Sistematis dan Mengikuti Kata Hati (Bagian 3)

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa TEORI itu adalah 5 (lima) jurus ampuh yang bisa digunakan dalam pelajaran menulis. Kita sudah belajar tentang Mari Ber-TEORI dan Lupakan Titik Koma, juga belajar tentang EYD dan Tulisan yang Bagus. Berarti, kita sudah belajar tentang TEO yang jika dipraktikkan akan bermakna besar kalau kamu ingin menjadi penulis. Sebagai tulisan penutup, inilah penjelasan tentang RI.

Continue reading “Sistematis dan Mengikuti Kata Hati (Bagian 3)”

Advertisements

EYD dan Tulisan yang Bagus (Bagian 2)

Sebelumnya, telah dijelaskan pada tulisan Mari Ber-TEORI dan Lupakan Titik Koma bahwa pada saat menulis lupakan titik dan koma. Menulislah apa adanya dan nikmati suasana itu tanpa harus memikirkan aturan-aturan yang membuat irama lagu di kepala kamu itu menjadi berantakan. Menulislah apa yang menurut kamu itu baik dan benar. Setelah itu, baru kita bermain pada beberapa poin di bawah ini.

Continue reading “EYD dan Tulisan yang Bagus (Bagian 2)”

Mari Ber-TEORI dan Lupakan Titik Koma (Bagian 1)

“Bagaimana memulai menulis?”
“Begitu sulitnya membuat tulisan!”
“Apa resep menulis yang jitu?”
“Begitu banyak ide di kepala tapi hingga sekarang takada satupun yang terselesaikan dalam bentuk tulisan. Bagaimana ini?” Dan berbagai pertanyaan muncul di setiap pertemuan kepenulisan. Semua mengeluhkan betapa sulitnya memulai kegiatan menulis.

Untuk beberapa orang, teori bisa jadi dibuang jauh-jauh. Alasannya mudah saja, yaitu karena teori berawal dari praktik yang kemudian dituliskan menjadi sebuah teori. Namun, tanpa adanya teori bisa jadi takada pembelajaran bagi yang mau belajar. Inilah pentingnya sebuah teori bagi yang ingin belajar. Inilah pentingnya sebuah sekolah atau akademi pendidikan. Dan oleh karena itulah sosok itu mengeluarkan lagi sebuah jurus menulis baru yang dikenal dengan TEORI.

Continue reading “Mari Ber-TEORI dan Lupakan Titik Koma (Bagian 1)”

Jangan Banyak Berteori: Just Write!

Sudah delapan hari ini saya tidak meng-update blog ini. Artinya, ada keterlambatan enam hari dimana saya tidak menulis apa-apa selain menikmati hidup ini dengan berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan waktu. Mengurus keluarga, mengurus diri sendiri, menjaga silaturahmi, memenuhi kewajiban, dan menambah ilmu. Semuanya berjalan harus dengan konsep dan alhamdulillah … saya menikmati hal itu semua. Dan subhanallah, selama dua hari ke belakang saya bisa berbincang-bincang langsung (kendati hanya lewat jaringan telepon) dengan rekan sesama penulis beda bangsa dan bahasa, membicarakan tentang banyak hal. Ada keunikan tersendiri saat saya harus memaksakan diri berbahasa ala Upin dan Ipin.

Sebelumnya, tepat sebelum saya terus berkampanye tentang penggunaan sepeda setiap hari di jalan raya (sampai empat postingan), saya terus berkampanye tentang menulis. Ya, saya lebih banyak berteori tentang kepenulisan. Bagaimana bisa begini, bagaimana bisa begitu, dan sebagainya. Padahal … menulis adalah pekerjaan aktual, pekerjaan nyata, pekerjaan yang membutuhkan energi luar biasa, bukan hanya sekadar berteori. Okelah saya bisa mengelak karena profesi saya lainnya adalah sebagai pengajar tetap tentang media kreatif (salah satunya kepenulisan) di SMPIT Baitul Anshor, termasuk diundang sebagai pemateri untuk bidang kepenulisan. Akan tetapi, tidak banyak yang tahu kalau saya bisa jadi jarang menulis kecuali hanya menulis catatan ringan di blog ini. Sekali lagi: hanya catatan ringan! Namun, saya juga meng-appreciate mereka yang baru hanya bisa menulis diari atau hanya sekadar menulis tentang dunia pelajaran di kelasnya. Semuanya berproses dan kita harus menghargai semua proses itu.

Continue reading “Jangan Banyak Berteori: Just Write!”