5 Sikap Agen Perubahan

Kamu tahu balapan? Ya, inilah salah satu jenis olahraga yang dapat memacu hormon adrenalin dan dibutuhkan keterampilan tertentu untuk bisa berkompetisi hingga akhirnya menjadi juara balapan. Menjadi juara tentunya harus diusahakan sebagai yang tercepat karena faktor utama dalam balapan adalah kecepatan. Lalu, bagaimana dengan balapan tikus? Hehehe … belum-belum sudah tertawa, tetapi yang akan dibahas di sini bukanlah balapan tikus biasa yang melibatkan tikus sebagai peserta balapannya.

Balapan tikus yang dimaksud adalah rutinitas kita sebagai manusia sehari-hari. Apapun profesi kita, tanpa disadari sudah menjadi bagian dari peserta balapan tikus ini. Sosok itu juga begitu. Rutinitas Senin sampai Jumat sudah cenderung monoton: bangun pagi, mandi, sarapan (kalau sempat), bergegas pergi ke kantor yang harus diusahakan sampai sebelum pukul 07.45, bekerja apa adanya sesuai tugas harian yang cenderung sama dengan hari kemarin, lalu akhirnya pulang saat pukul 17.00 dan bertemu kembali dengan keluarga di rumah. Inilah balapan tikus yang dimaksud dan dikenal dengan istilah ‘Rate Race’.

Continue reading “5 Sikap Agen Perubahan”

Advertisements

Menentukan Sikap dalam Menulis

Naskah ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat (Kamis, 5/11/09) pada suplemen Kampus (Literasi)

Adakah bagian dari tubuh manusia yang dapat membedakan dua orang yang kembar? Ya, tentu saja ada, yaitu sidik jari. Artinya, tidak ada dua manusia di dunia ini yang memiliki sidik jari yang sama, kendati keduanya termasuk yang kembar identik sekalipun. Tak heran jika kemudian sidik jari telah menjadi metode identifikasi yang masih digunakan hingga kini.

Sidik jari sebenarnya telah digunakan beberapa ribu tahun yang lalu, yaitu oleh orang-orang Suriah dan Cina sebagai penanda sahnya sebuah dokumen. Sedangkan penggunaan modernnya diperkenalkan oleh seorang ahli psikologi Ceko, Johannes Evangelista Purkinje, yang pada 1823 mengajukan cara mengidentifikasi seseorang berdasarkan alur yang terdapat pada ujung jari. Cara ini kemudian diperbarui oleh Sir Francis Galton, seorang ilmuwan Inggris, pada akhir abad ke-19. Hingga kemudian, Sir Edward Richard Henry yang membawahi kepolisian di Bengal, India, pada 1890 mulai menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi kasus kriminal.

Continue reading “Menentukan Sikap dalam Menulis”