Met Milad, Pak

Ya, Bapak merayakan milad hari ini (1 Desember) yang ke-75. Tapi sudah dirayakan oleh anak-anak dan cucu-cucunya kemarin di Cileungsi. Di usianya yang sudah lewat ketentuan sunnah Rasul, Bapak termasuk kakek yang sangat bugar. Otot-ototnya masih tampak, pekerjaan sehari-hari di rumah seperti mencuci baju dan lain-lain masih dijalainya tanpa keluh kesah. Hanya saja olahraga favorit yang mengantarkan dirinya menjadi atlet tingkat kantor sudah tidak bisa dijalani lagi, yaitu bulutangkis.

Kenang-16

Bapak paling tengah, paling pendek

Continue reading “Met Milad, Pak”

Advertisements

Selamatkan Anak di Jalan Raya

(PR, 12/10/2014) ~ Bayangkan saat melihat anak-anak usia SD mengendarai sepeda motor sambil membonceng adiknya yang berseragam TK. Bisakah kita tenang dengan pemandangan seperti itu di jalan raya? Masih bisa tenangkah Anda saat tahu bahwa kecelakaan sepeda motor menjadi pembunuh nomor satu untuk anak-anak usia 10-19 tahun?

Fakta mencengangkan tentang kendaraan bermotor dan anak-anak itu belum selesai. Itu juga bukan data yang jauh dari kehidupan kita, melainkan data yang dihimpun dari responden di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Pada rentang waktu 2011-2013, data menunjukkan bahwa pelaku dan korban kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung tertinggi berada pada kalangan usia produktif. Ada 51,92% pelaku kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung yang berusia 16-30 tahun dan 4,71% merupakan remaja usia 10-15 tahun.

Continue reading “Selamatkan Anak di Jalan Raya”

Save The Children di Jalan Raya

Anak-anak masihlah dekat dengan dunia ‘unjuk gigi’
Emosinya masih labil dan penuh gengsi
Sangat mudah ‘panasan’ dan tidak bisa menerima
Wajarlah kalau kemudian ada istilah ‘senggol bacok’

Rabu kemarin (8/10/2014), alhamdulillah sosok itu dapat menghadiri sebuah acara penting yang seharusnya diketahui oleh semua orangtua. Seminar “Keselamatan Berlalu Lintas Berbasis Sekolah dan Sosialisasi Program Selamat Save The Children di Indonesia” berlangsung di Hotel Santika dengan menghadir beberapa pembicara yang mumpuni. Ada psikolog, polisi, pendidik, pihak PKK, dan bahkan termasuk antropolog. Ini semua demi anak-anak kita, terutama selama di jalan raya. Jangan sampai ada korban anak-anak di jalan raya. Salah satunya adalah penegasan aturan tidak bolehnya anak-anak berkendaraan bermotor.

Continue reading “Save The Children di Jalan Raya”

Sadar Selamat

Sosok itu tersenyum. Anak berseragam putih-biru yang baru saja dilewatinya menyapa dengan tertawa. Tertawa bersama rekan-rekannya. “Eta nu motor teu make helm, iyeu sapedahan make helm. Araraneh.”

Sosok itu merasa entah. Siapa yang ditertawakan?

Negeri liliput di sini memang aneh. Beberapa peraturan dibuat hanya untuk dilanggar, katanya. Istilah “sadar” baru menjadi kenyataan jika ada petugas. Aksi aneh ini pun yang memunculkan iklan betapa rambu-rambu tidak berfungsi dengan baik kecuali ya, itu … ada petugas yang selalu “stand by”. Wajib helm pun dianggap memberatkan, kendati beberapa helm memang berat.

Sosok itu teringat bagaimana dia bersimbah linu saat ditabrak mobil. Untungnya dia tidak apa-apa akibat kelakuan mobil tak bermoral itu. Sosok itu bersyukur pada Sang Maha yang telah mempersiapkannya dengan peralatan yang lengkap. Sarung tangan, sepatu, dan juga helm. Sosok itu telah sadar keselamatan, bukan sadar hukum atau sadar berlalu-lintas.

Tidakkah kita semua, para warga negeri liliput ini juga harus “sadar”? Sadar yang sebenarnya. Bukan sadar euforia karena takut dikenai pajak paksa di tengah jalan. Tapi sadar diri bahwa kita adalah makhluk yang mudah terluka. Itu saja.[]