Untukmu Dija: Busur dan Anak Panah

Prolog: Sosok itu hanyalah seniman kata-kata yang taksempurna. Dan Dija adalah anak yang terlahir sempurna. Orangtua dan lingkungannya yang kemudian menjadikannya bertambah paripurna atau makin berkurang kesempurnaannya. Sosok itu lalu membayangkan Dija yang telah duduk di kelas 3 SLTP (sama halnya ketika sosok itu membayangkan kedua putrinya: Bintan Fathikhansa dan Nindya Rahmani). Anggap saja di bawah ini adalah buku harian Bunda Noni. Selamat menikmati….

Continue reading “Untukmu Dija: Busur dan Anak Panah”

Advertisements

Surat Sakit

Dada ini terasa sakit sekali, jalur pernafasanku satu-satunya tersumbat.
Mata dan tubuh sudah terasa letih, namun sesuatu yang menyesakkan telah membuatku terjaga.

Rabb, akankah aku sanggup menghadapi cobaan-Mu ini?
Mungkinkah ini ajalku? Aku tidak yakin siap jika ini takdir-Mu.
Hutangku masih banyak. Janjiku belum terpenuhi semua.

Dan Umi … akankah aku bisa berdampingan dengannya–pada saat hari H nanti. Akankah ia menjadi pendamping surgaku, ataukah hanya sebuah angan yang tak terlaksana?

Dinda … maafkan Abang!
Uuh…! Dada ini sakit sekali

Cisitu Lama, 22 Juni 2002, Pukul 01.15

NB: Saya menemukan catatan ini di buku lama. Subhanallah, kita memang hanya bisa berharap dan berusaha. Di tengah malam itu saya terkena serangan Asma dan sempat berpikir bahwa hidup saya tak akan lama lagi. Alhamdulillah, 3 bulan kemudian saya bisa menikah dengan Umi. Asma memang merepotkan karena itu baca juga … Bersepeda for Better Health.

Misteri Surat Kuning

cov021

—-Akhirnya terlaksana juga, bisikku.
—-Yap. Hari ini merupakan hari kemenangan yang telah lama kunantikan dan kuperjuangkan. Hari dimana aku bisa bebas merdeka dan menghirup udara segar sepuas-puasnya. Dan sepertinya hari ini pantas untuk dirayakan. Oleh karena itu, tanggal, bulan dan tahunnya harus dicatat agar nanti-nanti aku bisa merayakannya setiap tahun. Inilah kebebasan yang selama ini kuidam-idamkan. Bebas dari segala macam rongrongan, bebas dari segala macam perintah yang mengekang, bebas dari mata tajam agar aku tetap belajar di dalam kamar, bebas dari semua adat istiadat yang terdengar aneh di telingaku, bebas dari ini itu. Pokoknya aku bebas!
—-Tak terpasungnya jiwa dan fisikku dimulai ketika Daftar Calon Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Negeri sudah diumumkan di sebagian besar surat kabar di pelosok negeri ini. Dan aku termasuk di dalam daftar tersebut. Berarti aku bisa bebas untuk melakukan segala hal termasuk memutuskan harus berbuat apa dan bagaimana tanpa sorotan mata orang tua maupun pengawal-pengawal saudaraku. Karena sejak saat ini aku akan tinggal di suatu daerah yang belum pernah kukunjungi dan tidak ada sanak saudara di sana untuk menuntut ilmu. Eh, untuk hidup bebas! Dan rencananya, empat hari lagi aku harus pergi bersama kedua orang tuaku. Hmm…, aku tertawa terbahak-bahak di dalam hatiku memikirkan jadwal yang penuh dengan hura-hura di kota tersebut. Selamat tinggal pembelajaran, sayonara keterikatan, good bye keterbatasan, dan wilujeng sumping ketakterbatasan.

Continue reading “Misteri Surat Kuning”