TV-ku Sayang

Aku harus berpikir cepat. Dan tiba-tiba saja sebuah lampu yang terang benderang telah menyala di angan kepalaku. Aku segera mengambil sebuah gelas dan menyiapkan teh celup serta gulanya. Kemudian aku menuangkan sedikit air panas ke dalam gelas itu. Sangat sedikit. Sesaat aku merenung kembali. Memperhitungkan kembali rencana yang akan kulaksanakan. Setelah yakin aku langsung menjatuhkan gelas itu dan … PRANG!

Aku diam dan menajamkan telinga. “Papiii…, apa itu yang pecah!” suara Mami terdengar berteriak dari ruang tengah. Aku tersenyum. Rencanaku berhasil. “Gelas, Mi!” sahutku langsung. “Kok, bisa pecah. Memangnya Papi lagi bikin apa?” teriak Mami lagi. Masih dari ruang tengah. “Lagi bikin teh, Mi. Tapi airnya kepanasan dan enggak sengaja tangan Papi nyenggol gelasnya,” teriakku lagi mengharap. Mengharap agar Mami mau ke dapur. “Makanya hati-hati, Pi. Ya, udah kalau gitu bersihin sendiri ya, Pi!” teriak Mami memporakporandakan rencanaku.

Continue reading “TV-ku Sayang”

Advertisements

Kitab Berbohong #3

Minggu pagi yang cerah, keesokan harinya. Burung-burung pagi asyik berterbangan dengan lincahnya, meliuk melewati dahan-dahan pepohonan. Angin bertiup perlahan, sementara awan juga sedikit bergerak ke arah utara. Sinar matahari belum menyengat. Beberapa warga sedang membersihkan halamannya. Beberapa juga terlihat sedang membersihkan selokan dan jalan yang terletak tepat di depan rumahnya. Ada ibu yang sedang bergegas pulang dari berbelanja, namun ada juga yang sebaliknya, baru berangkat berbelanja. Juga terlihat beberapa ibu muda sedang menggendong anak-anaknya yang masih kecil sambil menyuapkan bubur sarapannya. Pagi yang indah untuk bersosialisasi.

Continue reading “Kitab Berbohong #3”