempat memelototiku dari balik jendela kelas. Aku pun mencoba mengangguk dan tersenyum manis kepada guru sejarahku itu, “Oahhemm….”
—-“Fajaaar, Fajar…! Dari dulu nggak pernah berubah lu?” sebuah suara keras terdengar dari sebelah kiriku. Aku menoleh dan membentuk mulutku menjadi garis melengkung ke atas. “Nggak di mana, nggak kapan, kerjaan lu molooor aja,” sahutnya lagi.
—-Aku menggaruk kepala, “Abis mau diapain lagi, Dan!”
—-Dani menepuk pundakku, “Ya udah, kita ke kantin aja yuk!”
—-“Ayo!” Aku bangkit dan berjalan mengikuti Dani keluar kelas. Baru saja aku akan membelok, tiba-tiba….
—-PRAANNGGG…!!!

Continue reading “JAGOAN [Part 2 of 3]”