Menjadi Penulis Cap Opor

Siapa sih yang tidak mau menjadi penulis seperti Habiburrahman El-Shirazy atau Andrea Hirata? Dengan menulis buku Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi saja, mereka berdua sudah menghasilkan royalti hingga miliaran rupiah. Tak heran kalau saat ini keduanya pun sudah memiliki ladang bisnis baru. Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman) telah memiliki pesantren, penerbitan, dan sekolah/kursus menulis. Moamar Emka (penulis buku bestseller Jakarta Undercover yang juga menikmati royalti raksasa) pun telah mendirikan Agro Media dan akan menyusul sekolah menulisnya. Dan kalau mau ditambahkan, ada seorang penulis cilik yang tergabung dalam Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) Mizan telah mendapatkan royalti 19 juta tiap bulannya. LUAR BIASA!

Continue reading “Menjadi Penulis Cap Opor”

Ditolak? Lalu Menyerah Begitu Saja!

Bagi beberapa orang, menulis bisa jadi merupakan profesi yang menjanjikan. Akan tetapi, sebagaimana yang saya alami, jalan menjadi seorang penulis tidak sekadar sim salabim. Prosesnya begitu rumit, melelahkan, dan bisa jadi di antara sobat-sobat baraya harus berhenti di tengah jalan alias menyerah. Ya, apalagi kalau sudah berhadapan dengan istilah ‘ditolak’.

Penolakan adalah salah satu bagian dari kehidupan seorang penulis. Siapapun yang ingin menjadi penulis perlu belajar untuk menghadapi penolakan. Semangat yang menggebu-gebu seorang penulis pemula karena mendengar cerita indah dari sang mentor yang sudah menjadi penulis beken dalam suatu pelatihan, pada akhirnya meredup ketika beberapa kali hasil karyanya ditolak untuk dimuat di media massa atau penerbit. Itu masih mending karena ada pula yang langsung mati kutu setelah ditolak untuk pertama kalinya.

Continue reading “Ditolak? Lalu Menyerah Begitu Saja!”