Pengingat Hidup Berkeluarga

Dan ketika sang kekasih meninggalkan sosok itu malam tadi ke Cilacap, ada desir yang merindu. Meski hanya 1-2 hari, kepergiannya membuat raga dan jiwa ini meluruh. Pada saat tengah mengerjakan tugas tanpa ditemani siapa pun kecuali suara lucu Cleopatra Stratan, sosok itu menemukan sebentuk notes milik sang kekasih. Sebuah catatan dari para sahabatnya menjelang kami menikah. Secarik catatan yang mengingatkan sosok itu kembali makna pernikahan yang sesungguhnya.

Bahagia, itulah kira-kira gambaran perasaan yang ada di hati kami ketika sahabat ukhti ini akan menyempurnakan separuh diennya.

Continue reading “Pengingat Hidup Berkeluarga”

Advertisements

Puisi Grafis: Mutiara

Siapa bilang
tak ada mutiara di sini?
Siapa bilang
kerang-kerang itu
tak berkembang?

Mata kita buta atau
sengaja dibutakan …
bahwa ada mutiara yang
i.s.t.i.m.e.w.a

Begitu indah menawan,
di hadapan kita

Continue reading “Puisi Grafis: Mutiara”

Tiga Bidadari

Keluarga adalah bingkai terindah yang selalu menjaga sisi kehidupan kita. Ia menjaga kita agar tidak terlalu berkecil hati ataupun terlalu bersemangat. Ia selalu menjaga kita agar tetap seimbang; selalu berada di tengah-tengah, sehingga kita bisa mencari waktu yang tepat kapan kita berada di puncak atau istirahat di rerumputan yang sejuk.

Tiga bidadariku adalah neraca kehidupanku.

Continue reading “Tiga Bidadari”

Umi: Ketegaran Seorang Ibu dan Kekasih

Pasangan jiwa itu sayu. Tangannya mendekap erat jaket yang membungkus. Tangan lainnya menarik selimut tebal. Bibir pasinya berbisik. Sosok itu mendekat dan mengangguk. Tak lama, motor kuning melaju di kegelapan. Makan bersama tujuannya. Mencari lauk pauk untuk teman nasi. Sosok itu bersyukur. Bersama pasangan jiwanya masih bisa mengganjal perut meski sederhana.

“Bang, kau tahu bahwa semua saudara-saudaraku bisa kuliah?” Sosok itu mengangguk. “Kau tahu bahwa kuliah adikku pun didukung oleh penghasilanku?” Sosok itu mengangguk lagi. “Aku pun ingin kuliah, Bang.” Sosok itu tersenyum. “Suatu saat. Suatu saat nanti, Hon.” Ada binar kecemburuan di sudut matanya. “Suatu saat akan kau nikmati rasanya kuliah.”

Continue reading “Umi: Ketegaran Seorang Ibu dan Kekasih”

Alhamdulillah….

Sedang menikmati indahnya suasana. Hari-hari yang indah walau ada lelah dengan suami yang luar biasa pengertian: yang nggak pernah marahin [paling ngomel-ngomel :))]. Dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, alhamdulillah semakin harinya semakin sayang aja.

Dengan dua putri yang cantik. Sangat menyenangkan hati. Kakak Bibing yang melankolis tapi penuh perhatian. Yang nggak pernah puas mencari dan mencoba hal-hal baru. Yang nggak pernah lelah belajar. Anak yang penuh semangat persis seperti abinya: selalu serius mengerjakan sesuatu. Belakangan ada kemajuan bisa melawan :). Biasanya, kan, kalau diganggu sepupunya atau adenya, hanya bisa diam dan menangis.

Continue reading “Alhamdulillah….”

Tulisan Umiku

KETIKA ITU….

Seorang ibu merintih kesakitan di pojok kamar yang sunyi….

Anak : Sakitkah, Bu, sakitkah luka yang menganga dan sangat dalam ini?
Ibu : Iya, Nak. Sangat. (sambil meneteskan air mata)
Anak : Oh Ibu… andaikan saya merasakan apa yang Ibu rasa mungkin tidak akan sekuat Ibu.
Ibu : Jangan, Nak, jangan pernah mengharapkan sesuatu yang orang pun enggan untuk memikirkannya sekalipun.
Anak : Kenapa Ibu bisa bertahan selama 5 tahun ini, menahan rasa sakit yang belum ditemukan obatnya?
Ibu : Kau, kalian anak-anakku yang membuat Ibu merasa mampu untuk bertahan dan berharap sembuh. Demi melihat kalian bahagia serta kalau boleh memohon kepada Allah, bolehkah rasa pasrahku ini menghapus dosa- dosaku yang lalu.
Anak : Apa yang Ibu harapkan dari kami?
Ibu : Bimbinglah Ibu. Ingatkan terus untuk memohon ampun kepada Allah, temani saat sakaratul maut akan menjemput. Bisikkan Allahu Akbar berkali-kali, jangan Laailaaha illallah. Ibu takut bila saatnya nanti tidak sempurna mengucapkannya dan mengubah artinya. Doakan agar Ibu sabar dan mampu menghadapi ini semua. Dan bila nanti Allah memanggilku kembali, kalian harus tegar dan jangan menangis. Kalian sudah besar, tangisan tidak akan menolongku. Doa anak-anak yang soleh dan solehah yang akan menolongku….[]

– 1,5 tahun yg lalu di kamar depan rumah kami

Continue reading “Tulisan Umiku”