Wajah Secerah Pelangi

Tahukah kau apa itu pelangi?
Itulah senyum alam selepas rinai
Dan di sanalah wajahmu menyembul
Berbinar meski mendung kadang muncul

Continue reading “Wajah Secerah Pelangi”

Advertisements

Wajah Peneduh Hati

Sosok itu menunggu. Kerumunan orang seolah takberhenti lewat di depan dan di belakang. Sementara kelebatan masa silam terpampang di depan mata. Saat dia bergelantungan di tengah bus, dikelilingi oleh banyak orang yang senasib. Namun wajah di depannya meneduhkan hatinya. Begitu pula saat sosok belasan tahun itu muncul kembali dari arah sana. Ya, dari arah sana. Masih wajah yang meneduhkan hatinya.

Bus itu penuh sesak, seperti hari biasanya. Hari-hari orang pulang pergi dengan bermacam tujuan. Sosok itu berdiri, takada tempat duduk tersisa. Sosok itu berdiri, meski lelah tetapi dia merasa sangat beruntung karena kepergiannya kali ini tidak sia-sia. Seorang kawan telah menunggu. Dan seorang kawan baru dikenalkan kepadanya. Saat itu, hidupnya seolah berwarna.

Continue reading “Wajah Peneduh Hati”

Senandung Wajah Jalanan

Wajah jalanan itu sumringah. Tidak ada yang bisa dibohongi pada dialog wajah. Semua menyiratkan kejujuran. Pun pada wajahnya yang sebetulnya telah lelah.
===“Sudah. Sudah. Sudah cukup memujinya,” ujarnya memotong. “Lebih baik, kita langsung bagi-bagi hasil. Itu, kan, yang kalian tunggu dari tadi. Hehehehe….”
===“Bener, Bang.”
===“Sip lah, Bang.”
===“Dari tadi, kek.”
===Wajah jalanan itu pun dengan cekatan menghitung lembaran rupiah yang ada di tangannya. Lembaran-lembaran rupiah beraneka warna yang keluar dari dompet-dompet tak bertuan.
===“Jangan protes, ya. Masing-masing akan dapet dengan adil. Mengerti?”
===“Mengerti, Bang.”
===“Ngikut aje, Bang.”
===Dan masa pembagian hibah pun selesai. Wajah-wajah sumringah semakin banyak yang terbit. Masing-masing menyembulkan giginya dari bibir yang tertarik ke atas. Mata-mata mereka tampak kelaparan saat tangan mereka memegang dan menghitung lembaran rupiah masing-masing. Hasil mencopet mereka hari ini.
===Tak lama, masing-masing pun memisahkan diri. Memencar untuk kembali memuaskan hasrat mereka yang belum terpecahkan sedari pagi. Meninggalkan wajah jalanan yang ikut puas akan hasil kerja anak buahnya.
===Setelah mengeluarkan nafas sekali tiup, wajah jalanan itu pun berjalan. Tepat ketika azan maghrib berkumandang, wajah jalanan itu telah masuk ke dalam rumah sederhananya.
===“Bapaaak!” teriak seorang anak perempuan langsung merangkul dirinya. “Pak, Gina berhasil puasa penuh hari ini. Yuk, buka bareng….”[]

NB: Cerpen ini disertakan pada Lomba CERPEN “AKU, KAMU, DAN RAMADHAN” yang diselenggarakan oleh http://cerpentigatujuh.blogspot.com/. Syarat cerpen ini sangat mudah, yaitu tidak boleh lebih dari 200 kata.