Penulis Tidak Dilahirkan

Tajamnya pena taktertandingi
Empat surat kabar musuh lebih ditakuti
Napoleon Bonaparte berucap sendiri
Dan seribu bayonet takmembuatnya jeri

Sosok itu menuding. “Siapa bilang kamu tidak bisa menulis?” Kesal pastinya. Entah ini sudah yang berapa kali. Namun lagi-lagi sang pengeluh melontarkan kata-kata pesakitan. Tidak bisa menulis katanya. Susah mengeluarkan ide. Mood selalu hilang saat sudah di depan komputer. “Aku tidak punya bakat,” ujarnya menunduk memantapkan keengganannya. Taksabar, sosok itu ingin sekali menamparnya. Membangunkannya dari mimpi pesimistis.

Continue reading “Penulis Tidak Dilahirkan”

Advertisements

Memaknai Hutang

Tak ada yang lebih menyedihkan dan menyakitkan selain mempunyai hutang. Saat ini, rasanya sulit mencari sosok yang tidak mempunyai hutang. Hampir semuanya berhutang. Begitupun dengan sosok itu. Dan ia hanya bisa menghela nafas.

Sosok itu mencoba mengingat. Ia telah berani berhutang sejak mahasiswa. Sejak ia merasa nyaman dengan kiriman dari orang tua. Lalu berlanjut menjelang pernikahan. Mas kawin pun harus lewat jalan hutang. Dan hutang terbesarnya adalah saat ia berani mengambil sebuah rumah. Ini pun masih dianggapnya sebagai keberkahan.

Apabila disikapi dengan bijak, hutang bisa bermanfaat. Sebaliknya, bisa jadi bencana. Mempelajari perencanaan-perencanaan hutang sama pentingnya dengan usaha untuk menutupinya. Istilah gali-tutup lobang dalam berhutang, harus dienyahkan. Meskipun sulit. Camkan: bahwa sesulit-sulitnya soal ujian, selalu ada jawaban pasti.

Sosok itu menyadari untuk tak berpikir tentang banyaknya hutang. Ia telah menanamkan pada dirinya sendiri, untuk terus berusaha. Berusaha mendapatkan penghasilan. Bukan usaha mendapatkan hutangan. Hutang dijadikannya pemicu untuk bekerja lebih baik lagi. Kebutuhan selalu naik, sosok itu tak bisa membatasinya. Untuk itulah ia harus meningkatkan penghasilan, bukan membatasi kebutuhan.

Inilah komitmen untuk berhasil. Komitmen untuk terbebas dari hutang-hutang. Dan komitmen untuk membebaskan banyak orang dari kenyamanan berhutang. Jika berhutang saja sudah begitu mendilemakan, bagaimana dengan sosok yang berhutang pada rentenir? Nau’dzubillah.[]

Mari Berdoa dan Berusaha

Sampai kapan pun permasalahan hidup tidak akan pernah selesai. Entah itu sakit, kehilangan, masalah rumah tangga, ekonomi, termasuk dengan masalah cinta. Ya, permasalahan itu selalu menghantui kita. Layaknya perampok yang siap menghadang di tengah jalan sepi. Betul-betul mengerikan!

Sudah saatnya (dan harusnya sudah sedari dulu) kita terus berdoa dan berusaha, kemudian memberikan stimulus agar lingkungan yang ada di sekitar kita (terutama keluarga, syukur-syukur bisa sampai ke tetangga dan masyarakat luas) bisa ikut berdoa dan berusaha.

Continue reading “Mari Berdoa dan Berusaha”